Blackout massal yang melanda sebagian Sumatra menjadi catatan bagi ketahanan sistem kelistrikan nasional. Gangguan pada satu jalur transmisi diduga jadi penyebab pemadaman listrik berskala luas di Swarnadwipa.
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengatakan sistem interkoneksi kelistrikan Sumatra memang bekerja secara saling terhubung antarwilayah, sehingga gangguan pada satu titik dapat memengaruhi stabilitas jaringan secara keseluruhan.
“Sistem interkoneksi Sumatera bekerja secara terhubung dan saling menopang antarwilayah. Apabila ada gangguan pada salah satu jalur utama transmisi, aliran daya akan berpindah ke jalur lain untuk menjaga pasokan tetap berjalan,”
kata Sofyano kepada Owrite, Selasa, 26 Mei 2026.
Meski demikian, dalam kondisi tertentu, perpindahan beban yang berlangsung sangat cepat dapat memicu sistem pengamanan yang bekerja otomatis untuk melindungi peralatan dan menjaga keselamatan jaringan listrik nasional.
Sofyano pun mencatat bahwa blackout berskala besar bukan hanya terjadi di Indonesia. Ia mencontohkan Australia Selatan pernah mengalami blackout masif pada 2016 akibat cuaca ekstrem yang memicu gangguan beruntun pada jaringan transmisi.
Bahkan Inggris pada 2019 pernah mengalami gangguan sistem kelistrikan yang menyebabkan pemadaman luas dan mengganggu transportasi publik.
“Bahkan di India pernah terjadi blackout besar yang berdampak pada ratusan juta penduduk. Belum lama ini, Spanyol dan Portugal juga mengalami gangguan kelistrikan berskala besar yang memerlukan pemulihan bertahap,”
ujar dia.
Evaluasi Nusantara
Sofyano berpendapat blackout di Sumatra tetap menjadi evaluasi ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama di tengah meningkatnya ancaman cuaca ekstrem terhadap infrastruktur energi. Dia pun menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini dan predictive maintenance guna meningkatkan keandalan jaringan transmisi dan mencegah gangguan serupa terulang.
“Di tengah tantangan cuaca yang semakin dinamis, penguatan pemantauan jaringan secara real time, pemeliharaan berbasis prediksi, dan teknologi deteksi dini menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan pasokan listrik,”
jelas dia.
Sofyano mendorong pemerintah mengembangkan backbone kelistrikan Sumatra, termasuk penguatan transmisi 500 kV dan 275 kV yang telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Pengembangan jaringan tersebut menjadi langkah strategis untuk menciptakan sistem kelistrikan Sumatra yang lebih terintegrasi dan tahan terhadap gangguan besar pada masa mendatang.




