Kembalinya Presiden ke-7 RI Joko Widodo ke panggung publik lewat rencana safari politik ke beberapa daerah memantik tafsir baru.
Bukan sekadar kunjungan silaturahmi, langkah ini kini dibaca sebagai ujian besar, apakah kehadiran Jokowi masih menjadi daya tarik politik, atau justru berisiko menjadi beban bagi pihak yang bergantung padanya.
Ketua DPP PSI, Bestari Barus memastikan agenda roadshow tersebut akan segera dimulai dari Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Barat sebagai tujuan awal.
Sudah disampaikan beliau, Lampung, NTT, Jabar. Segera,”
kata Bestari kepada wartawan, Selasa, 26 Mei 2026.
Ia menyebut, kunjungan itu dilakukan untuk memenuhi undangan masyarakat sekaligus menyapa jaringan partai dan relawan di berbagai daerah.
Aktivitas ini menjadi sorotan, karena merupakan langkah politik paling intens Jokowi setelah kembali pulih.
Jokowi Klaim Tak Ada Muatan Politik
Kepastian safari politik ini sudah diakui oleh Jokowi sendiri. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menegaskan, agenda tersebut tidak bermuatan politik elektoral. Ia menyebut, kunjungan ini murni sebagai respons atas undangan masyarakat.
Ya ini kan saya banyak undangan-undangan dari daerah-daerah untuk hadir dari masyarakat. Ya saya sudah sehat dan saya akan datangi undangan-undangan yang ada,”
kata Jokowi.
Saat disinggung soal kaitan dengan Pilpres 2029 atau dukungan terhadap Gibran Rakabuming Raka, Jokowi menegaskan kembali alasannya.
Karena ada undangan dari daerah,”
tegasnya.
Masa Keemasan Jokowi Sudah Habis
Di tengah rencana safari tersebut, kritik tajam datang dari pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga.
Ia menilai, kehadiran Jokowi kini tak lagi sekuat dulu dalam memengaruhi peta politik nasional.
Menurutnya, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) masih sangat bergantung pada figur Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas, yang hingga kini dinilai belum signifikan.
Ketergantungan terhadap Jokowi semakin besar, karena hingga saat ini elektabilitas PSI masih rendah. Hasil survei terakhir, elektabilitas PSI hanya 1,2 persen,”
kata Jamiluddin lewat keterangan pers yang dikutip, Selasa 26 Mei 2026.
Ia menilai, upaya konsolidasi internal PSI, termasuk oleh Ketua Umum Kaesang Pangarep dan jajaran pengurus, belum mampu menghasilkan lonjakan dukungan.
Nyatanya petinggi PSI tak mampu mengerek elektabilitas partainya. Karena itu, PSI tampaknya tinggal berharap pada Jokowi agar mimpinya ke Senayan dapat terwujud,”
ucapnya.
Namun menurut Jamiluddin, strategi tersebut justru berisiko tinggi. Ia menilai, pengaruh Jokowi saat ini tidak lagi dominan dan bahkan mulai memicu kontroversi.
Jokowi bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis anak bangsa untuk berpihak kepadanya. Jokowi saat ini adalah sosok kontroversial, termasuk terkait ijazahnya,”
jelasnya.
Lebih jauh ia mengingatkan, bahwa terlalu bergantung pada Jokowi bisa menjadi langkah yang kontraproduktif bagi PSI dan Wapres Gibran.
Karena itu, berharap pada Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas PSI, tampaknya akan berujung pada kekecewaan. Bahkan kehadiran Jokowi ke penjuru tanah air membawa panji-panji PSI bisa jadi akan menjadi bumerang,” ujarnya.
Di tengah perdebatan tersebut, safari Jokowi kini tak sekadar perjalanan biasa, melainkan menjadi panggung pembuktian, apakah pengaruhnya masih hidup, atau justru mulai memudar di mata publik.


