Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) menyoroti meningkatnya angka kriminalitas jalanan di sejumlah daerah.
Dalam Diskusi Kebangsaan di Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026, FWK menilai tren tersebut tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat.
Koordinator FWK Raja Parlindungan Pane mengatakan, meningkatnya kriminalitas perlu mendapat perhatian serius dari Polri.
Menurut Raja, perlu adanya perhatian serius dari Polri sebagai institusi penegak hukum. Apalagi kasus kriminalitas tidak hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga dilaporkan meningkat di sejumlah daerah lain.
Sebagai institusi profesional dan modern, Polri harus menunjukkan bahwa polisi bisa diandalkan dan selalu hadir memberi rasa aman,”
kata Raja.
Selain itu, peserta diskusi juga menilai meningkatnya kriminalitas tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekonomi yang sedang dirasakan sebagian masyarakat.
Mantan wartawan senior Kompas Moh Nasir, mencontohkan keterlambatan pembayaran Iuran Pengelolaan Lingkungan (IPL) di sejumlah kawasan perumahan sebagai indikator menurunnya daya beli masyarakat.
Untuk Iuran Pengelolaan Lingkungan (IPL) saja, bayarannya sudah mulai nunggak, telat bayar. Ini cerminan daya beli masyarakat menurun akibat macetnya sektor rill,”
kata Moh Nasir.
Menurut Nair, tekanan ekonomi saat ini mulai dirasakan hingga ke tingkat rumah tangga.
Sementara Pemimpin Redaksi Mitrapol.com Rachmat, menilai patroli dan razia perlu diperkuat untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Tokoh senior FWK AR Loebis, juga mengingatkan pemerintah agar segera merespons keresahan yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurutnya, keresahan yang tidak ditangani dengan baik berpotensi memicu gejolak sosial yang lebih luas.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Dewan Pers periode 2019-2022 Hendry Ch Bangun menilai pemerintah perlu meningkatkan kredibilitas dalam mengelola perekonomian nasional.
Ia menyebut kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi ditengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia.
Hendry bahkan mencontohkan penerbitan obligasi dolar AS oleh Danantara senilai 1,5 miliar dollar AS yang mendapat respons positif dari investor.
Menurutnya, respons tersebut menjadi salah satu indikator kepercayaan pasar yang perlu dijaga pemerintah.
Sementara itu, Koordinator Bidang Ekonomi FWK Herry Sinamarata menilai sebagian tantangan ekonomi Indonesia juga dipengaruhi kondisi global.
Ia menyebut gejolak energi dan konflik geopolitik internasional turut memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional.



