Sejumlah Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah pada Sabtu memperingatkan warga negara AS di kawasan tersebut agar berhati-hati dan bersiap menghadapi pembatalan penerbangan. Peringatan ini muncul karena meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS.
Dikutip dari CNBC, pada Minggu, 2 Agustus 2026, Kedutaan Besar AS di Irak, Yordania, dan Uni Emirat Arab masing-masing memperingatkan warga negara AS agar mempertimbangkan untuk segera meninggalkan kawasan tersebut, atau bersiap untuk pergi jika konflik semakin meningkat.
Seorang pejabat senior pemerintah Teluk dan seorang diplomat asing yang bertugas di kawasan Teluk mengatakan kepada MS NOW bahwa kawasan tersebut berada dalam siaga tinggi menjelang kemungkinan meningkatnya aksi militer dalam beberapa hari ke depan. Kedua pejabat yang enggan disebutkan namanya menambahkan, akan terjadi gangguan signifikan di seluruh kawasan.
Peringatan Serangan


Salah satu pejabat tersebut mengatakan, negara-negara Teluk telah menerima pengarahan mengenai potensi serangan AS dan Israel terhadap infrastruktur energi di Iran. Menurut para diplomat, jika serangan tersebut benar-benar terjadi, Iran diperkirakan akan membalas dengan menyerang fasilitas energi di kawasan Teluk.
Peringatan tersebut muncul setelah sebuah kapal tanker di dekat Oman melaporkan telah diserang pada malam hari, sementara kapal tanker lain menyatakan melihat ledakan di sekitarnya.
Iran sendiri sudah memperingatkan Washington bahwa blokade Selat Hormuz oleh militer AS akan mengakibatkan penutupan rute pelayaran utama.
Di samping itu, Kuwait juga menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menangkis serangan pesawat nirawak atau drone musuh dari Iran.
Sinyal Trump


Konflik terbaru ini terjadi di tengah laporan media AS bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mempersiapkan serangkaian serangan baru terhadap Iran paling cepat akhir pekan ini. Harapan akan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi yang dimulai sejak perang pecah pada 28 Februari semakin memudar, sementara harga energi terus melonjak.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kepada mitranya dari Arab Saudi dalam percakapan telepon pada Sabtu bahwa setiap bentuk agresi oleh AS dan Israel atau keterlibatan negara-negara regional akan dibalas dengan respons yang tegas dan proporsional.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (United Kingdom Maritime Trade Operations Centre/UKMTO) mengatakan pada Sabtu, mereka menerima laporan sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal yang menyebabkan kerusakan pada ruang mesin.
Kapal tanker tersebut kehilangan kendali dan penjaga pantai regional telah diberi tahu. Tidak ada laporan korban jiwa maupun dampak terhadap lingkungan,”
kata UKMTO mengenai insiden yang terjadi sekitar 11 mil laut di timur laut Oman.
UKMTO juga menyebut kapal tanker lain di perairan Oman melaporkan melihat ledakan besar dan semburan air yang terjadi sangat dekat dengan kapal.
Runtuhnya Gencatan Senjata


Adapun gencatan senjata sementara setelah penandatanganan nota kesepahaman antara AS dan Iran pada 17 Juni kini praktis telah runtuh. Kedua pihak tetap bersikeras pada isu-isu utama, termasuk program nuklir Iran dan penguasaan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selama seminggu terakhir, AS menyelesaikan gelombang besar serangan terhadap Iran, yang menghantam puluhan target milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sebagai balasan, Iran menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Mesir mengatakan pada Kamis bahwa sebuah drone menghantam dua kapal di pelabuhan Damietta di Laut Mediterania, yang memicu kebakaran. Tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, yang menandai serangan pertama di wilayah Mesir sejak perang dimulai dan menjadi tanda lain bahwa konflik ini semakin meluas.
Sementara pada Jumat, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 1 persen dan ditutup pada US$84,67 per barel. Minyak mentah Brent juga naik lebih dari 1 persen dan ditutup sebesar US$90,12 per barel.


























