Nilai tukar rupiah ditutup anjlok 0,28 persen ke level Rp17.716 per dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026. Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 1,01 persen ke level 6.162.
Nilai transaksi tercatat sebesar Rp21,55 triliun, dengan melibatkan 40,26 miliar saham dalam 1,9 juta kali transaksi. Sebanyak 251 saham turun, 118 tidak bergerak, dan 449 naik.
Adapun IHSG pada perdagangan hari ini dibuka anjlok sebesar 6.065, dengan level tertinggi sebesar 6.171, Sedangkan level terendah di level 5.966.
Alasan Rupiah Melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, alasan ambruknya rupiah disebabkan oleh faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, investor ragu perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan tercapai.
Lalu, pelemahan rupiah juga berasal dari sentimen kemungkinan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed akan menaikkan suku bunga 50 basis poin (bps) hingga akhir tahun.
Apalagi kita melihat bahwa perang ini pun juga masih belum jelas tentang kapan akan selesai. Ada kemungkinan besar sampai tahun 2027 ini masih akan terus terjadi perang antara Iran kemudian Amerika dan Israel,”
jelasnya.
Pidato Prabowo Beri Sentimen Negatif

Dari sisi domestik, pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Paripurna DPR RI memberi sentimen negatif. Sebab, lembaga internasional S&P Global kemungkinan besar akan menurunkan peringkat rating utang Indonesia.
Kenapa? Ya karena kita melihat bahwa tentang masalah defisit fiskal yang kemungkinan melebar menekan 3 persen ini salah satu penyebab dimana S&P akan menurunkan rating,”
terangnya.
Untuk itu, Ibrahim memproyeksikan, nilai tukar rupiah akan menyentuh level Rp17.800 pada perdagangan pekan depan. Sedangkan pada pembukaan perdagangan Senin, 25 Mei 2026 rupiah diperkirakan dibuka melemah di level Rp17.710 per dolar AS.
Kemungkinan besar dalam minggu depan, di hari Senin, rupiah dibuka melemah juga di Rp17.710-Rp17.760. Untuk sepekan, kemungkinan besar di Rp17.680-Rp17.800,”
jelasnya.


