Setiap gelaran Piala Dunia, suporter Jepang kerap mencuri perhatian dunia karena kebiasaan mereka membersihkan sampah di stadion usai pertandingan. Tak hanya itu, ruang ganti tim nasional Jepang juga beberapa kali menjadi sorotan karena selalu ditinggalkan dalam keadaan bersih dan rapi.
Di balik kebiasaan tersebut, terdapat sebuah nilai budaya yang sudah mengakar kuat dalam masyarakat Jepang, yakni souji (掃除) tradisi membersihkan lingkungan yang bukan hanya bertujuan untuk menjaga kebersihan, tetapi juga membentuk karakter dan rasa tanggung jawab.
Apa Itu Souji?
Secara harfiah, souji berarti membersihkan atau menyapu. Namun dalam budaya Jepang, istilah ini punya makna yang lebih dalam lagi.
Souji merupakan praktik membersihkan ruang yang digunakan, baik rumah, sekolah, kantor, hingga fasilitas umum. Tradisi ini mengajarkan bahwa seseorang memiliki tanggung jawab untuk merawat tempat yang telah digunakan, bukan menyerahkan sepenuhnya kepada petugas kebersihan.
Karena itu, banyak sekolah Jepang tidak memiliki petugas kebersihan khusus. Karena setiap hari siswa bergiliran membersihkan ruang kelas, koridor, toilet, hingga halaman sekolah.
Melalui kebiasaan tersebut, anak-anak diajarkan bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama.
Filosofi “Tatsu Tori Ato wo Nigosazu“
Tradisi souji juga berkaitan erat dengan sebuah peribahasa Jepang yang terkenal, yakni “Tatsu Tori Ato wo Nigosazu” (立つ鳥跡を濁さず). Menurut artikel yang dimuat media Jepang Oggi.id, ungkapan tersebut telah digunakan selama berabad-abad untuk menggambarkan pentingnya meninggalkan suatu tempat dengan baik dan tanpa menimbulkan masalah bagi orang lain.
Secara harfiah, ungkapan tersebut berarti “burung yang terbang pergi tidak mengeruhkan air yang ditinggalkannya”. Makna yang terkandung di dalamnya bisa diartikan sebagai, seseorang sebaiknya meninggalkan tempat atau situasi dengan cara yang baik, tanpa menyisakan masalah maupun kekacauan.
Dalam kehidupan sehari-hari, filosofi ini sering diterapkan saat seseorang pindah rumah, resign dari pekerjaan, lulus sekolah, atau meninggalkan suatu tempat setelah digunakan.
Tak heran jika masyarakat Jepang terbiasa merapikan kembali ruangan, membersihkan meja makan, hingga memastikan area publik tetap bersih setelah dipakai.
Mengapa Souji Dianggap Penting?
Bagi masyarakat Jepang, bersih-bersih bukan hanya soal fisik, melainkan juga latihan mental.
Dalam ajaran budaya Jepang yang dipengaruhi nilai Shinto dan Zen, kebersihan sering dikaitkan dengan kemurnian hati dan ketertiban pikiran. Saat seseorang membersihkan lingkungan sekitar, ia juga sedang melatih disiplin, kesadaran diri, dan rasa hormat kepada orang lain.
Nilai tersebut membuat aktivitas sederhana seperti menyapu atau memungut sampah memiliki makna sosial yang besar.
Kebiasaan yang Bisa Meningkatkan Kebahagiaan
Menariknya, berbagai penelitian psikologi juga menemukan fakta bahwa, tindakan yang menunjukkan rasa syukur dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar dapat memberikan dampak positif bagi kondisi mental seseorang.
Dalam kajian psikologi positif yang dipopulerkan psikolog Amerika, aktivitas yang menumbuhkan rasa terhubung dengan orang lain dan menunjukkan apresiasi terbukti mampu meningkatkan perasaan bahagia serta kepuasan hidup.
Media olahraga Jepang Real Sports mencatat bahwa, tindakan yang mencerminkan rasa syukur dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar memiliki keterkaitan dengan peningkatan kebahagiaan dan performa individu.
Meski souji bukan bagian dari penelitian tersebut secara langsung, nilai yang terkandung di dalamnya yakni rasa syukur, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap lingkungan memiliki kesamaan dengan faktor-faktor yang mendukung kesejahteraan psikologis.
Budaya souji tidak hanya terlihat di lingkungan pendidikan. Kebiasaan itu juga tampak dalam berbagai acara publik.
Salah satu contoh yang paling sering mendapat sorotan adalah aksi suporter Jepang yang memungut sampah setelah pertandingan sepak bola internasional. Bahkan ketika tim mereka kalah, para pendukung tetap membersihkan area tribun sebelum pulang.
Menurut laporan yang dimuat Yahoo! Japan News, budaya ini diyakini memiliki akar panjang. Salah satu kisah yang sering disebut adalah aksi pendukung klub perusahaan farmasi Tanabe pada final Piala Kaisar Jepang tahun 1981. Meski tim yang didukung kalah, para suporter tetap membersihkan tribun sebelum meninggalkan stadion.
Bagi banyak orang Jepang, tindakan tersebut bukanlah upaya mencari pujian, melainkan kebiasaan yang telah diajarkan sejak kecil.


