Stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Setiap tahun, sekitar 337.000 orang meninggal akibat penyakit ini, melampaui angka kematian akibat penyakit jantung maupun kanker.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan angka riil kematian stroke di lapangan diperkirakan dapat mencapai dua hingga tiga kali lebih besar. Sebab masih banyak kasus di berbagai daerah yang belum tercatat dalam sistem registrasi nasional.
Stroke juga menjadi beban pembiayaan kesehatan terbesar ketiga dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan total klaim melebihi Rp5 triliun setiap tahun.
“Setiap tahun sekitar 300.000 orang meninggal akibat stroke. Saya sangat terlibat secara pribadi karena ibu saya sendiri mengalami stroke ketika berusia 70 tahun. Saat itu, di kota kami bahkan belum tersedia CT scan sehingga harus dibawa ke kota lain, dan sudah terlambat. Ibu saya mengalami kelumpuhan selama sembilan tahun,”
kata Budi, dikutip pada Minggu, 12 Juli 2026.
Jangan Malas Mencegah
Tingginya angka kematian menjadi pengingat bahwa stroke merupakan penyakit yang sebagian besar dapat dicegah. Masyarakat perlu rutin memeriksa tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol, menerapkan pola makan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, tidak merokok, membatasi konsumsi alkohol, serta segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila memiliki faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes.
Guna menekan angka kasus stroke, pemerintah kini menggeser fokus penanganan kesehatan ke upaya pencegahan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini menargetkan menjangkau 130 juta penduduk pada tahun ini setelah berhasil mencatat 70 juta pemeriksaan pada tahun pertama pelaksanaannya.
Dalam lima tahun mendatang, pemerintah menargetkan skrining kesehatan dapat menjangkau 280 juta penduduk atau sekitar 80 persen populasi untuk mendeteksi faktor risiko stroke sejak dini. Fokus utama ialah mendeteksi dini hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi yang menjadi faktor risiko utama stroke.
“Prevalensi hipertensi di Indonesia hampir 20 persen dan diabetes lebih dari 10 persen. Daripada menunggu sampai stroke terjadi, kita harus mengendalikan faktor risiko ini sedini mungkin,”
ujar Budi.
Pemerintah menerapkan pendekatan taktis 80-80-80, yakni 80 persen penduduk teridentifikasi, 80 persen dari mereka yang teridentifikasi mendapatkan penanganan, dan 80 persen dari yang ditangani berhasil mengendalikan kondisi kesehatan.
Hadirkan Layanan
Selain memperkuat upaya pencegahan, pemerintah juga meningkatkan kesiapan layanan penanganan stroke. Seluruh 514 kabupaten/kota ditargetkan memiliki fasilitas CT scan dan cath lab agar pasien dapat memperoleh penanganan cepat pada masa golden period, yang sangat menentukan peluang kesembuhan dan mencegah kecacatan.
Pemerintah juga memperkuat kapasitas tenaga kesehatan. Dokter bedah umum di tingkat kabupaten/kota akan dilatih melakukan prosedur kraniotomi untuk menangani stroke hemoragik. Sementara itu, di tingkat provinsi pemerintah menyiapkan peralatan Cavitron Ultrasonic Surgical Aspirator (CUSA), neuronavigasi, dan mikroskop operasi di seluruh 38 provinsi.
Intervensi dari sisi pencegahan hingga pengobatan ini menjadi bagian dari target pemerintah meningkatkan usia harapan hidup masyarakat dari 72 tahun menjadi 76 tahun dalam lima tahun mendatang.
Langkah preventif dan penguatan layanan ini didukung penuh oleh para praktisi medis melalui forum ICONNS 2026 yang berlangsung pada 8–12 Juli 2026. Forum bertema Strategic Shift: Multidisciplinary Neuro-Care Synergy in Neuro-Oncology, Vascular, Spine, & Critical Care ini menjadi ajang konsolidasi internasional yang mempertemukan sekitar 300–400 dokter spesialis saraf, bedah saraf, radiologi, anestesi, serta perawat dari dalam maupun luar negeri.






















