Saat banyak orang mengejar karier di kota besar, dr. FX Sudanto justru memilih jalan yang berbeda. Sejak lulus dari Fakultas Kedokteran UGM pada 1975, ia memutuskan mengabdikan hidupnya untuk masyarakat Papua.
Di daerah yang sulit dijangkau dan minim fasilitas, ia melayani pasien tanpa memandang kemampuan ekonomi mereka.
Tarif praktiknya terkenal murah, bahkan bagi yang tidak mampu sering kali gratis. Namun, nilai terbesar dari pengabdiannya yaitu ketulusannya yang terus bertahan selama setengah abad.
Kisah dr. FX Sudanto menjadi bukti bahwa pelayanan dan kemanusiaan dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih berharga daripada materi.
Masa Kecil dr. FX Sudanto
Melansir dari laman Lembaga Alkitab Indonesia, dr. FX Sudanto lahir di Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah, pada 5 Desember 1941.
Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya, Umar, pernah bekerja sebagai tukang bangunan pada masa penjajahan Belanda, sementara itu, ibunya, Mursila, berprofesi sebagai perawat.
Ia lahir pada masa perang dan penjajahan, sehingga kondisi tersebut turut memengaruhi pendidikannya. Akibatnya ia baru mulai bersekolah dasar pada awal 1950-an, lebih lambat dibanding anak-anak seusianya.
Awalnya, kecintaannya pada ilmu pasti dan cita-citanya sebagai guru, membuatnya ingin melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ilmu Pasti Alam Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun Ibunya yang seorang perawat, memiliki harapan lain. Yaitu ingin anaknya menjadi seorang dokter.
Setelah melalui perjuangan panjang, Sudanto akhirnya lulus dari Fakultas Kedokteran UGM pada tahun 1975. Namun, di momen bahagia kelulusannya itu, kedua orang tuanya yang selama ini mendukung dan berharap ia menjadi dokter telah lebih dahulu meninggal dunia, sehingga tidak sempat menyaksikan kelulusan putra mereka.
Tugas Pertama Pengabdian dr. FX Sudanto
Sejak lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1975, Sudanto memilih menempuh jalan pengabdian sebagai dokter Inpres di Departemen Kesehatan.
Saat itu ia diberi pilihan untuk bertugas di Irian Jaya, Kalimantan, atau Timor Leste. Tanpa ragu, ia memilih Irian Jaya yang saat itu masih kekurangan tenaga kesehatan. Baginya, jika harus mengabdi, ia ingin melakukannya di tempat yang paling membutuhkan.
Penugasan pertamanya membawanya ke wilayah Asmat. Selama enam tahun hidup dan bekerja di tengah masyarakat pedalaman, Sudanto menyaksikan langsung berbagai kesulitan yang dihadapi warga, mulai dari kemiskinan hingga keterbatasan layanan kesehatan.
Setelah menyelesaikan tugas di Asmat, Sudanto dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa Abepura. Selain bekerja di rumah sakit, ia juga membuka praktik dokter umum. Berbeda dari dokter lain, Sudanto memilih mamatok biaya yang sangat murah agar tetap dapat dijangkau oleh masyarakat.
Dikenal dengan Sebutan Dokter ‘Seceng’
Tarif praktik yang sangat murah membuat dr. FX Sudanto dikenal luas oleh masyarakat Papua dengan julukan “Dokter Seceng”.
Sebutan tersebut muncul karena pada masa awal membuka praktik di Abepura, ia hanya mematok biaya Rp1.000 atau satu “cepeng” untuk sekali berobat.
Bahkan ketika biaya hidup dan tarif layanan kesehatan terus meningkat, Sudanto tetap mempertahankan tarif yang jauh lebih rendah dibandingkan kebanyakan dokter lainnya.
Julukan “Dokter Seceng” kemudian melekat kuat di tengah masyarakat. Nama tersebut bukan sekadar menggambarkan murahnya tarif yang ia tetapkan, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan keberpihakannya kepada warga kecil dari kalangan mahasiswa, pedagang, buruh, hingga masyarakat berpenghasilan rendah.
Penghargaan dari Pengabdian Sepanjang Hayat
Melansir dari unggahan TikTok YADUPA (Yayasan Anak Dusun Papua), pada 10 Agustus 2024, dr. Sudanto menerima penghargaan dari Dewan Adat Papua (DAP).
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Sekretaris Jenderal DAP, Leonard Imbiri, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdiannya kepada masyarakat Papua selama puluhan tahun.
Selain itu, dr. Sudanto juga diketahui pernah menerima penghargaan Liputan 6 Awards kategori Kemanusiaan pada tahun 2013.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kiprahnya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya mereka yang kurang mampu.
Di luar berbagai penghargaan yang diterimanya, dr. Sudanto juga pernah terlibat dalam penelitian ilmiah internasional saat bertugas di Asmat. Ia bekerja bersama Daniel Carleton Gajdusek, dokter dan ilmuwan asal Amerika Serikat yang kemudian meraih Hadiah Nobel.
Jejak Pengabdian yang Menginspirasi
Melansir dari laman Universitas Gajah Mada (UGM), Pengabdian dr. FX Sudanto tidak hanya dirasakan oleh para pasien yang pernah ditanganinya, tetapi juga meninggalkan inspirasi bagi generasi muda Papua.
Salah satunya adalah Stanggy, seorang anak buruh bangunan yang melihat langsung ketulusan dr. Sudanto.
Mahasiswa penerima Beasiswa UKT bersubsidi 50% prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat UGM itu pernah menyaksikan keterbatasan akses kesehatan di lingkungan tempat tinggalnya.
Ia juga mengenal sosok dr. Sudanto yang dikenal sebagai “Dokter Seceng” karena tarif praktiknya yang sangat murah dan kepeduliannya terhadap warga kurang mampu.
Bagi Stanggy, keberhasilannya diterima di Fakultas Kedokteran UGM merupakan hasil kerja keras dan ketekunan selama menempuh pendidikan. Ia berharap suatu hari dapat mengabdikan diri kepada masyarakat dan membantu banyak orang, sebagaimana teladan yang ia lihat dari dr. FX Sudanto.
Selama lebih dari 50 tahun, dr. FX Sudanto menunjukkan bahwa menjadi dokter bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk melayani sesama. Ketulusan yang ia tunjukkan tidak hanya membantu ribuan pasien, tetapi juga menginspirasi lahirnya generasi penerus yang ingin mengikuti jejaknya.
Kisah dr. FX Sudanto menjadi pengingat bahwa pengabdian yang dilakukan dengan hati akan selalu meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada penghargaan maupun kekayaan.



