Kalau denger kata Gurindam Dua Belas, mungkin banyak orang langsung kebayang-bayang pelajaran Bahasa Indonesia waktu sekolah.
Padahal, karya sastra ciptaan Raja Ali Haji yang ditulis pada 1847 ini ternyata masih relevan hingga sekarang, lho.
Meski sudah berusia hampir 200 tahun, isi Gurindam Dua Belas ternyata masih terasa dekat dengan kehidupan saat ini.
Lantas, pasal mana saja yang paling relate dengan kehidupan Gen Z? Mengutip dari Ripositori Kemendiksmen, berikut lima pasal Gurindam Dua Belas yang masih relevan dengan kehidupan gen z.
1. Pasal Tiga: Belajar Mengendalikan Diri
Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat.
Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjalan yang membawa rugi.
Pasa ini mengingatkan kita untuk menjaga seluruh tubuh agar digunakan untuk hal-hal baik saja. Anggota tubuh kita membentuk perilaku kita.
Karena itu Raja Ali Haji mengingatkan kita untuk tidak berlebihan dan mengendalikan hawa nafsu.
Pesan ini semakin terasa dekat dengan gen z yang tiap hari selalu mengkonsumsi media sosial. Ini mengingatkan kita kalau ngak semua yang muncul di FYP itu perlu kita tonton, percaya, atau komentari.
Kamu juga sesekali perlu mengurangi doom scrolling, lebih selektif memilih konten, dan menghindari gaya hidup yang berlebihan. Ini merupakan contoh pengendalian diri yang bisa kamu lakukan.
2. Pasal Empat: Think Before You Comment
Hati itu kerajaan di dalam tubuh,
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.
Dalam tubuh kita, hati itu ibarat kerjaan. Artinya apa? Hati kita adalah pusatnya pembentukan pribadi, mau jadi orang baik atau sebaliknya.
Kalau hati mu penuh dengan rasa iri, dengki, amarah, atau kebohongan, fix pasti kamu juga akan melakukan tindakan yang dalam tanda kutip akan menyimpang dari hati nurani.
Mengumpat emang perbuatan yang tercela, tapi memuji terlalu berlebihan juga bisa jadi perbuatan tercela apalagi memang ada maksud tertentu.
Sama aja dengan amarah, jika di pendam terus-terusan kamu bisa saja kehilangan akal.
Kalau dilihat, sekarang ini eranya internet. Kalau dulu istilahnya “mulutmu harimaumu” peribahasa ini berubah jadi “jempolmu harimaumu” makanya sebelum kamu berkomentar atau menghakimi seseorang di medsos, gak ada salahnya pikir ulang sebelum posting.
Sebab, satu kalimat yang ditulis karena emosi sesaat bisa saja melukai orang lain atau bahkan berbalik merugikan diri sendiri.
3. Pasal Tujuh: Jangan Asal Percaya yang Viral
Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta.
Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.
Pasal ini mengajarkan kita kalau, kebohongan itu bisa aja muncul karena kita terlalu banyak omong. Makannya, jangan asal mempercayai kabar yang datang tanpa crosscheck sumbernya.
Gurindam Dua Belas merupakan tuntunan moral yang membentuk karakter manusia, termasuk dalam menjaga ucapan dan bersikap bijaksana saat menerima informasi.
Ini jadi pengingat kalau tidak semua informasi yang viral di medsos itu benar. Makanya, sebelum ikut share dan komentar di postingan orang lain. berita atau berkomentar, crosscheck dulu sumbernya.
Selain itu, cara berbicara yang santun pun akan lebih mudah diterima dibandingkan kata-kata kasar atau umpatan yang akhirnya viral dan memicu perdebatan.
4. Pasal Sebelas: Jadi Orang yang Bisa Dipercaya
Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa.
Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.
Hendak marah,
Dahulukan hujjah.
Hendak ramai,
Murahkan perangai.
Di sekolah, kampus, organisasi, maupun dunia kerja, kepercayaan itu adalah kunci.
Pasal ini mengajarkan kita pentingnya memberi manfaat bagi orang lain, menjaga amanah, menghindari pengkhianatan, serta mengedepankan data dibanding emosi. Nilai-nilai ini jadi bagian dari pendidikan karakter.
Dari zaman ke zaman, kepercayaan itu hal yang penting. Makanya ketika kamu diberi tanggung jawab, usahakan menyelesaikannya dengan baik.
Dan saat kamu berbeda pendapat dengan orang lain, utamakan diskusi dengan alasan yang logis, yang diserang argumennya bukan fisik atau kepribadiannya.
Sikap ramah dan menghargai orang lain adalah cerminan dari kualitas pribadi seseorang, dan orang yang berkualitas akan selalu dibutuhkan di mana pun.
5. Pasal Duabelas: Kepemimpinan yang Adil
Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.
Pasal terakhir membahas tentang kepemimpinan yang baik. Seorang pemimpin perlu bekerja sama dengan orang-orang di sekitarnya, menegakkan keadilan, serta menghargai mereka yang memiliki ilmu pengetahuan.
Pesan ini tidak hanya berlaku bagi pemimpin negara, tetapi juga siapa saja yang dipercaya memimpin, mulai dari ketua kelas, ketua organisasi, hingga koordinator tim di tempat kerja.
Hampir dua abad sejak pertama kali ditulis, Gurindam Dua Belas membuktikan bahwa karya sastra klasik bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga menyimpan nilai yang tetap hidup hingga sekarang.
Di tengah perkembangan teknologi, media sosial, dan perubahan gaya hidup, pesan Raja Ali Haji tentang pengendalian diri, menjaga hati, bijak berbicara, memegang amanah, serta menghargai ilmu masih menjadi bekal penting bagi setiap generasi.
Teknologi mungkin terus berkembang dan tren media sosial akan terus berganti. Namun, nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, berpikir kritis, dan saling menghargai tampaknya memang tidak akan pernah ketinggalan zaman.





















