Baru-baru ini, cuitan lawas Partai Gerindra yang mengkritik pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
Unggahan tersebut dibuat pada 2015 saat nilai tukar rupiah menyentuh kisaran Rp14.000 per dolar AS pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Dalam cuitannya, Partai Gerindra menyebut pelemahan rupiah sebagai tanda kegagalan pemerintah dalam mengelola ekonomi.
Dolar hampir Rp14.000, tanda kegagalan pemerintah,”
tulis akun tersebut dalam unggahan yang kini kembali beredar di platform X.
Cuitan itu memicu beragam respons dari netizen. Sebagian membandingkannya dengan kondisi saat ini, ketika nilai tukar rupiah berada di level Rp18.138 per dolar AS pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Berdasarkan per Senin, 8 Juni 2026, nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan melawan dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah amblas 57 persen atau 102 poin ke level Rp18.138 per dolar AS.
Komentar Netizen
Unggahan lama itu memicu reaksi dari netizen. Sebab di saat pelemahan nilai tukar rupiah melemah di era Presiden Parbowo, Partai Gerindra tidak memberi respon apapun.
Rp18.000 nih sekarang, pemerintah gagal dong,”
kata @coffebit.
Sekarang udah Rp18.000 1 dolar, berarti pemerintah gagal dong? Diam-diam bae,”
@ekoags.
Ini udah gagal banget sih, gagal total,”
celetuk @itsyourviird.
Pemerintah dari pimpinanmu berarti levelnya udah gagal total,”
ucap @adii_santosa.
Jilat ludah sendiri ena ya?,”
kata @zaahiiarfn.



