Harga minyak dunia naik pada Kamis setelah sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal di lepas pantai Arab Saudi. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump mengancam akan membombardir infrastruktur Iran sebagai respons atas setiap serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Dilansir dari CNBC pada Kamis, 23 Juli 2026 harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman September naik 2 persen menjadi US$95,99 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik sekitar 1,7 persen menjadi US$88,27 per barel.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Kamis waktu Asia mengumumkan melalui media sosial X bahwa mereka menerima laporan sebuah kapal tanker terkena proyektil yang tidak diketahui sekitar 70 mil laut di barat daya Al Shuqaiq.
Serangan tersebut memicu kebakaran di atas kapal yang sedang dipadamkan oleh awak kapal. Namun, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden itu.
Ancaman Trump
Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Trump memperingatkan bahwa AS akan menghancurkan sebuah jembatan atau pembangkit listrik di Iran setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menandai eskalasi lebih lanjut setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran runtuh.
Mulai saat ini, setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik dengan rudal, roket, drone, atau perangkat atau senjata apa pun, Amerika Serikat akan membom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik,”
kata Trump.


Respons Iran
Iran menanggapi ancaman tersebut dengan memperingatkan bahwa mereka akan membalas dengan menyerang infrastruktur dan aset energi yang terkait dengan AS di seluruh kawasan, jika Washington benar-benar melakukan serangan tersebut.
Jika Amerika menargetkan sebuah jembatan atau pembangkit listrik di Iran, Iran pada gilirannya akan menyerang infrastruktur dan jembatan di kawasan tersebut, termasuk fasilitas energi di mana Amerika Serikat memiliki kepentingan,”
kata seorang sumber militer Iran yang tidak disebutkan namanya kepada kantor berita pemerintah Tasnim.
Sebelumnya pada Rabu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan Iran tidak menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington. Meski demikian, ia menegaskan bahwa AS tetap berkomitmen pada diplomasi di Timur Tengah.


Pasar Khawatir
Adapun kenaikan harga minyak baru-baru ini mencerminkan kekhawatiran yang kembali muncul terkait Selat Hormuz setelah gencatan senjata antara AS dan Iran runtuh. Dalam catatan yang diterbitkan pada Rabu malam, HSBC memperingatkan bahwa prospek pasar kini bergantung pada apakah jalur diplomasi dapat memulihkan kelancaran arus pelayaran secara stabil dan dapat diprediksi.
Sejak 7-8 Juli, gencatan senjata telah melemah karena serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz memicu serangan balasan AS,”
kata Analis Senior Minyak dan Gas Global Kim Fustier
Masalah intinya masih belum terselesaikan apakah lalu lintas kapal di selat tersebut diatur, dan oleh siapa. Jika dilihat kembali, semakin meningkatnya lalu lintas melalui jalur Oman yang dikelola AS, semakin tidak sesuai hasil ini bagi Iran,”
tambah Fustier.

























