Pakar hubungan internasional Dinna Prapto Raharja menilai keputusan awal pemerintah RI yang hanya mengirim Duta Besar (Dubes) ke Teheran untuk menghadiri prosesi penghormatan mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai langkah yang keliru.
Menurutnya, ada tiga pertimbangan strategis yang jadi alasan RI setidaknya mengirim delegasi tingkat tinggi ke Iran. Pertama, berkaitan dengan konsistensi politik luar negeri RI yang selama ini menjunjung tinggi prinsip kedaulatan negara dan hukum internasional.
Ia menilai serangan terhadap Iran terjadi saat negara tersebut masih jalani proses negosiasi dengan Amerika Serikat (AS). Serangan gabungan AS-Israel itu dinilai melanggar kedaulatan internasional.
Ini pelanggaran kedaulatan dan aturan internasional yang sebenarnya dijunjung Indonesia dalam hubungan luar negeri. Artinya Indonesia mengingkari prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi,”
kata Dinna pada Owrite, Selasa, 7 Juli 2026.
Alasan kedua, Dinna menilai konflik Iran dengan AS-Israel belum benar-benar berakhir. Menurutnya, situasi di kawasan Timur Tengah masih menunjukkan eskalasi sehingga RI seharusnya memandang persoalan tersebut sebagai isu yang masih serius.
Dia bilang konflik Iran vs AS-Israel masih akan lanjut dan belum selesai. Apalagi, AS melalui Donald Trump masih mengeluarkan kalimat eskalasi. Pun, Israel masih menyerang Lebanon dengan alasan proxi Iran.
Artinya Indonesia belum menganggap Iran serius dalam pertarungan dengan AS dan Israel. Saya kesulitan juga menjelaskan mengapa Indonesia bersikap seperti itu. Padahal, biasanya meskipun ditekan major power sekalipun, Indonesia pandai membangun rasa percaya dari major power tersebut,”
ujarnya.
Lalu, pertimbangan ketiga berkaitan dengan peluang diplomasi yang dinilai terlewat. Dinna mengatakan prosesi penghormatan Ali Khamenei turut dihadiri sejumlah negara yang selama ini berperan sebagai penengah di Timur Tengah dan menjadi mitra strategis Indonesia.
Negara-negara penengah hadir di Iran termasuk negara-negara yang Indonesia punya rencana-rencana kerja sama ke depannya seperti Turki, Qatar, Saudi. Jadi mengapa alasan bahwa momen ini penting untuk saling jumpa dengan negara-negara penengah tidak dipakai oleh Indonesia?”
tanyanya.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan pemerintah tetap menghadiri rangkaian penghormatan bagi Ali Khamenei. Pemerintah menunjuk Duta Besar RI Iran di Teheran sebagai wakil resmi Indonesia.
Namun, langkah cuma mengirim dubes itu menuai kritik dari sejumlah pihak termasuk akademisi. Pemerintah RI dikritik karena mestinya mengirim delegasi resmi tingkat tinggi sekelas menteri ke Teheran.
Pemerintah RI pun akhirnya mengubah keputusan. Presiden RI Prabowo Subianto menunjuk Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono dan Ketua MPR Ahmad Muzani.























