Pernah merasa gejala GERD semakin sering muncul ketika sedang dilanda banyak pikiran? Kondisi tersebut ternyata bukan sekadar perasaan.
Stres, kecemasan, hingga kebiasaan overthinking diketahui dapat memengaruhi kesehatan saluran cerna dan memperburuk gejala Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Menurut dokter spesialis penyakit dalam dr. Fachrial Imam, Sp.PD meski overthinking tidak secara langsung menyebabkan GERD, tekanan emosional yang berlangsung lama dapat memengaruhi sistem saraf dan hormon tubuh yang berkaitan erat dengan fungsi saluran cerna.
Banyak pasien datang dengan keluhan GERD yang sering kambuh saat sedang mengalami tekanan pekerjaan atau masalah pribadi. Karena itu, penanganan GERD tidak hanya berfokus pada obat-obatan, tetapi juga perubahan gaya hidup dan pengelolaan stres yang baik,”
jelas dr Fachrial.
Saat seseorang mengalami stres atau kecemasan berlebih, tubuh menghasilkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.
Peningkatan hormon tersebut dapat memengaruhi produksi asam lambung, memperlambat proses pencernaan, serta meningkatkan sensitivitas saluran cerna terhadap rasa nyeri dan ketidaknyamanan.
Akibatnya, penderita GERD dapat merasakan gejala yang lebih berat ketika sedang mengalami tekanan emosional.
Pada sebagian orang, keluhan seperti dada terasa panas, sesak, atau tenggorokan tidak nyaman bahkan muncul lebih sering ketika tingkat stres meningkat.
Tak jarang terbentuk siklus yang berulang. Gejala GERD memicu rasa tidak nyaman dan kekhawatiran, kemudian kekhawatiran tersebut menimbulkan stres yang akhirnya memperparah gejala GERD itu sendiri.
Gejala GERD yang Perlu Diwaspadai
Beberapa gejala yang umum dialami penderita GERD meliputi:
- Sensasi terbakar pada dada atau ulu hati.
- Rasa asam atau pahit yang naik ke tenggorokan.
- Sering bersendawa.
- Perut terasa penuh atau kembung.
- Mual setelah makan.
- Batuk kronis, terutama pada malam hari.
- Suara serak atau tenggorokan terasa mengganjal.
- Gangguan tidur akibat rasa tidak nyaman pada dada dan tenggorokan.
Selain memengaruhi kondisi tubuh secara langsung, overthinking juga sering diikuti perubahan pola hidup, seperti makan tidak teratur, kurang tidur, mengonsumsi kopi secara berlebihan, hingga memilih makanan yang kurang sehat. Kebiasaan-kebiasaan tersebut diketahui dapat menjadi pemicu kambuhnya GERD.
Pola Makan Lebih Ramah bagi Penderita GERD
Selain menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter, pengaturan pola makan menjadi langkah penting dalam mengendalikan gejala GERD.
Beberapa pilihan makanan yang umumnya lebih nyaman dikonsumsi penderita GERD antara lain:
- Karbohidrat kompleks
Karbohidrat kompleks lebih mudah dicerna dan memberikan rasa kenyang lebih lama, seperti oatmeal, nasi merah, roti gandum, kentang rebus, dan ubi kukus. - Protein rendah lemak
Protein rendah lemak membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa memicu produksi asam lambung berlebihan. Pilihannya antara lain dada ayam tanpa kulit, ikan laut, tahu, tempe, dan putih telur. - Sayuran non-asam
Sebagian besar sayuran mengandung serat yang baik untuk pencernaan, seperti brokoli, wortel, buncis, bayam, labu, dan timun. - Buah yang tidak terlalu asam
Buah tetap penting dikonsumsi, tetapi pilih yang tidak mudah memicu refluks, seperti pisang, melon, pepaya, semangka, dan pir.
Makanan Sebaiknya Dibatasi
Pada sebagian penderita GERD, beberapa jenis makanan dan minuman dapat memicu kekambuhan gejala, di antaranya makanan pedas, makanan tinggi lemak dan gorengan, makanan cepat saji, cokelat, kopi dan minuman berkafein, minuman bersoda, minuman beralkohol, buah yang sangat asam seperti jeruk dan lemon, serta makanan dengan saus tomat berlebihan.
Meski demikian, pemicu pada setiap orang dapat berbeda sehingga penting mengenali makanan yang memicu gejala pada diri masing-masing.
Cara Mengurangi Overthinking Sekaligus Menjaga Lambung Tetap Sehat
Karena kesehatan mental dan kesehatan pencernaan saling berkaitan, pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam pengendalian GERD.
Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan antara lain berjalan santai, latihan pernapasan, olahraga intensitas ringan hingga sedang, menulis jurnal, menjaga kualitas tidur, serta membatasi paparan media sosial secara berlebihan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gejala GERD lebih dari dua kali dalam seminggu, kesulitan menelan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, muntah berulang, atau nyeri dada yang berat.
GERD bukan hanya persoalan lambung. Kondisi psikologis seperti stres dan overthinking juga dapat berperan dalam memperburuk gejalanya.
Karena itu, menjaga kesehatan pencernaan perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pola makan yang tepat, gaya hidup sehat, serta pengelolaan stres yang baik.
Dengan memahami hubungan antara pikiran dan kesehatan tubuh, masyarakat diharapkan lebih sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan fisik dan mental demi kualitas hidup yang lebih baik.




















