Kalau ngomongin Bali, apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu? Pantai Kuta, Canggu, Ubud, atau deretan beach club yang nggak pernah sepi?
Padahal kalau kamu mau melihat dalam melihat keindahan Pulau Dewata, Bali ternyata menyimpan sebuah desa kuno yang yang sampai sekarang masih mempertahankan tradisi leluhurnya, lho.
Namanya Desa Trunyan yang berada di tepi Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli yang dikenal juga sebagai salah satu desa tertua di Pulau Dewata.
Keunikannya desa ini bukan hanya pada lanskap alamnya yang sunyi, tapi pada keteguhan masyarakatnya dalam menjaga adat bali Aga.
Bali Aga merupakan kelompok masyarakat Bali asli, yang sudah ada dan bermukim bahkan sebelum Kerajaan Majapahit masuk ke Bali.
Namun, sebenarnya ada satu alasan yang membuat Desa Trunyan tersohor hingga sampai ke mancanegara, yaitu karena tradisi pemakamannya yang unik.
Penasaran bagaimana ceritanya? Berikut ulasan mengenai sejarah Desa Trunyan, daya tarik, dan keunikan tradisinya.
Seperti Apa Desa Bali Aga?
Melansir dari Wonderful Indonesia, Desa Trunyan berada di sisi timur Danau Batur dengan latar pegunungan Kintamani yang membuat suasananya terasa sejuk dan tenang.
Untuk mencapai desa ini, kamu perlu menyeberang menggunakan perahu motor dari Dermaga Kedisan dengan waktu perjalanan sekitar 20 hingga 30 menit.
Sepanjang perjalanan kamu akan disuguhkan pemandangan Danau Batur yang dikelilingi perbukitan hijau yang memukau mata.
Berbeda dengan desa wisata lain di Bali, Trunyan tidak hanya cocok untuk berswafoto saja, karena desa ini merupakan rumah bagi masyarakat Bali Aga yang hingga kini masih mempertahankan adat istiadat, hingga sistem kepercayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi Mepasah: Jenazah Tidak Dikubur atau Dikremasi


Inilah tradisi yang membuat Desa Trunyan dikenal hingga mancanegara. Jika mayoritas umat Hindu di Bali mengantarkan jenazah melalui upacara kremasi (Ngaben), warga Trunyan memiliki ritual tersendiri bernama Mepasah.
Dalam tradisi ini, jenazah tidak dikubur dan tidak pula dikremasi. Sebaliknya, jenazah akan diletakkan di tanah area pemakaman suci bernama Sema Wayah, kemudian akan ditutup menggunakan anyaman bambu berbentuk kerucut yang disebut ancak saji.
Sekilas memang kedengarannya agak nggak biasa kan? Pasti kamu langsung membayangkan gimana sih baunya nanti, apalagi desa ini udah ada selama beratus tahun lalu.
Namun, bagi masyarakat Trunyan, tradisi ini adalah bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah dijaga selama ratusan tahun.
Yang lebih mengejutkan, area pemakaman tersebut tidak mengeluarkan aroma menyengat seperti yang banyak dibayangkan orang.
Di tengah area pemakaman tumbuh sebuah pohon besar yang dipercaya menjadi alasan mengapa jenazah tidak mengeluarkan bau busuk.
Pohon itu bernama Taru Menyan. Dalam bahasa setempat, taru berarti pohon, sedangkan menyan berarti harum. Dari dua kata itulah yang dipercaya sebagai asal usul nama desa Trunyan.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, aroma alami dari pohon Taru Menyan mampu menetralisir bau yang muncul dari jenazah. Meski telah menjadi cerita turun-temurun, pohon tersebut tetap dianggap sakral dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Desa Trunyan.
Tidak Semua Orang Bisa Dimakamkan dengan Cara Ini


Meski terkenal dengan tradisi Mepasah, ternyata tidak semua warga Trunyan dimakamkan menggunakan cara ini.
Prosesi ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang meninggal secara wajar serta memenuhi ketentuan adat.
Sementara itu, warga yang meninggal akibat kecelakaan, bunuh diri, atau penyebab tidak wajar akan dimakamkan di lokasi berbeda sesuai aturan adat yang berlaku.
Bahkan, masyarakat Trunyan memiliki tiga kawasan pemakaman berbeda sesuai kondisi orang yang meninggal.
Tradisi ini menunjukkan bahwa sistem adat di Desa Trunyan masih dijalankan dengan sangat kuat hingga sekarang.
Boleh Dikunjungi, Tapi Ada Etikanya
Karena menjadi salah satu destinasi wisata budaya, wisatawan diperbolehkan mengunjungi Desa Trunyan. Namun, ada beberapa aturan yang wajib dihormati.
Pengunjung dianjurkan mengenakan pakaian yang sopan, menjaga ketenangan, serta tidak bercanda berlebihan di area pemakaman.
Sebelum mengambil foto, terutama di kawasan yang dianggap sakral, sebaiknya meminta izin kepada pemandu atau warga setempat.
Selain itu, jangan pernah mengambil benda apa pun dari area pemakaman, termasuk tulang-belulang atau barang peninggalan yang ada di lokasi. Menghormati adat menjadi syarat utama agar kunjungan tetap berjalan dengan baik.
Tapi worthit nggak sih kalau kita ke sana? Nah, kalau kamu tipe traveler yang suka mencari pengalaman berbeda, jawabannya tentu iya.
Desa Trunyan menawarkan sisi lain Bali yang mungkin belum pernah kamu lihat sebelumnya. Bukan soal kemewahan resort atau ramainya pantai, melainkan tentang bagaimana sebuah komunitas berhasil menjaga tradisi, budaya, dan identitasnya selama ratusan tahun.
Perjalanan menyeberangi Danau Batur, suasana desa yang tenang, hingga kisah di balik tradisi Mepasah akan membuatmu menyadari bahwa Bali bukan hanya tentang liburan, tetapi juga tentang warisan budaya yang masih hidup hingga sekarang.




















