Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 9 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Sepak Bola
  • DPR
  • prabowo
  • MBG
  • iran
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Hype / Dokter ‘Seceng’ dari Papua, dr. FX Sudanto Mengabdi Tanpa Pamrih Selama 50 Tahun
Hype

Dokter ‘Seceng’ dari Papua, dr. FX Sudanto Mengabdi Tanpa Pamrih Selama 50 Tahun

Ossid Duha Jussas SalmaIvan OWRITE
Last updated: Juni 8, 2026 1:23 pm
Ossid Duha Jussas Salma
Ivan Syahruna Lubis
Share
dr FX Sudanto mendapat penghargaan dari Dewan Adat Papua
dr FX Sudanto mendapat penghargaan dari Dewan Adat Papua (Foto: TikTok YADUPA )
SHARE

Saat banyak orang mengejar karier di kota besar, dr. FX Sudanto justru memilih jalan yang berbeda. Sejak lulus dari Fakultas Kedokteran UGM pada 1975, ia memutuskan mengabdikan hidupnya untuk masyarakat Papua.

Daftar isi Konten
  • Masa Kecil dr. FX Sudanto
  • Tugas Pertama Pengabdian dr. FX Sudanto
  • Dikenal dengan Sebutan Dokter ‘Seceng’
  • Penghargaan dari Pengabdian Sepanjang Hayat
  • Jejak Pengabdian yang Menginspirasi

Di daerah yang sulit dijangkau dan minim fasilitas, ia melayani pasien tanpa memandang kemampuan ekonomi mereka.

Tarif praktiknya terkenal murah, bahkan bagi yang tidak mampu sering kali gratis. Namun, nilai terbesar dari pengabdiannya yaitu ketulusannya yang terus bertahan selama setengah abad.

Baca juga:
Jangan Asal Lepas Baju, Ini Adab yang Dianjurkan dalam Islam Dalam kehidupan sehari-hari, banyak umat Muslim yang telah memahami adab berpakaian sesuai…
Breadcrumbing, Tren Hubungan Modern yang Menguras Emosi Di era media sosial dan aplikasi kencan, dinamika hubungan semakin beragam. Salah…
Matius Fakhiri Jadi Calon Tunggal Ketua KONI Papua, Dukungan Cabor… Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) Calon Ketua Umum KONI Provinsi Papua resmi…
  • Jangan Asal Lepas Baju, Ini Adab yang Dianjurkan dalam Islam
  • Breadcrumbing, Tren Hubungan Modern yang Menguras Emosi
  • Matius Fakhiri Jadi Calon Tunggal Ketua KONI Papua, Dukungan Cabor Melimpah

Kisah dr. FX Sudanto menjadi bukti bahwa pelayanan dan kemanusiaan dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih berharga daripada materi.

Masa Kecil dr. FX Sudanto

Melansir dari laman Lembaga Alkitab Indonesia, dr. FX Sudanto lahir di Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah, pada 5 Desember 1941.

Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya, Umar, pernah bekerja sebagai tukang bangunan pada masa penjajahan Belanda, sementara itu, ibunya, Mursila, berprofesi sebagai perawat.

Ia lahir pada masa perang dan penjajahan, sehingga kondisi tersebut turut memengaruhi pendidikannya. Akibatnya ia baru mulai bersekolah dasar pada awal 1950-an, lebih lambat dibanding anak-anak seusianya.

Awalnya, kecintaannya pada ilmu pasti dan cita-citanya sebagai guru, membuatnya ingin melanjutkan pendidikan ke Fakultas Ilmu Pasti Alam Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun Ibunya yang seorang perawat, memiliki harapan lain. Yaitu ingin anaknya menjadi seorang dokter.

Alumni LPDP Tasya Kamila, Paparkan Capaian dan Pengabdian 2018–2023

Setelah melalui perjuangan panjang, Sudanto akhirnya lulus dari Fakultas Kedokteran UGM pada tahun 1975. Namun, di momen bahagia kelulusannya itu, kedua orang tuanya yang selama ini mendukung dan berharap ia menjadi dokter telah lebih dahulu meninggal dunia, sehingga tidak sempat menyaksikan kelulusan putra mereka.

