Indonesia Unggul Jumlah Kampus, tetapi Tertinggal dalam Lulusan STEM: Apa Penyebabnya? Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah perguruan tinggi terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Namun, banyaknya kampus ternyata belum otomatis menghasilkan banyak lulusan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Data Education at a Glance 2024 yang diolah Politika Research & Consulting menunjukkan bahwa proporsi lulusan STEM di Indonesia baru mencapai 18,5 persen. Angka ini masih jauh di bawah Malaysia (43,5 persen) dan Singapura (34,3 persen).
Jumlah Perguruan Tinggi
Indonesia menguasai sekitar 52,2 persen total perguruan tinggi di ASEAN dengan estimasi 3.300 institusi. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding Filipina (1.977), Vietnam (240), Malaysia (200), dan negara ASEAN lainnya.
Fakta ini menunjukkan bahwa akses pendidikan tinggi di Indonesia relatif luas. Kampus tersedia di hampir seluruh provinsi, baik negeri maupun swasta.
Namun, keunggulan jumlah institusi tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas maupun arah kompetensi lulusan.
Persentase Lulusan STEM
Di tengah dominasi jumlah kampus, Indonesia justru memiliki proporsi lulusan STEM yang relatif rendah. Data menunjukkan:
- Indonesia: 18,5%
- Malaysia: 43,5%
- Singapura: 34,3%
Artinya, dari setiap 100 lulusan perguruan tinggi di Indonesia, hanya sekitar 18–19 orang yang berasal dari bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.
Padahal, bidang STEM merupakan fondasi penting bagi transformasi digital, industri manufaktur, kecerdasan buatan, energi terbarukan, hingga riset kesehatan.
Rendahnya proporsi lulusan STEM bukan sekadar persoalan angka, tetapi juga berkaitan dengan daya saing ekonomi dan kemampuan menarik investasi.
Magnet Investasi
Dari data terbitan Politika Research & Consulting disebutkan bahwa Malaysia memiliki proporsi lulusan STEM sebesar 43,5 persen. Ketersediaan tenaga kerja terampil menjadi salah satu faktor yang mendukung pengembangan ekosistem teknologi di negara tersebut.
Ini menjadi bukti bahwa negara dengan pasokan talenta STEM yang kuat cenderung lebih mudah menarik investasi berbasis teknologi.
Bagi investor global, keberadaan lulusan STEM berarti tersedianya sumber daya manusia yang siap bekerja di sektor teknologi, rekayasa, data, dan riset.
Karena itu, rendahnya jumlah lulusan STEM di Indonesia dapat berdampak pada kemampuan negara dalam memenuhi kebutuhan industri masa depan.
Porsi Beasiswa LPDP
Pemerintah sebenarnya telah mulai mendorong penguatan STEM melalui kebijakan pendanaan pendidikan. Porsi beasiswa LPDP untuk bidang STEM terus meningkat:
- 2013–2022: 47%
- 2023: 52%
- 2024: 58%
- Target 2025: 67%
- Arah kebijakan 2026: 80%
Kenaikan ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta di bidang sains dan teknologi.
Meski demikian, peningkatan beasiswa belum otomatis menaikkan jumlah lulusan STEM secara signifikan. Masalahnya tidak hanya terletak pada pendanaan, tetapi juga pada ekosistem pendidikan dan industri.
Lulusan STEM
Rendahnya proporsi lulusan STEM di Indonesia tentu tidak terjadi tanpa sebab. Persoalan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Merangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa penyebab tertinggalnya lulusan STEM di Indonesia:
- Minat terhadap jurusan STEM masih rendah. Banyak siswa lebih memilih jurusan non-STEM yang dianggap lebih mudah atau sesuai dengan minat mereka.
- Kemampuan dasar matematika dan sains masih perlu diperkuat. Hasil PISA menunjukkan literasi matematika dan sains siswa Indonesia masih menjadi tantangan.
- Pembelajaran dan fasilitas STEM belum optimal. Proses belajar masih cenderung teoretis, sementara fasilitas laboratorium dan teknologi belum merata di semua daerah.
- Keterkaitan dengan dunia kerja masih terbatas. Kolaborasi kampus dan industri serta gambaran prospek karier STEM belum cukup kuat untuk menarik lebih banyak mahasiswa.
Banyaknya perguruan tinggi menjadi potensi besar bagi Indonesia. Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan potensi tersebut mampu melahirkan lebih banyak lulusan STEM yang kompeten, inovatif, dan berdaya saing global.




















