Krisis moneter 1998 menjadi salah satu masa paling berat dalam sejarah Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) anjlok drastis, dari Rp2.500 hingga sempat menyentuh Rp16.800 per dolar AS.
Dampaknya terasa di mana-mana. Harga bahan pokok melonjak, banyak perusahaan bangkrut, PHK massal, hingga muncul gelombang demonstrasi besar-besaran di berbagai daerah. Situasi makin panas setelah tragedi Trisakti dan berakhir dengan mundurnya Soeharto pada Mei 1998.
Di tengah kondisi penuh tekanan itu, BJ Habibie naik jadi presiden. Banyak pihak awalnya meragukan Habibie karena latar belakangnya bukan ekonom, melainkan insinyur pesawat terbang.
Namun dalam waktu singkat, pemerintahan Habibie justru berhasil membuat kondisi ekonomi perlahan stabil. Rupiah yang sempat terpuruk mulai menguat hingga berada di kisaran Rp6.500 per dolar AS.
Lalu apa saja langkah yang dilakukan Habibie saat itu?
1. Mengembalikan Kepercayaan Publik dan Investor
Habibie memahami bahwa krisis 1998 bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga krisis kepercayaan. Saat itu terjadi kepanikan di masyarakat, yang membuat nasabah ramai-ramai menarik uang dari bank karena takut sistem perbankan runtuh.
Pemerintah kemudian menjamin simpanan nasabah di bank agar masyarakat merasa aman. Langkah ini penting untuk menghentikan rush atau penarikan uang besar-besaran. Selain itu, pemerintah juga berupaya membangun kembali kepercayaan investor asing yang sebelumnya banyak meninggalkan Indonesia akibat kondisi politik dan ekonomi yang tidak stabil.
2. Menerapkan Kebijakan Moneter Ketat
Untuk menahan kejatuhan rupiah dan mengendalikan inflasi, pemerintah bersama Bank Indonesia menerapkan kebijakan moneter ketat. Salah satu langkah paling terasa saat itu ialah menaikkan suku bunga deposito hingga sangat tinggi. Tujuannya agar masyarakat tetap menyimpan uang dalam rupiah dan tidak berbondong-bondong membeli dolar AS.
Pemerintah juga memperketat peredaran uang dan mengawasi kondisi perbankan agar pasar keuangan tidak semakin kacau. Meski kebijakan ini membuat kredit menjadi mahal dan dunia usaha sempat kesulitan, pemerintah menilai langkah tersebut penting demi menstabilkan rupiah terlebih dahulu.
3. Merombak Sistem Perbankan Nasional
Pada Agustus 1998, pemerintah mengeluarkan paket restrukturisasi perbankan untuk menyelamatkan bank-bank yang kolaps akibat kredit macet. Lewat kebijakan ini, sejumlah bank digabung atau merger agar menjadi lebih kuat. Dari proses tersebut kemudian lahir Bank Mandiri yang sampai sekarang menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia.
Langkah ini dilakukan untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan nasional yang saat itu sedang terpuruk.
4. Membuat Bank Indonesia Independen
Habibie juga mengambil keputusan dengan memisahkan Bank Indonesia dari pengaruh langsung pemerintah.
Sebelumnya, bank sentral dinilai terlalu mudah dipengaruhi kepentingan politik penguasa. Setelah dibuat independen, BI memiliki kewenangan lebih besar untuk menjaga stabilitas moneter tanpa tekanan politik. Kebijakan ini terbukti dapat meningkatkan kepercayaan pasar dan investor, perlahan aliran modal asing mulai kembali masuk dan rupiah ikut menguat.
5. Menjaga Harga dan Pasokan Bahan Pokok
Di tengah inflasi tinggi, pemerintah juga berupaya menjaga harga kebutuhan pokok agar tidak semakin membebani masyarakat. Pemerintah melakukan operasi pasar, menjaga distribusi pangan, serta memperkuat stok logistik nasional melalui Bulog.
Tujuannya bukan membuat harga langsung murah, melainkan mencegah lonjakan harga yang tidak terkendali dan menjaga kondisi sosial tetap stabil.
Yang membuat Habibie berbeda adalah cara pandangnya terhadap ekonomi. Ia melihat krisis ekonomi seperti pesawat yang sedang kehilangan keseimbangan atau stall. Menurut Habibie, pesawat yang sedang kehilangan kendali tidak bisa langsung dipaksa melaju cepat. Yang paling penting ialah menstabilkan kondisi lebih dulu agar tidak jatuh.
Pendekatan itu kemudian diterapkan dalam kebijakan ekonominya, yaitu dengan fokus menjaga keseimbangan, memulihkan kepercayaan, dan menenangkan pasar sebelum mendorong pertumbuhan lebih jauh.
Meski masa pemerintahannya singkat, kondisi ekonomi Indonesia mulai menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan ekonomi yang sempat minus 13,13 persen pada 1998 mulai membaik menjadi 0,79 persen pada 1999. Rupiah juga perlahan menguat dan kepanikan ekonomi mulai mereda.


