Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat besar hingga menjadi alasan bangsa asing berupaya menguasai Nusantara selama ratusan tahun.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat berpidato di Gedung DPR, Jakarta, Rabu 20 Mei 2026. Dalam pidatonya, ia menyebut para pendiri bangsa sejak awal sudah memahami pentingnya menjaga persatuan agar kekayaan Indonesia tidak terus dieksploitasi pihak luar.
Para pendiri bangsa kita sadar bahwa apa bila pemimpin di Nusantara kita lemah, pemimpin di Nusantara tidak bersatu, maka kekayaan Nusantara akan terus diambil kekuatan di luar Nusantara,”
papar Prabowo dalam pidatonya.
Belanda Pernah Nikmati Kekayaan Nusantara
Prabowo menilai salah satu bukti besarnya kekayaan Indonesia terlihat dari kejayaan Belanda pada masa kolonial. Menurutnya, Belanda mampu menjadi salah satu negara dengan produk domestik bruto (PDB) tertinggi di dunia karena menguasai wilayah Nusantara selama ratusan tahun.
Ia menjelaskan, meski wilayah Belanda relatif kecil, negara tersebut mampu menikmati kekayaan besar dari hasil penguasaan sumber daya di Indonesia.
400 tahun telah memiliki PDB per kapita tertinggi, padahal negara dari utara ke selatan mungkin tidak sampai 8 jam naik kendaraan, dari laut ke perbatasan mungkin tidak sampai 4 jam bisa punya pdb tertinggi di dunia,”
ucapnya.
Kenapa? karena mereka menguasai Nusantara kita, mereka menguasai wilayah yang sekarang adalah Republik Indonesia,”
tegas Prabowo.

Kekayaan Harus Dinikmati Bangsa Sendiri
Dalam pidatonya, Prabowo juga menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dilakukan agar kekayaan bangsa dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan dikuasai pihak asing.
Menurutnya, para pendiri bangsa memiliki visi besar untuk menjaga kedaulatan negara sekaligus memastikan sumber daya Indonesia dapat dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat.
Prabowo menekankan pentingnya persatuan nasional agar Indonesia mampu menjaga kekayaan alam dan sumber daya strategis yang dimiliki.
Ia mengingatkan bahwa kelemahan kepemimpinan dan perpecahan di dalam negeri dapat membuka peluang bagi pihak luar untuk kembali mengambil keuntungan dari kekayaan Indonesia.
PDB Belanda vs Hindia Belanda (Indonesia) Periode Kolonial
| Tahun | PDB Belanda (Juta $USD$) | PDB per Kapita Belanda ($USD$) | PDB Indonesia (Juta $USD$) | PDB per Kapita Indonesia ($USD$) | Rasio Kesenjangan Pendapatan per Kapita |
|---|---|---|---|---|---|
| 1820 (Awal Abad ke-19) | 4.321 | 1.838 | 10.950 | 614 | 3,0 x lebih makmur |
| 1870 (Akhir Tanam Paksa) | 9.952 | 2.757 | 24.112 | 638 | 4,3 x lebih makmur |
| 1913 (Era Kebijakan Etis) | 24.946 | 4.049 | 51.180 | 904 | 4,5 x lebih makmur |
| 1938 (Puncak Kolonial Sebelum PD II) | 43.456 | 5.012 | 84.944 | 1.241 | 4,0 x lebih makmur |
(Berdasarkan Data Maddison Project Database – Nilai disesuaikan dalam Juta USD Internasional Konstan 1990 / Geary-Khamis)