Tugas Pertama Pengabdian dr. FX Sudanto

Sejak lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1975, Sudanto memilih menempuh jalan pengabdian sebagai dokter Inpres di Departemen Kesehatan.

Saat itu ia diberi pilihan untuk bertugas di Irian Jaya, Kalimantan, atau Timor Leste. Tanpa ragu, ia memilih Irian Jaya yang saat itu masih kekurangan tenaga kesehatan. Baginya, jika harus mengabdi, ia ingin melakukannya di tempat yang paling membutuhkan.

Penugasan pertamanya membawanya ke wilayah Asmat. Selama enam tahun hidup dan bekerja di tengah masyarakat pedalaman, Sudanto menyaksikan langsung berbagai kesulitan yang dihadapi warga, mulai dari kemiskinan hingga keterbatasan layanan kesehatan.

Setelah menyelesaikan tugas di Asmat, Sudanto dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa Abepura. Selain bekerja di rumah sakit, ia juga membuka praktik dokter umum. Berbeda dari dokter lain, Sudanto memilih mamatok biaya yang sangat murah agar tetap dapat dijangkau oleh masyarakat.

Dikenal dengan Sebutan Dokter ‘Seceng’

Tarif praktik yang sangat murah membuat dr. FX Sudanto dikenal luas oleh masyarakat Papua dengan julukan “Dokter Seceng”.

Sebutan tersebut muncul karena pada masa awal membuka praktik di Abepura, ia hanya mematok biaya Rp1.000 atau satu “cepeng” untuk sekali berobat.

Bahkan ketika biaya hidup dan tarif layanan kesehatan terus meningkat, Sudanto tetap mempertahankan tarif yang jauh lebih rendah dibandingkan kebanyakan dokter lainnya.

Julukan “Dokter Seceng” kemudian melekat kuat di tengah masyarakat. Nama tersebut bukan sekadar menggambarkan murahnya tarif yang ia tetapkan, tetapi juga menjadi simbol kepedulian dan keberpihakannya kepada warga kecil dari kalangan mahasiswa, pedagang, buruh, hingga masyarakat berpenghasilan rendah.

Penghargaan dari Pengabdian Sepanjang Hayat

Melansir dari unggahan TikTok YADUPA (Yayasan Anak Dusun Papua), pada 10 Agustus 2024, dr. Sudanto menerima penghargaan dari Dewan Adat Papua (DAP).

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Sekretaris Jenderal DAP, Leonard Imbiri, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdiannya kepada masyarakat Papua selama puluhan tahun.

Selain itu, dr. Sudanto juga diketahui pernah menerima penghargaan Liputan 6 Awards kategori Kemanusiaan pada tahun 2013.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kiprahnya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya mereka yang kurang mampu.

Di luar berbagai penghargaan yang diterimanya, dr. Sudanto juga pernah terlibat dalam penelitian ilmiah internasional saat bertugas di Asmat. Ia bekerja bersama Daniel Carleton Gajdusek, dokter dan ilmuwan asal Amerika Serikat yang kemudian meraih Hadiah Nobel.

Jejak Pengabdian yang Menginspirasi

Melansir dari laman Universitas Gajah Mada (UGM), Pengabdian dr. FX Sudanto tidak hanya dirasakan oleh para pasien yang pernah ditanganinya, tetapi juga meninggalkan inspirasi bagi generasi muda Papua.

Salah satunya adalah Stanggy, seorang anak buruh bangunan yang melihat langsung ketulusan dr. Sudanto.

Mahasiswa penerima Beasiswa UKT bersubsidi 50% prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat UGM itu pernah menyaksikan keterbatasan akses kesehatan di lingkungan tempat tinggalnya.

