Harga minyak mentah melemah pada perdagangan Selasa, setelah pelaku pasar mempertimbangkan laporan mengenai upaya mediasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Upaya ini terjadi di tengah serangan kedua negara, dan ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi di Yaman.
Dilansir dari The Economic Times Selasa, 21 Juli 2026, harga minyak mentah Brent turun 35 sen atau 0,4 persen menjadi US$88,87 per barel pada pukul 00.52 waktu setempat.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September tetap stabil di US$82,47 per barel. Kedua kontrak tersebut diperdagangkan di bawah level tertinggi dalam lebih dari sebulan yang sempat dicapai pada sesi sebelumnya.
Ancaman Houthi
Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran mengatakan pada Senin akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut berpotensi membuka front baru dalam konflik melawan AS terkait perang dengan Iran, sekaligus meningkatkan ancaman terhadap pasokan energi dan perdagangan global di luar kawasan Teluk.
Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi sangat signifikan karena meningkatkan risiko gangguan terhadap eksportir minyak besar lainnya,”
kata Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer.


Secara terpisah, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima usulan dari para mediator mengenai gencatan senjata selama 10 hari.
Upaya itu dilakukan untuk menyelamatkan kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni, yang bertujuan membuka jalan menuju perjanjian damai permanen guna mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Dorongan Diplomatik
Adapun dorongan diplomatik tersebut muncul setelah kembali terjadi serangan udara AS ke sejumlah kota di Iran, dan serangan yang dilakukan oleh Pasukan Pengawal Revolusi Iran terhadap aset militer AS di seluruh kawasan. Pada Senin malam, Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan telah memulai gelombang serangan baru ke Iran.
(Harga minyak) sudah naik cukup jauh dan tentu saja memiliki potensi untuk naik lagi. Namun, dalam jangka pendek, pembicaraan semalam mengenai de-eskalasi dan perundingan damai tampaknya membatasi kenaikan harga untuk saat ini. Apakah perundingan damai tersebut akan membuahkan hasil, masih harus dilihat,”
kata analis pasar IG Tony Sycamore, dalam sebuah catatan.
























