Kondisi keuangan masyarakat Indonesia pada Juli 2026 mulai menunjukkan sinyal kehati-hatian. Sebab, proporsi pendapatan yang digunakan untuk menabung dan konsumsi turun, namun cicilan masyarakat justru naik.
Berdasarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa proporsi pembayaran cicilan atau utang (debt installment to income ratio) naik menjadi 10,4 persen.
Proporsi pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) sebesar 10,5 persen sedikit lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 10,0 persen,”
tulis laporan BI dikutip Senin, 10 Agustus 2026.
Konsumsi Turun


Sedangkan rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat sebesar 72,7 persen atau turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 73 persen.
Lalu proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 16,8 persen atau turun dari bulan sebelumnya yang sebesar 17 persen.
Lebih lanjut BI mengungkapkan, proporsi konsumsi terhadap pendapatan yang terindikasi menurun ada pada kelompok pengeluaran Rp2,1-Rp3 juta dari 75,2 persen menjadi 73,5 persen, Rp4,1-Rp5 juta dari 71,9 persen menjadi 71,3 persen, dan lebih dari Rp5 juta dari 70,9 persen menjadi 69 persen.
Bayar Cicilan Naik


Sedangkan pada kelompok pengeluaran lainnya, proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi meningkat. Sementara itu, porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan mengalami peningkatan pada sebagian besar kelompok pengeluaran.
Misalnya kelompok pengeluaran Rp2,1 juta-Rp3 juta naik dari 9,2 persen ke 10,3 persen, Rp3,1 juta-4 juta dari 10,8 persen menjadi 11,3 persen. Kemudian kelompok Rp4,1 juta-Rp5 juta dari 11,4 persen ke 12,7 persen, dan lebih dari Rp5 juta dari 11,5 persen menjadi 13 persen.






