Ia juga mengenal sosok dr. Sudanto yang dikenal sebagai “Dokter Seceng” karena tarif praktiknya yang sangat murah dan kepeduliannya terhadap warga kurang mampu.

Bagi Stanggy, keberhasilannya diterima di Fakultas Kedokteran UGM merupakan hasil kerja keras dan ketekunan selama menempuh pendidikan. Ia berharap suatu hari dapat mengabdikan diri kepada masyarakat dan membantu banyak orang, sebagaimana teladan yang ia lihat dari dr. FX Sudanto.

Selama lebih dari 50 tahun, dr. FX Sudanto menunjukkan bahwa menjadi dokter bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk melayani sesama. Ketulusan yang ia tunjukkan tidak hanya membantu ribuan pasien, tetapi juga menginspirasi lahirnya generasi penerus yang ingin mengikuti jejaknya.

Kisah dr. FX Sudanto menjadi pengingat bahwa pengabdian yang dilakukan dengan hati akan selalu meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada penghargaan maupun kekayaan.

Tag:KemanusiaanKesehatanpapuaPengabdiansosial
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Follow:
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Amien Rais Sentil Prabowo: Kurangi ‘Omon-Omon’, Jangan Demam Panggung Tiap Lihat Mikrofon
By Rahmat Tunny
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya saat upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Gedung Pancasila, kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (1/6/2026).
1
Seskab Teddy Dikritik Keras! Gaya Komunikasi Istana Dinilai Reaktif dan Jadi Bumerang
By Hardani Triyoga
Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya. (Sumber: Setkab.go.id)
2
Pasar Saham Berdarah! IHSG Ambyar ke 5.381, Ratusan Saham Berguguran Senin Pagi
By Anisa Aulia
Warga melintas di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
3
Amien Rais Kritik Gaya Pidato Prabowo: Jangan Gebrak-gebrak, Meja Itu Tak Bersalah!
By Rahmat Tunny
Presiden Prabowo Subianto (tengah) didampingi Presiden KSPSI AGN Andi Gani Nena Wea (kiri), dan Presiden KSPI Said Iqbal (kanan) memberikan sambutan dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5/2026). Dalam May Day 2026 para buruh menuntut adanya pengesahan RUU Ketenagakerjaan, penghapusan outsourcing dan penolakan upah murah, hingga kekhawatiran terhadap dampak konflik global yang berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
4
Cadangan Devisa RI Turun Jadi US$144,9 Miliar Imbas Stabilisasi Rupiah dan Bayar Utang
By Anisa Aulia
Gedung Bank Indonesia.
5

BERITA LAINNYA

Viral! Netizen Bikin Game
Hype

Viral! Netizen Bikin Game Bingo Pidato Prabowo, Netizen: Teka-Teki Subianto

Pidato Presiden Prabowo di berbagai kesempatan memang selalu menjadi perbincangan hangat di…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
8 jam lalu
wallet dormant btc digugat noah doe
Hype

3,7 Juta Bitcoin Tiba-Tiba Diperebutkan, Seorang Pria Mengaku Berhak atas Aset Rp4.600 Triliun

Selama bertahun-tahun, komunitas kripto memiliki satu kebiasaan yang hampir dianggap sakral: Kalau…

Hafidz Nc
By
Hafidz Nc
11 jam lalu
Istilah doppelganger
Hype

Apa Itu Doppelganger? Fenomena Orang yang Memiliki Wajah Mirip

Doppelganger adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki wajah atau…

Hilwa UrwatulSyifa Fauziah
By
Hilwa Urwatul Wutsqa
Syifa Fauziah
11 jam lalu
Momen Syailendra, Pendamping Garuda menangis
Hype

Viral! Pendamping Garuda Menangis di GBK saat Indonesia Raya, Perjuangannya Bikin Haru

Seorang pendamping Garuda (player escort) cilik bernama Syailendra Ahmad Budiyanto mendadak jadi…

Ani RatnasariSyifa Fauziah
By
Ani Ratnasari
Syifa Fauziah
11 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up