Utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh akan diselesaikan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui Special Mission Vehicle (SMV). Penyelesaian utang itu diklaim tidak akan membebani Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli mengatakan memang pemindahan utang ke SMV membuat kewajiban berstatus off-balance sheet atau tidak tercatat sebagai beban langsung dalam postur APBN. Namun, berpotensi menimbulkan kewajiban kontinjensi alias kewajiban nyata yang dinilai kurang transparan.
Kalau dibilang tidak membebani tidak betul juga, karena utang tersebut malah menjadi kewajiban kontinjensi (contingent liability). Lebih lagi kewajiban kontinjensi yang tidak transparan,”
ujar Dipo kepada Owrite Jumat, 7 Agustus 2026.
Jadi Sentimen Buruk


Dipo mengingatkan, lembaga pemeringkat internasional akan menyoroti pemindahan utang Whoosh, yang mana berpotensi menjadi sentimen buruk terhadap RI.
Rating agency biasanya sangat membaca hal-hal seperti ini, jadi bukan hanya angka defisit. Persepsi kurang baik karena dari Moody’s & Fitch sudah memberikan kekhawatiran terhadap transparansi,”
terangnya.
Selain itu, Dipo mengatakan bahwa proyek Whoosh memiliki tantangan lain karena mengalami pembengkakan biaya atau cost overrun, serta melibatkan pinjaman dari China Development Bank (CDB).
Apalagi project ini memang ada cost overrun dan ada unsur utang geopolitik (CDB China),”
tuturnya.
Restrukturisasi Dinilai Lebih Tepat
Dipo menilai, pemerintah seharusnya tidak perlu mengalihkan utang Whoosh ke SMV. Menurutnya, penyelesaian utang melalui mekanisme restrukturisasi adalah langkah yang lebih lazim dan lebih transparan.
Enggak perlu pakai pindah-pindah, yang biasa aja. Kalau lagi restrukturisasi utang haircut, perpanjang tenor, atau mungkin debt-to-equity swap,”
jelasnya.
Dipo menuturkan, tanpa langkah restrukturisasi yang efektif maka proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung berpotensi menjadi beban jangka panjang bagi negara.
Tanpa langkah inovatif, project ini akan jadi beban bangsa, terutama karena cost overrun,”
katanya.


Rampung September
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Kemenkeu akan mengambil alih utang Whoosh melalui SMV. Artinya, seluruh saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) ada di bawah Kemenkeu.
Purbaya mengatakan, proses pengalihan tersebut ditargetkan rampung pada pertengahan September 2026. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
Kereta Cepat Jakarta-Bandung ini kan diserahkan dari Danantara, kasih ke Kementerian Keuangan. Prosesnya akan kita percepat mungkin pertengahan September sudah akan clear,”
ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.
Purbaya memastikan, penyelesaian restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung tidak akan membebani Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Kepastian ini karena pengelolaan utang tersebut akan ditarik ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan dikelola oleh SMV atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus di bawah Kemenkeu. Namun, Purbaya tidak mengungkapkan SMV mana yang akan mengelola utang tersebut.






















