Permasalahan finansial kembali menghantam PSBS Biak. Manajemen klub dikabarkan belum memenuhi kewajiban membayarkan gaji para pemain dan official selama empat bulan, yakni mulai Februari hingga Mei 2026.
Hingga kini, persoalan tersebut belum menemukan titik terang. Kondisi itu mendorong asisten manajer PSBS Biak, Erol Iba, untuk angkat bicara dan mewakili puluhan pemain serta official yang masih menunggu hak mereka.
Mantan bek kiri Timnas Indonesia tersebut mengungkapkan bahwa total ada 54 orang yang terdampak akibat tunggakan gaji tersebut.
Menurut Erol, bukan hanya pemain dan pelatih yang belum menerima haknya, tetapi juga seluruh staf pendukung tim.
Totalnya (gaji) 4 bulan yang kita belum dibayarkan. Berarti sampai dengan sekarang kita tagih ke direksi itu, sudah 6 bulan belum ada kabar-kabarnya,”
kata Erol Iba kepada awak media di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Ini saya ada bawa surat. Ini ada sekitar 54 orang yang tanda tangan. Ini official, coach, dan pemain. Official sudah termasuk (sopir) bus, yang bawa bus, masseur, kitman, semua sudah termasuk di dalam sini. Total 54 orang,”
tambahnya.
Dampak Gaji Tak Dibayar, Anak Pemain Terancam Putus Sekolah
Erol menjelaskan bahwa keterlambatan pembayaran gaji memberikan dampak besar terhadap kehidupan para pemain dan keluarga mereka.
Beberapa pemain bahkan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari biaya pendidikan anak hingga membayar listrik di rumah.
Ada beberapa anak dari pemain, dari pelatih yang bahkan tidak sekolah. Bahkan token listrik pun enggak bisa dibayar. Yang kuliah ada yang mau di-drop out (DO). Itu dampak dari kita belum menerima gaji ini dan itu sama sekali enggak didengarkan sama direksi PSBS,”
ujar Erol Iba.
Karena belum mendapatkan kepastian dari manajemen klub, Erol Iba memutuskan mendatangi kantor I League di Jakarta.
Langkah tersebut dilakukan untuk meminta kejelasan terkait dana deposito yang sebelumnya sempat disebut sebagai jaminan pembayaran gaji para pemain PSBS Biak.
I League menyarankan kalau bisa direksinya (PSBS) datang ke sini, ketemu dan bicara bagaimana baiknya untuk pembayaran gaji kita,”
ujar Erol.
Erol mengaku masih mempertanyakan keberadaan dana yang sebelumnya disebut aman oleh pihak terkait.
Karena waktu final Liga 2 yang di Sleman, Pak Sekjen (PSSI) sendiri ada menyampaikan, kan ada (pernyataannya) di TikTok ramai bahwa gaji pemain PSBS aman karena ada deposit yang ditahan.”
ungkapnya.
Cuma sampai sekarang yang kata aman itu saya pertanyakan di mana, kenapa sampai sekarang belum selesai,”
tutur Erol.
Pemain Mengaku Nomor WhatsApp Diblok Manajemen
Upaya komunikasi dengan manajemen klub juga disebut tidak membuahkan hasil. Erol mengungkapkan bahwa dirinya telah berulang kali mencoba menghubungi pihak direksi, namun tidak mendapatkan respons. Bahkan, menurutnya, beberapa pemain justru diblokir melalui aplikasi WhatsApp.
Saya pribadi, saya sudah sering sampaikan (ke manajemen), tapi enggak ada tanggapan sama sekali. Bahkan ada beberapa pemain sudah diblok sama nomor-nomornya itu,”
ujar Erol.
Melalui langkah yang diambil ke kantor I League, Erol berharap manajemen PSBS Biak segera menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Ia berharap direksi klub dapat memahami kondisi para pemain dan official yang selama berbulan-bulan belum menerima gaji.
Saya pikir mungkin dengan saya datang ke sini, direksi mau membuka hati, ya melihat tentang penderitaan anak istri ya, yang sudah 4 bulan tidak terima gaji itu, mungkin mereka bisa buka hati untuk datang selesaikan,”
tutur Erol.
Di tengah persoalan internal yang belum terselesaikan, performa PSBS Biak di lapangan juga mengalami penurunan drastis.
Klub berjuluk Badai Pasifik tersebut gagal bersaing pada putaran kedua Super League 2025/2026 hingga akhirnya harus terdegradasi ke Championship atau Liga 2.
PSBS mengakhiri musim di peringkat ke-18 atau posisi juru kunci klasemen bersama dua tim lain yang juga turun kasta, yakni Persis Solo dan Semen Padang.




















