Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,61 persen ke level 6.209 pada pembukaan perdagangan Jumat, 19 Juni 2026.
Nilai transaksi tercatat Rp1,2 triliun, dengan melibatkan 1,8 miliar saham dalam 109 ribu kali transaksi. Ada 126 saham turun, 171 tidak bergerak, dan 342 naik.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman memperkirakan IHSG akan menguat pada perdagangan hari ini. Setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya melemah 0,78 persen, yang disertai net sell asing pada reguler market sebesar Rp893 miliar.
“Melihat hal tersebut, kami memperkirakan IHSG hari ini sideways cenderung menguat,”
kata Fanny dalam analisis harian, Jumat, 19 Juni 2026.
Bursa Asia
Adapun pergerakan bursa saham Asia bervariatif pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026. Sebab, pasar masih mencermati kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Israel.
“Pasar masih mencermati perkembangan implementasi kesepakatan tersebut mengingat ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya mereda. Kesepakatan itu memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu selama 60 hari tambahan, untuk memberi ruang bagi kedua negara merundingkan perjanjian damai permanen,”
tutur Fanny.
Sementara, untuk indeks Nikkei 225 Jepang melesat 1,65 persen, dan Topix menguat 1,37 persen. Kemudian di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak 2,25 persen, sedangkan Kosdaq terkoreksi 3,01 persen.
Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong turun 1,59 persen, Taiex Taiwan naik 1,28 persen dan ASX 200 Australia melemah 0,62 persen. Lalu FTSE Straits Singapura menguat 0,08 persen, dan FTSE KLCI Malaysia naik 0,70 persen.
Lantas untuk perdagangan hari ini Fanny memperkirakan IHSG akan menguat di level support 6.130 hingga 6.080. sedangkan level resist di level 6.200 hingga 6.230.
Sorotan MSCI
Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan penilaian Indonesia pada kriteria arus informasi pasar (information flow), dari positif menjadi negatif. Penurunan salah satunya karena kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.
MSCI menyoroti kesetaraan hak bagi investor asing. Sebab informasi terkait struktur kepemilikan saham pada perusahaan tidak selalu tersedia dalam bahasa Inggris. Lembaga pemeringkat ini turut menyoroti praktik perdagangan terkoordinasi.
“Information flow (berubah) dari positif menjadi negatif. Masalah terkait kelayakan investasi masih ada akibat keterbatasan transparansi dalam struktur kepemilikan saham, serta perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga yang wajar. Informasi pasar saham yang terperinci tidak selalu diungkapkan dalam bahasa Inggris,”
tulis MSCI dalam laporannya.

























