Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Rabu, 9 Sep 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • DPR
  • Sepak Bola
  • KPK
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Prabowo Subianto
  • Purbaya
  • Piala Dunia 2026
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Daerah / Fakta Festival Tabuik Pariaman, Tradisi Warisan 2 Abad yang Selalu Dinanti Saat Muharram
Daerah

Fakta Festival Tabuik Pariaman, Tradisi Warisan 2 Abad yang Selalu Dinanti Saat Muharram

Ani RatnasariHardani Triyoga
Last updated: Juli 15, 2026 5:36 am
By
Ani Ratnasari
Ani Ratnasari
ByAni Ratnasari
Internship
Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial sambil mengasah ketajaman kata di OWRITE.
Follow:
Hardani Triyoga
Hardani Triyoga
ByHardani Triyoga
Asisten Redaktur
Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.
Follow:
2 bulan lalu
Share
Masyarakat mendatangi hari puncak ritual tabuik di Pariaman, Sumatera Barat.
Masyarakat mendatangi hari puncak ritual tabuik di Pariaman, Sumatera Barat. (Foto: Dok. Indonesia Kaya).
SHARE

Setiap memasuki bulan Muharram, Kota Pariaman, Sumatra Barat, selalu dipenuhi ribuan orang yang datang untuk menyaksikan Festival Tabuik.

Daftar isi Konten
  • Apa Itu Tabuik?
  • Pengaruh Timur Tengah
  • Dari Ritual jadi Festival Budaya

Tradisi yang berlangsung selama hampir dua abad ini tidak hanya sekadar pertunjukan budaya. Namun, sudah jadi warisan yang merekam perjalanan sejarah, pertemuan budaya, hingga identitas masyarakat Minangkabau.

Merujuk laman Indonesia Kaya, Festival Tabuik merupakan peringatan atas wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW Hussein bin Ali yang gugur dalam Perang Karbala pada 10 Muharam tahun 680 Masehi.

Seiring waktu, peringatan tersebut berkembang menjadi tradisi budaya khas Pariaman yang kini menjadi salah satu agenda wisata unggulan di Sumatra Barat.

Baca juga:
Keracunan MBG Terus Terjadi, JPPI Bongkar Ancaman Serius: Negara Bangun… Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap kasus keracunan…
Larung Kepala Kerbau di Pesisir: Menyelami Tradisi Sedekah Laut, Ritual… Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang memiliki kekayaan budaya pesisir yang beragam.…
Bukan Cuma Hunian Megah, Ini Rahasia Filosofi Rumah Joglo dan… Rumah Joglo merupakan salah satu rumah adat khas Jawa. Lebih dari sekadar…
  • Keracunan MBG Terus Terjadi, JPPI Bongkar Ancaman Serius: Negara Bangun Budaya Impunitas
  • Larung Kepala Kerbau di Pesisir: Menyelami Tradisi Sedekah Laut, Ritual Para Nelayan…
  • Bukan Cuma Hunian Megah, Ini Rahasia Filosofi Rumah Joglo dan Konsep Manunggaling…

Apa Itu Tabuik?

Menurut Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, kata tabuik berasal dari bahasa Arab at-tabut yang berarti peti atau keranda. Dalam dialek masyarakat Pariaman, kata ‘tabut’ berubah menjadi ‘tabuik’ karena pelafalan huruf ‘t’. Pun, di akhir kata berubah menjadi ‘ik’.

Nama itu merujuk pada replika bangunan tinggi berbentuk menara yang dipadukan dengan sosok buraq, makhluk bersayap berkepala manusia dalam legenda Islam.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, buraq membawa jasad Hussein bin Ali menuju langit setelah gugur di Karbala. Kisah itulah yang kemudian diwujudkan dalam bentuk Tabuik yang diarak setiap tahun.

Sejarah mencatat, tradisi Tabuik mulai dikenal di Pariaman pada tahun 1826-1828. Tradisi ini diyakini dibawa oleh komunitas Muslim keturunan India atau Cipei (Tamil Islam) yang datang setelah Perjanjian London 1824.

Pengaruh Timur Tengah

Pada awalnya, ritual Tabuik masih kental dengan pengaruh budaya Timur Tengah. Namun, sejak awal abad ke-20, para tokoh adat melakukan penyesuaian agar tradisi tersebut selaras dengan nilai dan adat Minangkabau.

Dari sinilah Tabuik berkembang menjadi festival budaya yang lebih menonjolkan nilai sejarah, seni, dan kebersamaan masyarakat.

Kini, mayoritas masyarakat Pariaman memandang Tabuik sebagai warisan budaya, bukan bagian dari praktik keagamaan tertentu.

Dalam pelaksanaannya, Festival Tabuik selalu menghadirkan dua Tabuik, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.

Tabuik Pasa berasal dari kawasan Pasar Pariaman di sebelah selatan sungai yang membelah kota. Wilayah ini dipercaya sebagai tempat lahirnya tradisi Tabuik.

Mendagri Usul TKD Sumatera Utara dan Sumatera Barat Tak Dipotong Seperti Aceh

Sementara itu, Tabuik Subarang dibuat oleh masyarakat yang tinggal di wilayah seberang sungai atau Kampung Jawa. Tabuik ini lahir sekitar awal abad ke-20 sebagai bentuk keseimbangan antara dua kawasan di Pariaman.

Meski berasal dari wilayah berbeda, keduanya mengikuti prosesi adat yang sama hingga akhirnya dipertemukan pada puncak festival.

