Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menempatkan Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam tiga besar menteri dengan kinerja terbaik menuai sorotan.
Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa unggul Jamiluddin Ritonga menilai hasil survei tersebut janggal karena tak sejalan dengan kenyataan yang tengah berkembang terutama terkait ekonomi, politik, dan hukum.
Menurut dia, persoalan di tiga sektor itu justru menunjukkan adanya ketidakpuasan publik terhadap kinerja pemerintah.
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) yang menempatkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai tiga besar dengan kinerja terbaik tentu menimbulkan tanda tanya besar,”
kata Jamil, sapaan akrabnya kepada Owrite, Rabu, 12 Agustus 2026.
Ia menyebut temuan IPO berbeda dengan hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC). Sebab, dari temuan SMRC ditemukan persoalan ketidakpuasan publik terhadap kinerja menteri di bidang ekonomi, politik, dan penegakan hukum.
Maka itu, Jamil menilai ada pertanyaan yang perlu dijawab terkait metodologi survei IPO, terutama menyangkut sampel yang digunakan.
Menurutnya, perbedaan hasil survei memang bisa terjadi karena perbedaan sampel, tetapi persoalannya adalah apakah sampel tersebut benar-benar representatif.
Perbedaan hasil itu bisa saja terjadi karena berbeda sampel yang diteliti. Akibatnya sampel yang diambil tidak memenuhi syarat representatif dan presisi tinggi,”
ujarnya.
Lebih lanjut, Jamil menyebut lembaga survei selama ini dinilai belum selalu memaparkan secara gamblang karakteristik sampel. Begitu juga metode memperoleh sampel hingga mekanisme pengendalian kualitas penelitian.
Mengenai sampel ini, termasuk karakteristiknya, lembaga survei memang jarang memaparkannya secara gamblang. Termasuk tentunya cara memperoleh sampelnya dan cara memastikan kualitas kontrol hasil penelitiannya,”
katanya.
Menurut dia, kondisi itu membuat publik kesulitan mengukur apakah hasil survei tersebut cukup layak untuk digeneralisasikan.
Karena itu, sulit bagi publik untuk memastikan kelayakan hasil survei tersebut untuk digeneralisasikan,”
jelas Jamil.
Tak hanya soal sampel, Jamil juga menyoroti transparansi pembiayaan survei. Dia bilang publik perlu mengetahui siapa pihak yang diduga membiayai survei. Sebab, ia menekankan lembaga survei di Indonesia dinilai belum sepenuhnya mandiri secara finansial.
Lembaga survei juga tak terbuka mengenai pihak yang membiayai surveinya. Padahal, kita tahu, umumnya lembaga survei di Indonesia belum mandiri secara finansial,”
ujar eks Dekan FIKOM Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta itu.
Dengan sejumlah persoalan tersebut, Jamil menilai hasil survei IPO layak diperdebatkan. Terlebih, menurut dia, hasil survei mestinya turut merefleksikan isu yang berkembang ketika survei dilakukan.
Jadi, temuan IPO itu memang layak diperdebatkan. Sebab, hasil survei umumnya dipengaruhi oleh isu yang berkembang saat survei dilaksanakan,”
kata Jamil.
Ia bahkan menilai hasil survei IPO berlawanan dengan kondisi yang seharusnya tercermin dari isu ekonomi, politik, dan hukum yang tengah menjadi perhatian publik.
Sangat tidak logis bila menteri di tiga bidang ini akan dinilai kinerjanya terbaik. Menteri-menteri di tiga bidang itu justru selayaknya di-reshuffle. Sebab, kepuasan masyarakat terhadap kinerja mereka relatif rendah,”
ujar Jamil.
Temuan survei terbaru IPO melaporkan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa berada di posisi pertama dengan penilaian positif 42,8 persen. Kedua, ada Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dengan 33,5 persen, lalu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebesar 32 persen.
Kemudian, ada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memperoleh penilaian positif 30,9 persen, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas 26,5 persen, dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 25,3 persen.
Survei terbaru IPO dilakukan dalam kurun waktu 27 Juli-3 Agustus 2026. Sebanyak 1.200 responden dilibatkan dengan metode stratified multistage random sampling. Survei IPO memiliki margin of error 2,9 persen dengan tingkat akurasi 95 persen.























