Kasus perlemakan hati atau fatty liver yang dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, terutama usia 30-an tahun.
Secara global, prevalensi fatty liver diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dan terus meningkat. Sementara itu, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada orang dewasa meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023.
Adapun prevalensi obesitas sentral pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 36,8 persen.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Widya Khairunnisa Sarkowi, MSc, menjelaskan bahwa fatty liver terjadi akibat penumpukan lemak di hati yang berkaitan dengan gangguan metabolisme tubuh.
Menurutnya, penyakit ini sering dijuluki sebagai silent killer karena berkembang secara perlahan tanpa menunjukkan tanda-tanda klinis yang jelas dan dapat berujung pada kerusakan hati permanen.
Banyak orang merasa sehat, tetapi saat diperiksa melalui USG (ultrasonografi) atau tes enzim hati, sudah ditemukan perlemakan hati. Individu dengan obesitas, diabetes melitus, maupun gangguan metabolik lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami fatty liver,”
ujar dr Widya dalam keterangan resminya.
Menurut dr Widya, tingginya angka tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya masalah metabolik di masyarakat, seperti obesitas, obesitas sentral atau perut buncit, diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, pola makan tinggi gula dan kalori, serta kurangnya aktivitas fisik.
Meski begitu, ia menyebutkan bahwa fatty liver tidak hanya menyerang orang dengan berat badan berlebih. Orang dengan berat badan normal tetap dapat mengalami perlemakan hati apabila memiliki perut buncit, resistensi insulin, diabetes, pola makan tinggi gula, atau kurang aktivitas fisik.
dr Widya menambahkan, fatty liver bukan sekadar masalah pada organ hati, melainkan penanda adanya gangguan metabolik di seluruh tubuh.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur solusi instan seperti suplemen, produk detoks, atau herbal yang diklaim dapat “membersihkan hati”.
Penggunaan obat-obatan saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan pola hidup yang sehat. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah dan mengatasi fatty liver,”
ungkapnya.
Lima Langkah Pencegahan
Sebagai langkah pencegahan, dr Widya menyampaikan lima pesan edukasi penting yang sejalan dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pertama, menurunkan berat badan secara bertahap. Penurunan berat badan sekitar 5–10 persen diketahui dapat mengurangi lemak hati, peradangan, dan risiko fibrosis.
Kedua, mengurangi konsumsi minuman manis seperti teh manis, kopi susu dengan gula tinggi, minuman boba, soda, minuman kemasan, dan sirup yang menjadi sumber gula cair dengan kalori tinggi.
WHO menganjurkan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen,”
ujarnya.
Ketiga, menerapkan pola makan seimbang dengan komposisi setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat protein, serta seperempat karbohidrat.
Masyarakat juga disarankan membatasi makanan ultraproses, gorengan, makanan manis, dan camilan tinggi kalori.
Keempat, melakukan aktivitas fisik secara rutin. WHO merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu atau sekitar 30 menit per hari selama lima kali dalam seminggu. Latihan beban dua kali seminggu juga dianjurkan untuk meningkatkan massa otot dan sensitivitas insulin.
Kelima, melakukan pemeriksaan faktor risiko secara berkala, termasuk pengukuran lingkar perut, indeks massa tubuh (IMT), kadar gula darah, profil lipid, tekanan darah, hingga pemeriksaan fungsi hati dan USG abdomen bila diperlukan.
Edukasi Sejak Dini
Lebih lanjut, dr Widya menekankan bahwa pencegahan fatty liver sebaiknya dimulai sejak usia anak. North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN) merekomendasikan skrining fatty liver pada anak obesitas mulai usia 9–11 tahun, terutama jika disertai faktor risiko tambahan seperti resistensi insulin, diabetes, dislipidemia, atau riwayat keluarga dengan fatty liver.
Anak perlu dibiasakan mengonsumsi makanan sehat, perbanyak aktivitas luar ruang, kurangi waktu layar (screen time), tidur cukup, serta membatasi konsumsi minuman manis dan makanan ultraproses,”
ujarnya.
Pada remaja, edukasi perlu dikaitkan dengan gaya hidup modern, seperti konsumsi minuman kekinian, makanan cepat saji, kebiasaan begadang, kurang bergerak, dan stres yang dapat meningkatkan risiko obesitas serta gangguan metabolik.
Sementara itu, pada kelompok dewasa muda, masyarakat dianjurkan mulai rutin memantau berat badan, lingkar perut, tekanan darah, gula darah, dan kadar lipid, terutama jika memiliki riwayat keluarga diabetes, obesitas, atau penyakit jantung.
Pada usia di atas 40 tahun, deteksi dini perlu dilakukan lebih aktif karena risiko berbagai penyakit metabolik semakin meningkat.
Dokter Widya juga mengingatkan agar masyarakat tidak menormalisasi hasil diagnosis “fatty liver ringan”.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi peradangan hati, fibrosis, sirosis, bahkan kanker hati jika tidak ditangani dengan baik.
Pencegahan fatty liver memerlukan kolaborasi semua pihak karena masyarakat akan sulit menerapkan gaya hidup sehat apabila makanan tinggi gula dan lemak lebih mudah diakses, lebih murah, dan lebih banyak dipromosikan dibandingkan pilihan yang sehat,”
tanbahnya.










![Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026). [Foto: ANTARA FOTO/Fauzan].](https://www.owrite.id/wp-content/uploads/2026/06/Mahasiswa-temui-Wapres-Gibran-di-Istana-Wapres_Owrite-300x169.webp)