Festival Tabuik tak berlangsung dalam sehari. Tradisi ini diawali sejak 1 Muharam yang terdiri atas sejumlah tahapan ritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Prosesi tersebut meliputi mengambil tanah (maambiak tanah), menebang batang pisang, maatam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, hingga puncaknya melarung Tabuik ke laut.

Setiap tahapan memiliki makna simbolis, mulai dari pengingat asal-usul manusia, penghormatan kepada Hussein bin Ali, hingga pesan bahwa setiap kehidupan pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Puncak acara biasanya akan digelar antara 10 hingga 15 Muharam agar bertepatan dengan akhir pekan sehingga lebih mudah dihadiri wisatawan.

Dari Ritual jadi Festival Budaya

Sejak 1982, Festival Tabuik resmi masuk dalam kalender pariwisata daerah. Perubahan ini membuat penyelenggaraannya lebih terbuka sebagai atraksi budaya tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat.

Baca juga:
Bentrokan Berdarah Adonara, Pigai Kerahkan Tim HAM dan Soroti Penyelesaian… Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengerahkan jajaran Kantor Wilayah Kementerian…
BNPB Serahkan Huntap Mandiri Sumbar: Tipe 36, Teknologi Mirip Lego Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rustian menyerahkan kunci rumah hunian…
Mengenal Konsep Hygge, Gaya Hidup Sederhana ala Denmark yang Mengutamakan… Belakangan ini, istilah hygge semakin sering dibicarakan, terutama di media sosial dan…
  • Bentrokan Berdarah Adonara, Pigai Kerahkan Tim HAM dan Soroti Penyelesaian Jalur Adat
  • BNPB Serahkan Huntap Mandiri Sumbar: Tipe 36, Teknologi Mirip Lego
  • Mengenal Konsep Hygge, Gaya Hidup Sederhana ala Denmark yang Mengutamakan Kenyamanan

Setiap tahun, Pantai Gandoriah jadi pusat keramaian saat dua Tabuik diarak sebelum akhirnya dilarung ke laut menjelang matahari terbenam. Momen ini selalu jadi daya tarik utama yang disaksikan puluhan ribu pengunjung, baik dari Sumatera Barat maupun berbagai daerah di Indonesia, bahkan wisatawan mancanegara.

Namun, di balik kemegahannya, sejumlah ulama menilai tradisi ini memiliki akar sejarah dari komunitas Syiah. Dengan demikian, perlu disikapi secara hati-hati agar tak bertentangan dengan akidah Islam.

Di sisi lain, banyak juga kalangan budaya dan masyarakat Pariaman memandang Tabuik sebagai warisan budaya yang telah mengalami akulturasi dengan adat Minangkabau.

Filosofi ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah‘ menjadi landasan agar tradisi tetap berjalan. Namun, proses tradisi itu tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam yang dianut masyarakat setempat.

Tak heran jika setiap Muharram tiba, Festival Tabuik selalu jadi perhelatan yang dinantikan masyarakat. Bukan hanya karena kemeriahannya, tapi juga karena jadi pengingat bahwa sebuah tradisi dapat terus hidup ketika mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Tag:budayabulan muharramFestival TabuikPariamanSumatra Barat
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Ani Ratnasari
ByAni Ratnasari
Internship
Follow:
Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial sambil mengasah ketajaman kata di OWRITE.
Hardani Triyoga
ByHardani Triyoga
Asisten Redaktur
Follow:
Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.
Trending di OWRITE
Heboh Teori Konspirasi Erupsi Enam Gunung Api Ala Ulta Levenia, Netizen: “Gaya Obrolan Cowok jam 12 Malam!”
By Ani Ratnasari
Tangkap layar dari YouTube Bukan Kaleng-kaleng
1
Viral Momen Teddy Turunkan Mic Prabowo Saat Rapat Bencana, Netizen: “Seakrab Itu?”
By Ani Ratnasari
Penampakan Tangan Setkan Teddy arahkan microfon Presiden Prabowo. (Sumber: X/@txtdrimedia)
2
Prakiraan Cuaca Jakarta Rabu 9 September 2026: Jaktim Hujan Ringan, Lima Wilayah Lain Cerah
By Syifa Fauziah
Ilustrasi prakiraan cuaca di Jakarta.
3
Bukan Cuma Reshuffle, Prabowo Diminta Hapus Semua Wamen demi Efisiensi Anggaran
By Hardani Triyoga
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) bersiap memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).
4
Erick Thohir Turun Langsung Cek Stadion Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, SUGBK Sudah 86 Persen
By Hadi Febriansyah
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengecek kesiapan sejumlah stadion
5

BERITA LAINNYA

Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026).
Daerah

Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Level III Siaga! Radius 3 Km Wajib Dihindari

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Lampung kembali menunjukkan erupsi strombolian setelah…

iren natania longdongSyifa FauziahHardani Triyoga
By
Natania Longdong
Syifa Fauziah
Hardani Triyoga
2 hari lalu
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam
Daerah

Anak Krakatau Masih Mengancam, Badan Geologi: Potensi Letusan Berikutnya Masih Tinggi

Episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung selama sekitar 25 jam…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
2 hari lalu
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian HAM, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Daerah

Pigai Sentil Vonis Banding 4 Prajurit TNI Kasus Andrie Yunus: Jangan Ukur Keadilan dari Kacamata Pelaku

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, menyoroti putusan banding empat terdakwa…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Baihaqi
Amin Suciady
2 hari lalu
Gunung Ili Lewotolok erupsi pada Minggu, 6 September 2026.
Daerah

Ili Lewotolok Erupsi Lagi, Kolom Abu Membubung 600 Meter

Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengalami…

Syifa FauziahHardani Triyoga
By
Syifa Fauziah
Hardani Triyoga
2 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up