Penggunaan kompor induksi dinilai lebih layak menjadi alternatif pengganti LPG dibanding penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) untuk rumah tangga.
Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa di tengah wacana pemerintah yang akan menggunakan CNG sebagai pengganti LPG.
Menurutnya, elektrifikasi memasak menggunakan kompor induksi lebih aman dan lebih mudah diterapkan dibanding penggunaan CNG yang memiliki tekanan gas tinggi.
Kalau buat saya sih, harusnya pemerintah lebih mendorong elektrifikasi memasak ketimbang CNG,”
kata Fabby.
Ia mengungkapkan bahwa, opsi penggunaan kompor induksi dinilai lebih aman dan dapat dilakukan dengan cepat.
Ketahanan Pasokan LPG
Menurutnya, pada era pemerintahan Jokowi sempat dibahas mengenai kompor induksi. Namun pada saat itu, opsi penggunaan CNG dinilai belum layak diterapkan.
Fabby menilai pemerintah juga perlu tetap fokus menjaga ketahanan pasokan LPG di tengah kondisi geopolitik global dan tingginya kebutuhan energi rumah tangga.
Fabby mengungkapkan, konsumsi LPG di Indonesia saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sehingga pasokannya harus dipastikan aman karena sangat dibutuhkan masyarakat dan pelaku UMKM.
LPG ini sensitif karena dipakai untuk memasak, termasuk UMKM juga banyak sekali tergantung pada itu,”
ujarnya.
Selain menjaga pasokan, Fabby menyebut pemerintah perlu melakukan diversifikasi sumber LPG agar ketahanan energi tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya distribusi LPG subsidi 3 kilogram perlu diperbaiki agar lebih tepat sasaran. Karena, hingga kini LPG subsidi masih bisa dibeli oleh masyarakat walaupun bukan dari kalangan kurang mampu sehingga penyalurannya belum optimal.
Harusnya yang membeli LPG subsidi memang rumah tangga miskin. Sekarang siapa saja masih bisa membeli,”
kata Fabby.



