Nilai tukar rupiah ditutup melemah sebesar 0,20 persen ke level Rp17.880 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, berdasarkan pantauan pergerakan siang hari ini, pada pukul 14.07 WIB rupiah sempat menyentuh level Rp17.900 atau melemah 31 persen.
Berdasarkan data penutupan perdagangan pasar, nilai tukar negara Asia Tenggara yang melemah hanya rupiah dan dolar Singapura (SGD). Mata uang Singapura melemah 0,18 persen melawan dolar AS.
Kemudian Ringgit Malaysia (MYR) menguat 0,28 persen, baht Thailand (THB) menguat sebesar 0,14 persen terhadap dolar AS, dan peso Filipina (PHP) menguat sebesar 0,03 persen melawan dolar AS.
Sejalan Kebijakan The Fed
Sementara itu, Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan melemahnya rupiah sejalan dengan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (the Fed) yang menahan suku bunganya di level tinggi. Kondisi ini memicu larinya arus modal asing atau capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS seperti obligasi yang menawarkan imbal hasil lebih menarik,”
ujar Ibrahim dalam riset hariannya Jumat, 29 Mei 2026.
Ibrahim mengatakan, menurunnya prospek anggaran dan pengeluaran negara yang ketat, serta kekhawatiran defisit anggaran menjadi sorotan lembaga pemeringkat kredit global seperti S&P Global, Moody’s dan Fitch Rating, juga menurunkan kepercayaan pasar.

Pembayaran Dividen Tekan Rupiah
Selain itu, tingginya permintaan dolar AS secara musiman untuk kebutuhan korporasi seperti pembayaran dividen dan kebutuhan impor rutin menekan pergerakan rupiah.
Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN,”
imbuhnya.


