Menyemprotkan parfum ke leher atau bagian tubuh lain sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang.
Namun, belakangan kebiasaan ini kembali menjadi perhatian setelah beredar video dari Ana Canadas, peneliti kanker yang membahas potensi paparan bahan kimia dari parfum.
Dalam videonya yang diunggah pada 12 Juli 2026 di laman Instagramnya @healthwana, Canadas mengingatkan bahwa parfum merupakan campuran berbagai bahan kimia.
Ia menyoroti sejumlah senyawa yang dapat ditemukan dalam produk wewangian, seperti phthalates dan senyawa organik volatil atau volatile organic compounds (VOCs).
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Pakar Multiomics Cancer IPB University, dr Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed.
Ia menjelaskan bahwa secara ilmiah terdapat indikasi hubungan antara penggunaan parfum dan gangguan kelenjar tiroid, meskipun kaitannya dengan kanker tiroid belum terbukti secara langsung.
Benarkah menyemprot parfum langsung ke kulit, terutama area leher, dapat membahayakan kesehatan?
Menyemprot Parfum ke Kulit
Melansir dari laman Alodokter (4 Oktober 2018), parfum seperti Eau de Parfum (EDP) dan Eau de Toilette (EDT) memang dirancang untuk digunakan sebagai produk wewangian pada tubuh. Bagi kebanyakan orang, pemakaian sesuai petunjuk tidak menimbulkan masalah serius.
Namun, parfum mengandung berbagai bahan yang pada sebagian orang dapat menyebabkan iritasi, alergi, kulit kering, atau sensitivitas terhadap sinar matahari.
Risiko Semprot Parfum
Bahan pewangi tertentu dapat menyebabkan kulit terasa perih, gatal, kering, atau kemerahan. Risiko ini lebih mungkin terjadi pada orang yang memiliki kulit sensitif atau alergi terhadap bahan tertentu.
Beberapa komponen pewangi, seperti linalool dan limonene, juga dikenal dapat menjadi pemicu dermatitis kontak pada orang tertentu.
Kemudian sebagian parfum menggunakan alkohol sebagai bahan pelarut. Penggunaan secara berlebihan dapat membuat kulit terasa lebih kering, terutama pada orang yang memang memiliki kulit sensitif.
Kekhawatiran Kelenjar Tiroid
Menurut dr Agil Wahyu Wicaksono, terdapat indikasi hubungan antara paparan bahan kimia tertentu dalam parfum dan gangguan kelenjar tiroid.
Ia menjelaskan bahwa parfum atau cologne dapat mengandung bahan seperti phthalates, parabens, dan triclosan. Yang mana bahan tersebut termasuk kelompok yang dapat berinteraksi dengan sistem hormonal atau dikenal sebagai endocrine disruptors.
Kebiasaan menyemprotkan parfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid. Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung,”
ujar dr Agil.
Menurutnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara sejumlah paraben juga dapat memengaruhi keseimbangan sistem endokrin.
Tips Aman Semprot Parfum
Untuk mengurangi paparan yang tidak perlu, beberapa kebiasaan sederhana dapat dilakukan.
1. Semprotkan pada Pakaian
Jika kulit mudah mengalami iritasi, parfum dapat disemprotkan pada pakaian sebagai alternatif. Namun, lakukan tes terlebih dahulu karena beberapa jenis parfum dapat meninggalkan noda pada kain tertentu.
2. Hindari Penggunaan Berlebihan
Tidak perlu menyemprotkan parfum dalam jumlah banyak. Menggunakan secukupnya dapat membantu mengurangi paparan bahan kimia yang tidak diperlukan.
3. Jangan Gunakan pada Kulit yang Iritasi
Hindari menyemprot parfum pada kulit yang sedang luka, mengalami ruam, atau baru dicukur jika terasa sensitif.
4. Pertimbangkan Mengurangi Pemakaian di Leher
Jika ingin mengurangi paparan langsung pada kulit, parfum dapat digunakan pada pakaian dan tidak harus disemprotkan setiap hari pada area leher.
5. Perhatikan Label Produk
dr Agil menyarankan masyarakat yang ingin mengurangi paparan bahan tertentu untuk mempertimbangkan produk yang mencantumkan label seperti “phthalate-free” atau “paraben-free”.
Meski begitu, label tersebut tetap perlu dibaca bersama daftar bahan dan informasi penggunaan pada kemasan.
Bolehkah Semprot ke Kulit?
Menyemprot parfum langsung ke kulit tidak otomatis berbahaya. Parfum memang dirancang sebagai produk wewangian dan umumnya aman digunakan sesuai petunjuk.
Namun, sebagian orang dapat mengalami iritasi atau alergi terhadap bahan tertentu. Di sisi lain, penelitian mengenai paparan bahan kimia dalam produk wewangian dan kemungkinan pengaruhnya terhadap sistem hormonal masih terus berkembang.
Jadi, tidak perlu langsung berhenti menggunakan parfum karena takut kanker. Namun, menggunakan parfum secukupnya, menghindari pemakaian berlebihan, serta mempertimbangkan menyemprotkannya pada pakaian dapat menjadi pilihan bagi orang yang ingin mengurangi paparan langsung pada kulit.

















