Jumlah korban tewas di Lebanon Selatan imbas serangan Israel terus meningkat menjadi 28 orang. Padahal, gempuran Israel itu dilakukan setelah ada kesepakatan senjata dengan kelompok Hizbullah.
Melansir dari Middle East Monitor, Minggu, 21 Juni 2026, tentara Israel melancarkan serangan udara terhadap kota-kota di Lebanon selatan, yaitu Nabatieh, Tyre, dan Sidon sejak dini hari.
Serangan udara Israel menargetkan kota Qanarit di Sidon dengan menewaskan tujuh orang. Serangan itu juga melukai 13 lainnya. Data itu dari Direktorat Pertahanan Sipil Lebanon.
Sementara itu, 16 orang lainnya dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Nabatieh.
Sebelumnya, serangan udara Israel di kota Barish di Tyre menewaskan empat anggota keluarga yang sama, termasuk dua anak. Satu orang lagi tewas di kota Suhmur, Lebanon timur.
Direktorat Pertahanan Sipil melaporkan timnya mengevakuasi 47 orang ke daerah aman dan mengangkut 16 jenazah serta 12 orang yang terluka ke rumah sakit.
Serangan terbaru Israel ini juga terjadi setelah adanya kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah. Gencatan senjata itudimulai pada pukul 16.00, Sabtu waktu setempat.
Gencatan senjata Israel dan Hizbullah itu untuk menghormati kesepakatan damai antara AS dengan Iran. Sebab, salah satu poin kesepakatan damai AS dan Iran adalah saling menghormati untuk tak memulai perang. Begitu pun dengan pihak sekutu terdekat.
Kelompok Hizbullah selama ini aktif membantu Iran dalam konflik melawan AS-Israel sejak perang pecah mulai 28 Februari 2026. Saat Iran dikeroyok AS-Israel, Hizbullah turut membantu Teheran.
Pasukan Hizbullah sering menembaki wilayah Israel dengan drone dan roket.
Adapun serangan militer Israel di Lebanon sudah menewaskan lebih dari 3.980 orang dan melukai lebih dari 12.000. Serangan Israel juga memicu lebih dari 1 juta penduduk mengungsi sejak 2 Maret 2026.
Serangan terbaru ini juga terjadi setelah adanya kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah, yang telah dimulai pada pukul 16.00 waktu setempat.




















