Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan pernyataan yang menyindir sekutu terdekatnya, Amerika Serikat (AS). Netanyahu mengatakan Israel mesti mengurangi ketergantungannya terhadap dukungan asing dan membangun sistem persenjataan independen.
Omongan politikus yang akrab disapa Bibi itu disampaikan setelah adanya perbedaan pendapat antara Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.
Berbicara dalam pertemuan dengan perwira tempur cadangan di blok pemukiman Gush Etzion di Tepi Barat, Netanyahu mengatakan Israel menghargai bantuan yang diterima dari Washington. Namun, Israel mesti perkuat kemampuan sendiri.
Saya sangat menghargai dukungan yang diterima Israel dari teman-teman Amerika kami. Tetapi, kami perlu melepaskan diri dari ketergantungan dan membangun sistem persenjataan independen kami sendiri,”
kata Netanyahu dikutip dari Ynet, Rabu, 24 Juni 2026.
Netanyahu menambahkan bahwa Israel harus terus perluas kekuatan militer dan kemampuan teknologinya. Ia bilang Israel mesti melepaskan diri dari ketergantungan.
Membangun kekuatan yang semakin besar, memperkenalkan semakin banyak teknologi, melatih semakin banyak generasi komandan seperti Anda. Karena itulah yang pada akhirnya akan menentukan di mana kita akan berada,”
jelas Netanyahu.
Pernyataan Netanyahu muncul di tengah meningkatnya perselisihan di kalangan politik dan keamanan Israel mengenai nota kesepahaman antara AS dan Iran. Selain itu, implikasi potensialnya terhadap pengakhiran perang di front Lebanon.
Sebelumnya, pada Kamis lalu, 18 Juni 2026, Wakil Presiden AS JD Vance mengkritik keras para menteri dalam pemerintahan Netanyahu yang menentang proses kesepakatan damai AS-Iran.
Jika saya berada di Kabinet pemerintahan Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang tersisa di seluruh dunia,”
ujar Vance.
Vance pun menyinggung bahwa selama tiga bulan terakhir, dua pertiga dari senjata pertahanan Israel sudah dibuat oleh tangan-tangan AS. Ia menuturkan banyak senjata Israel yang dibayar dengan uang pajak Amerika.
Yang jadi masalah bagi Israel bukanlah Donald J. Trump. Tapi, masalah terbesar mereka adalah mereka perlu bangun dan menyadari realitas situasi yang dihadapi negara itu,”
jelas Vance.
Sebagai informasi, Iran dan AS sudah mengumumkan kesepakatan peta jalan perdamaian pada 14 Juni lalu. Kedua negara mencapai kesepahaman 14 poin yang dimediasi oleh Pakistan.
Kesepakatan peta jalan damai itu bertujuan untuk mengakhiri perang dan mengatasi perselisihan yang belum terselesaikan melalui dialog dan negosiasi.
Memorandum dikenal sebagai Kesepahaman Islamabad itu diteken secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.
Beberapa poin perjanjian itu mencakup ketentuan terkait pengakhiran perang termasuk di Lebanon. Selain itu, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pencabutan blokade angkatan laut AS yang dikenakan pada Iran.









![Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026). [Foto: ANTARA FOTO/Fauzan].](https://www.owrite.id/wp-content/uploads/2026/06/Mahasiswa-temui-Wapres-Gibran-di-Istana-Wapres_Owrite-300x169.webp)







