Inflasi tahunan Indonesia meningkat sebesar 0,66 persen, dari 2,42 persen di April 2026 menjadi 3,08 persen di Mei 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Selasa, 2 Juni 2026, menunjukkan bahwa tingkat inflasi kini semakin mendekati batas atas target Bank Indonesia sebesar 1,5 – 3,5 persen.
Di tengah naiknya harga-harga dan berbagai indikator yang menunjukkan adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat, mal dan coffee shop justru masih ramai pengunjung. Namun, benarkah ini jadi bukti kalau masyarakat masih memiliki daya beli yang kuat, atau justru isyarat bahwa masyarakat sedang mengubah pola pengeluarannya?
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai, fenomena ini mirip dengan lipstick effect, yaitu ketika masyarakat tetap mengalokasikan pengeluaran untuk barang atau aktivitas yang memberikan kepuasan psikologis, di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak menentu.
Menurut Ronny, masyarakat saat ini membutuhkan ruang rekreasi dan aktivitas sosial yang terjangkau, dibandingkan membeli rumah, kendaraan, atau aset bernilai besar lainnya.
“Kopi Rp30.000-Rp60.000, nongkrong di mal, atau menikmati hiburan ringan menjadi bentuk “reward” yang masih dapat dijangkau dibandingkan membeli rumah, mobil, atau melakukan perjalanan wisata yang mahal,”
kata Ronny kepada Owrite.id.
Faktor Fenomena Lipstick Effect
Ia mengungkapkan, terdapat sejumlah faktor lain yang turut mempengaruhi fenomena ini, mulai dari perubahan gaya hidup, meningkatnya penggunaan coffee shop sebagai ruang bekerja dan bertemu, hingga kecenderungan gen z yang lebih mengutamakan experience dibandingkan kepemilikan aset.
Fenomena ini juga memiliki dua sisi. Dari segi konsumsi rumah tangga, bisa menjadi roda penggerak dan membantu menopang pertumbuhan ekonomi. Selama, masyarakat masih berbelanja di sektor makanan dan minuman, hiburan, serta ritel.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat menjadi sinyal bahwa konsumsi rumah tangga sedang menahan pengeluaran bernilai besar. Pembelian rumah, kendaraan, furniture, maupun investasi jangka panjang berpotensi ditunda karena meningkatnya kehati-hatian dalam mengelola keuangan.
“Fenomena tersebut dapat menjadi sinyal bahwa rumah tangga sedang berada dalam mode defensif dan lebih berhati-hati menghadapi ketidakpastian ekonomi,”
ujarnya.
Menurut Ronny, tekanan ekonomi seperti kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan perlambatan pendapatan menjadi faktor yang mendorong perubahan perilaku tersebut. Namun keputusan konsumsi pada akhirnya sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis, terutama persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi di masa depan.
Dalam jangka pendek, fenomena ini dinilai menguntungkan sektor makanan dan minuman (F&B), hiburan, serta UMKM yang menawarkan produk dan layanan dengan harga terjangkau. Meski dampaknya tidak sebesar konsumsi pada sektor properti dan otomotif, yang punya efek lebih besar ke perekonomian.
Karena itu, Ronny menilai keramaian di mal dan coffee shop tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kesehatan daya beli masyarakat. Fenomena tersebut bisa mencerminkan pergeseran pola konsumsi, di mana masyarakat tetap membelanjakan uangnya untuk memperoleh kepuasan dan menjaga kualitas hidup, tetapi dengan nilai pengeluaran yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya.


