Di tengah kehadiran para mantan presiden dan wakilnya, serta jajaran kabinet, eks Presiden ke-7 RI Jokowi absen dalam Upacara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, 1 Juni 2026. Hal itu memantik tanda tanya.
Ketidakhadiran Jokowi justru melahirkan berbagai spekulasi politik, termasuk isu yang menyebut dirinya menghindari pertemuan dengan Ketua Umum PDIP sekaligus Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.
Kabar yang beredar menyebut Jokowi absen karena tidak menerima undangan dari Istana. Namun, menurut Pengamat Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing absennya seorang mantan kepala negara dalam momentum nasional merupakan ketidaklaziman.
Merujuk kepada pernyataan ajudan tersebut, menurut pandangan saya, ini sesuatu yang tidak lazim. Kenapa? Karena semua mantan presiden dan wakil presiden hadir di acara kelahiran Pancasila,”
kata Emrus kepada Owrite.id, Selasa, 2 Juni 2026.
Peringatan Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni kenegaraan biasa. Momentum tersebut merupakan simbol penghormatan terhadap dasar negara yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Acara itu salah satu yang sangat penting sekali. Karena adalah lahirnya Pancasila sebagai ideologi negara, sebagai landasan berbangsa dan bernegara, sebagai landasan berperilaku di semua bidang,”
ucap Emrus.
Karena itu, Emrus menilai kehadiran mantan presiden dan wakil presiden dalam seremonial seharusnya menjadi bagian dari komitmen kebangsaan yang melampaui sekat politik.
Tafsir
Emrus berpendapat absennya Jokowi dapat dibaca sebagai simbol politik yang mengundang berbagai tafsir di tengah masyarakat.
Kalau memang beliau benar-benar tidak hadir, ini suatu simbol. Sinyal ketidakadiran itu sebagai sesuatu yang tidak lazim. Kecuali memang para mantan presiden, mantan wakil presiden sedang dirawat di rumah sakit karena sakit keras,”
tegas Emrus.
Terkait isu yang berkembang bahwa Jokowi tidak ingin bertemu Megawati dalam acara tersebut, Emrus berujar ruang spekulasi akan terus terbuka selama tidak ada penjelasan yang memadai.
Soal isu tidak mau bertemu dengan Ibu Megawati, saya pikir masyarakat bisa multitafsir, karena ketidakadiran itu merupakan simbol non-verbal,”
papar dia.
Dalam komunikasi politik, Emrus melanjutkan, ketidakhadiran sering kali bermakna sama kuatnya dengan kehadiran. Karena itu, publik bebas menginterpretasikan sebuah simbol politik termasuk penasiran yang mungkin muncul ialah Jokowi sengaja menghindari bertemu Megawati.
Kehadiran Jokowi justru menjadi cara paling sederhana untuk menghentikan berbagai spekulasi.
Sejatinya beliau hadir supaya tidak terjadi multitafsir,”
kata Emrus.

