Kalau biasanya permainan sepak bola itu pakainya bola yang terbuat dari kulit, karet, ataupun plastik, tapi pernah kebayang nggak sih kalau ada permainan sepak bola yang pakai bola api?
Iya, bolanya justru terbuat dari batok kelapa yang dibakar sampai menyala? Mungkin kedengarannya kayak adegan film laga ya, tapi nyatanya permainan ini memang benar-benar ada, lho.
Namannya Lalilang atau lebih dikenal dengan sepak bola api, permainan tradisional ini berasal dari Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Melansir dari Perpustakaan Digital Nasional Indonesia, Laliang merupakan permainan tradisional khas Indonesia yang kini juga dikenal di berbagai daerah, termasuk sejumlah pondok pesantren di Pulau Jawa.
Biasanya permainan ini digelar untuk memeriahkan bulan Ramadhan atau perayaan tertentu.
Meski terlihat ekstrem, Laliang ternyata bukan sekadar adu nekat. Karena di balik kobaran api yang menyala, ada filosofi tentang keberanian, kekompakan, hingga pengendalian diri.
Pakai Bola Api?
Kalau dilihat sekilas, aturan permainan Laliang sebenarnya hampir sama seperti sepak bola pada umumnya yaitu, ada dua tim yang saling berebut mencetak gol ke gawang lawan.
Yang membedakan dari bola yang dipakai, yaitu bola yang terbuat dari batok kelapa yang sudah dikeringkan. Batok tersebut kemudian direndam dalam minyak tanah selama beberapa hari agar mudah menyala dan api bisa bertahan lebih lama saat pertandingan berlangsung.
Setelah dibakar, bola pun siap dimainkan. Karena berlangsung pada malam hari, kobaran api dari bola menciptakan pemandangan yang dramatis sekaligus memukau penonton.
Cara Bermain Laliang
Menurut Perpustakaan Digital Nasional Indonesia, Laliang dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan sekitar lima orang.
Lapangan yang digunakan biasanya tidak sebesar lapangan sepak bola, melainkan lebih mirip ukuran lapangan futsal. Menariknya lagi, permainan ini umumnya tidak menggunakan penjaga gawang.
Tim yang paling banyak memasukkan bola api ke gawang lawan akan keluar sebagai pemenang.
Meski terlihat sederhana, permainan ini membutuhkan konsentrasi, kerja sama tim, dan tentu saja keberanian ekstra.
Kalau melihat pemain menendang bola yang sedang terbakar mungkin bikin banyak orang bertanya-tanya, “Emang nggak kepanasan?“
Padahal jawabannya, tentu saja panas. Karena itulah Laliang hanya boleh dimainkan oleh orang dewasa yang sudah memahami teknik bermainnya, permainan ini punya resiko cedera seperti kulit melepuh atau terkena percikan api jika tidak berhati-hati.
Di sejumlah daerah, terutama di lingkungan pesantren, para pemain bahkan menjalani persiapan atau ritual tertentu sebelum pertandingan dimulai. Ritual ini berbeda-beda tergantung tradisi yang berkembang di masing-masing daerah.
Filosofi Permainan Laliang
Jangan salah, Laliang bukan sekadar hiburan yang memacu adrenalin. Permainan ini dimaknai sebagai simbol keberanian dan kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi maupun hawa nafsu.
Tak hanya itu, setiap pertandingan juga mengajarkan nilai sportivitas, kekompakan, disiplin, dan kerja sama antar pemain.
Karena biasanya disaksikan banyak warga, Laliang juga menjadi ajang berkumpulnya masyarakat. Suasana inilah yang membuat permainan tradisional tersebut bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar warga.
Di tengah ramainya game online dan berbagai olahraga modern, Laliang membuktikan kalau Indonesia punya permainan tradisional yang nggak kalah unik.
Memang, permainan ini terlihat ekstrim dan tidak bisa dimainkan sembarangan. Namun di balik kobaran api yang menyala, tersimpan sejarah panjang dan nilai budaya yang patut dijaga.
Sebagai generasi muda, mengenal Laliang menjadi salah satu cara sederhana untuk ikut melestarikan warisan budaya Indonesia. Siapa tahu, setelah tahu ceritanya, kamu jadi makin bangga kalau negeri ini punya tradisi sekeren ini.





















