Baru-baru ini viral di media sosial insiden tragis yang dialami satu keluarga asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Pasangan suami-istri, MAN (52) dan N (43), bersama dua anaknya, BAH (21) dan AEH (17), ditemukan meninggal dunia saat berwisata di Posong, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Hingga saat ini belum diketahui penyebab kematian satu keluarga tersebut. Namun, dugaan sementara korban meninggal dunia karena keracunan gas portable yang sebelumnya digunakan untuk barbeque.
Lantas, seberapa bahaya sih karbon monoksida (CO) bila terhirup hingga menyebabkan keracunan?
Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Lingkungan dari Universitas Griffith, Australia, dr Dicky Budiman, M.Sc.PH mengatakan kasus seperti ini kerap kali terjadi. Pembakaran yang dilakukan di dalam ruangan menghasilkan karbon monoksida penyebab keracunan.
Apalagi di ruangan tertutup, ventilasi minim, ini yang sering akhirnya menyebabkan fatalitas, kematian, dalam waktu yang hampir bersamaan tanpa ada tanda apa pun, karena keracunan CO itu salah satu penyebab yang sering terjadi,”
ujar dr Dicky kepada Owrite.
Apa yang Terjadi Saat Tubuh Menghirup CO?
Dokter Dicky menjelaskan karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak menimbulkan iritasi pada saluran napas. Kombinasi seperti ini yang justru menimbulkan bahaya.
Karena kalau tidak ada iritasi, tidak ada batuk-batuk, sehingga mereka sering tidak sadar, terus langsung terpapar,”
ucapnya.
Setelah karbon monoksida masuk ke dalam paru, kemudian masuk ke dalam darah. Di dalam darah, karbon monoksida ini langsung berikatan dengan hemoglobin, membentuk karboksihemoglobin.
Zat tersebut sangat berbahaya karena afinitas karbon monoksida terhadap hemoglobin itu kuat sekali, hingga 250 kali lebih kuat dibandingkan oksigen. Sehingga oksigen tidak bisa diangkut secara normal ke jaringan.
Dan ini tentu akhirnya berbahaya, karena tubuh sebenarnya masih bernapas, tapi oksigen tidak sampai ke organ vital, sehingga terjadi hipoksia jaringan. Jadi kekurangan oksigen pada otak, jantung, paru, ginjal, atau organ vital lainnya. Sehingga CO itu mengganggu fungsi mitokondria di sel, tidak bisa memanfaatkan oksigen yang tersedia,”
paparnya.
Gejala Keracunan Gas Karbon Monoksida
Dokter Dicky mengatakan penyebab kematian akibat keracunan gas banyak terjadi. Gejalanya tidak terdeteksi oleh pancaindra karena tidak tercium bau apa pun.
Biasanya diawali dengan gejala ringan, mengantuk, lemas, sakit kepala, pusing, lemas, mual, sulit konsentrasi, dan rasa mengantuk berlebihan. Kalau sampai berat bisa sampai penurunan kesadaran, kejang, koma, henti napas, henti jantung, kematian. Pada kasus saat korban ini sedang tidur, gejalanya sering seperti sakit kepala, mengantuk, tidak sadar, koma, meninggal dunia, karena enggak sempat bangun atau minta pertolongan. Dan kematiannya bisa dalam hitungan menit sampai jam. Tentu tergantung konsentrasi CO-nya, lama paparan, ukuran ruangan, ventilasi, termasuk usia korban dan penyakit penyerta,”
paparnya.
Nah seluruh anggota keluarga sering kali jadi korban yang bersamaan, karena menghirup udara yang sama. Ini yang sering ditemukan pada kasus di rumah, vila, penginapan, mobil, tenda wisata, atau kabin tertutup yang menggunakan alat pembakaran di ruang tertutup,”
sambungnya.
Antisipasi Keracunan Karbon Monoksida
Dokter Dicky mengatakan dengan adanya kejadian ini menjadi catatan bahwa perlu adanya literasi publik tentang bahaya karbon monoksida. Sebagian sudah mengenal kebocoran LPG, tapi tidak memahami bahaya karbon monoksida.
Termasuk juga pesan kepada dinas pariwisata, harus ada audit keselamatan seluruh penginapan, glamping, vila, homestay. Lihat juga ventilasi yang memadai, kemudian pemasangan detektor karbon monoksida pada fasilitas tertentu,”
tandasnya.

