Tembok ratapan di Yerusalem dikenal sebagai situs suci umat Yahudi sekaligus simbol penting dalam sejarah Israel. Lokasinya persis di dekat komplek Al Aqsa dan setiap tahunnya selalu dipadati peziarah dan wisatawan.
Namun tahukah Anda, bahwa kawasan tersebut ternyata menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan perubahan wilayah Arab di Yerusalem Timur sejak tahun 1967.
Apa Itu Tembok Ratapan?
Melansir dari situs informasi sejarah Facts and Details (2024), Tembok Barat (Western Wall) atau yang lebih dikenal dengan Tembok Ratapan terletak di Kota Tua Yerusalem yang dipercaya sebagai bagian terakhir yang tersisa dari kompleks Bait Suci Yahudi kuno. Hal ini karena nilai sejarah dan spiritual kawasan ini punya makna penting dalam tradisi keagamaan Yahudi.
Tembok Ratapan sebenarnya adalah tembok penahan tempat berdirinya Kuis Herodes yang dibangun sekitar tahun 20 SM. Tembok ini memiliki tinggi sekitar 18 meter dengan ketebalan mencapai lima meter. Susunan bangunannya pun terdiri dari batu-batu raksasa yang beratnya mencapai puluhan ton.
Nama Tembok Ratapan sendiri merujuk pada tradisi doa dan ungkapan kesedihan yang dilakukan di depan tembok tersebut. Asal usul kesedihan ini diyakini berasal dari simbol kehilangan Bait Suci, sekaligus pengingat perjalanan panjang bangsa Yahudi selama ribuan tahun.
Hingga kini, Tembok Ratapan masih menjadi satu ikon paling terkenal di Yerusalem. Selain karena nilai spiritualnya yang tinggi, tapi juga menyimpan sejarah panjang tentang agama, budaya, dan dinamika konflik di kota suci tersebut.
Tadisi Penyelipan Doa
Masih melansir dari situs informasi sejarah Facts and Details (2024), selain menjadi tempat ibadah, Tembok Ratapan juga dikenal dengan tradisi menyelipkan catatan doa di sela-sela tembok. Kebiasan ini dilakukan oleh banyak peziarah untuk menuliskan harapan, doa atau permohonan lewat secarik kertas.
Melansir dari Israeli Center of Judaica, beberapa peziarah juga memanjatkan doa secara lisan. Hal ini berkaitan dengan tradisi orang Yahudi yaitu berdoa menghadap ke timur, ke arah Yerusalem.
Orang Yahudi percaya bahwa meski Tuhan tidak berada di satu tempat, tetapi ada tempat khusus yang cahaya-Nya lebih terang, salah satunya di Tembok Ratapan. Terlebih tempat ini adalah bagian terakhir yang tersisa dari Bait Suci kedua yang pernah berdiri megah dari masa pemerintahan Raja Yahudi.
Tradisi dan sejarah panjang Tembok Ratapan menjadikannya bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol penting bagi umat Yahudi di seluruh dunia.
Di balik kemegahan dan nilai spiritualnya, kawasan ini menyimpan kisah tentang perjalanan sejarah, budaya, hingga konflik yang terus melekat pada Kota Yerusalem sampai sekarang.

