Di tengah tren konser musik, festival, hingga event-even keren yang lebih dekat dan terkenal di kalangan gen z, masyarakat Karo di Sumatera Utara ternyata sudah punya “festival tahunan” yang sudah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Tradisi itu bernama Merdang Merdem atau Kerja Tahun, yaitu pesta adat yang identik dengan ungkapan rasa syukur atas hasil panen, sekaligus jadi momen berkumpul bersama keluarga.
Menariknya, tradisi ini bukan hanya sekadar seremoni adat saja. Merujuk dari Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah, Merdang Merdem juga dijadikan ruang untuk memperkuat solidaritas, menjaga identitas, bahkan mempererat hubungan antara keluarga yang sudah lama terpisah.
Asal Usul Merdang Merdam
Merdang Merdem berakar dari kehidupan agraris masyarakat Karo yang sejak dahulu menggantungkan hidup pada sektor pertanian, terutama padi.
Setelah musim panen usai, masyarakat menggelar pesta sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atau Dibata atas hasil bumi yang diperoleh, sekaligus memohon keberkahan untuk musim tanam berikutnya.
Dalam jurnal tersebut disebutkan tradisi ini telah ada jauh sebelum masa kolonial Belanda.
Meski mengalami penyesuaian seiring masuknya modernisasi dan agama-agama formal, esensi utamanya sebagai ungkapan syukur dan perekat hubungan sosial tetap dipertahankan hingga sekarang.
Jadi Ajang “Recharge Social Battery“
Kalau sekarang banyak orang sengaja melakukan detoks media sosial demi menghabiskan waktu bersama keluarga, masyarakat Karo sudah melakukannya sejak lama melalui Merdang Merdem.
Perayaan ini berlangsung selama beberapa hari dengan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari mantem atau penyembelihan hewan, makan bersama, doa adat, hingga pertunjukan seni budaya.
Salah satu agenda paling ditunggu ialah Gendang Guro-Guro Aron, pertunjukan musik dan tari tradisional yang menjadi ikon pesta tahunan masyarakat Karo.
Bahkan, kesenian tersebut kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dulu Jadi Tempat Cari Jodoh
Bagi Gen Z, istilah meet cute mungkin identik dengan pertemuan tidak sengaja yang berujung kisah cinta. Namun, masyarakat Karo ternyata sudah mengenal konsep serupa sejak lama.
Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa Gendang Guro-Guro Aron dulunya menjadi ruang interaksi para muda-mudi. Mereka menari berpasangan sambil mempelajari ertutur, yakni tata krama dalam pergaulan masyarakat Karo.
Tradisi tersebut bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga media pendidikan karakter dan mempererat hubungan antargenerasi.
Seiring perkembangan zaman kini Merdang Merdem pun ikut bertransformasi. Kini berbagai desa telah menambahkan hiburan yang kekinian, perlombaan, hingga pertunjukan musik agar lebih menarik bagi generasi muda.
Durasi pesta pun dibuat lebih singkat dibanding masa lalu, tanpa menghilangkan nilai utamanya, yakni kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, dan memperkuat identitas budaya masyarakat Karo.
Bahkan, tradisi syukur hasil bumi berkembang menjadi Pesta Bunga dan Buah di Berastagi dan Kabanjahe yang kini masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.
Di tengah gaya hidup yang serba cepat, Merdang Merdem menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal yang viral. Terkadang, “healing” terbaik justru berasal dari pulang ke kampung halaman, makan bersama keluarga, menari bersama warga, dan merayakan hasil kerja keras selama setahun.




















