Makassar dikenal sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia Timur yang kaya akan budaya, kuliner, dan keramahan warganya. Tak heran jika kota ini menjadi destinasi favorit bagi wisatawan. Namun, seperti daerah lain di Indonesia, Makassar juga memiliki sejumlah aturan tak tertulis yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.
Jika berencana berkunjung, ada baiknya mengenali beberapa aturan tak tertulis berikut agar pengalaman liburan Anda di Makassar semakin menyenangkan merangkum dari berbagai sumber.
Falsafah Kehidupan Masyarakat Makassar
Aturan tidak tertulis di Makassar berakar kuat pada falsafah hidup masyarakat Bugis-Makassar, yaitu Siri’ na Pacce. Siri’ dimaknai sebagai menjaga harga diri, kehormatan, dan rasa malu, sementara Pacce mencerminkan solidaritas, empati, serta kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai tersebut kemudian terwujud dalam berbagai norma sosial dan kebiasaan yang masih dijunjung tinggi hingga kini. Mulai dari cara berinteraksi, menghormati orang lain, hingga etika dalam kehidupan sehari-hari. Berikut 6 aturan tak tertulis yang perlu diperhatikan.
1. Mengucapkan “Tabe” saat Lewat atau Meminta Tolong
Tabe ini biasanya diucapkan sambil sedikit membungkukkan badan ketika melewati orang yang lebih tua, memotong jalan, atau saat hendak meminta bantuan. Meski terdengar sederhana, mengabaikan kebiasaan ini bisa dianggap kurang sopan.
2. Jangan Langsung Menolak Hidangan saat Bertamu
Keramahan masyarakat Makassar sering kali diwujudkan dengan menyuguhkan makanan atau minuman kepada tamu. Ketika mendapat suguhan, usahakan untuk setidaknya mencicipi sedikit sebagai bentuk penghargaan kepada tuan rumah.
Tidak harus menghabiskan seluruh hidangan, tetapi mencicipinya menunjukkan itikad baik dan rasa hormat.
3. Nada Bicara Tegas Bukan Berarti Kasar
Bagi pendatang, cara berbicara orang Makassar mungkin terdengar keras atau bernada tinggi. Namun tetap ada batas antara berbicara tegas dan bersikap kasar. Dalam budaya Bugis-Makassar dikenal nilai “sipakatau”, yaitu saling menghargai dan memanusiakan sesama. Karena itu, boleh berbicara tegas, namun bukan kasar.
4. Jangan Berkendara Santai di Lajur Kanan Tol
Aturan tidak tertulis bagi pengendara yang melintas di jalan tol sekitar Makassar yakni menggunakan lajur kanan hanya untuk mendahului kendaraan lain. Jika ingin berkendara dengan kecepatan normal atau santai, sebaiknya tetap berada di lajur kiri. Terlalu lama berada di lajur kanan berpotensi menyebabkan kemacetan.
5. Tidak Langsung Tidur Setelah Makan
Dalam masyarakat Bugis-Makassar dikenal petuah, Pemmali pura manre nappa matinro, menre’i salompongnge, yang berarti dilarang langsung tidur setelah makan. Anjuran ini juga berkaitan dengan fungsi kesehatan. Banyak orang tua mengingatkan agar seseorang berjalan atau beraktivitas ringan terlebih dahulu setelah makan sebelum beristirahat.
6. Tidak Menggantung Sarung di Leher
Terdapat pemali yang melarang menggantungkan sarung di leher. Dalam petuah tradisional disebutkan, Diappemmaliangngi gattung lipa ri ellongnge, yang secara turun-temurun dimaknai sebagai larangan karena dianggap membawa pertanda buruk. Selain itu, sebagian tokoh adat menafsirkan larangan tersebut sebagai pengingat agar seseorang selalu waspada.
Dengan mengenal dan menghargai kebiasaan tersebut, pengalaman berkunjung ke Makassar tidak hanya menjadi lebih nyaman, tetapi juga memberikan kesempatan untuk memahami kekayaan budaya lokal yang masih terjaga hingga saat ini.
























