Laporan investigasi media asal Inggris, The Guardian berhasil mengungkap keberadaan jaringan ‘pabrik meme’ yang menyebarkan konten politik provokatif atau engagement bait menyangkut Pauline Hanson dan Partai One Nation.
Para kreator disebut memproduksi serta menyebarkan konten politik yang menyasar isu sensitif mengenai AS-Australia seperti islam dan imigrasi di Facebook demi mendapatkan uang dari program monetisasi Meta.
Laporan berjudul Inside a meme factory: meet one of thousands of indonesians trading political outrage clicks for Facebook cash yang terbit pada 9 Agustus 2026 ini menyoroti aktivitas sejumlah kreator asal Indonesia yang membuat konten berbau politik untuk menyasar pengguna AS dan Australia.
Dari 14 grup publik yang terdiri dari 8.000 lebih anggota pendukung One Nation yang ditelusuri The Guardian, mayoritas grup dibuat di tahun 2026 dan sebagian besar kontennya disebut berasal dari kreator asing, terutama dari Indonesia.
The Guardian mewawancarai Adira (nama samaran), perempuan yang tinggal di Jawa Barat. Ia merupakan salah satu orang yang aktif mengunggah konten di berbagai grup Facebook pendukung Politikus Australia Pauline Hanson serta sejumlah tokoh konservatif seperti Charlie Kirk, JD Vance, dan Pete Hegseth.
Adira mengaku tidak dibayar oleh agensi politik tertentu, tapi murni untuk mengejar pendapatan dari MEta berdasarkan interaksi yang diperoleh konten.
Kami hanya mencoba mendapatkan lebih banyak dolar. Tidak ada niat ke kanan atau ke kiri,”
kata Adira dikutip dari The Guardian.
Dalam aktivitasnya, Adira mengaku mengunggah foto Pauline Hanson dan mengajak anggota grup untuk berdiskusi mengenai komentar politikus tersebut tentang Islam dan kehidupan di Australia.
Ia juga beberapa kali mengunggah gambar buatan artificial intelligence (AI), termasuk gambar seorang anak berhijab yang memegang tulisan bernada provokatif mengenai keberadaan siswa muslim di sekolah.
Selain join di grup yang berkaitan dengan Pauline Hanson, ia juga aktif di sejumlah grup bertema politik AS, seperti gabung grup “I love the USA’, “JD VANCE 2028” serta “Pete Hegseth fans”.
Banyak “Pemain”
Adira mengaku dia bukanlah satu-satunya kreator asal Indonesia di grup tersebut. Ia sering berbagi informasi dengan sesama kreator Indonesia melalui grup Facebook dan WhatsApp untuk mencari grup komunitas mana yang berpotensi menghasilkan pendapatan lebih besar.
The Guardian menemukan bahwa sebagian konten yang dibuat memang untuk memancing respon pengguna lainnya, seperti menjawab pertanyaan “iya” atau “tidak”. Pola seperti ini disebut sebagai outrage atau poll bait yang dirancang untuk meningkatkan interaksi.
The Guardian mengaitkan aktivitas ini dengan fenomena ekonomi “buzzer” yang ada di Indonesia, dimana akun-akun disewa untuk memperkuat pesan tertentu di media sosial, baik untuk kepentingan komersial maupun politik.
Associate Professor Australia National University Ross Tapsell menjelaskan istilah buzzer ini merupakan gambaran dari banyak akun yang secara bersama-sama menghasilkan “kebisingan” di ruang digital.
Ekosistem seperti ini dapat menarik masyarakat yang rentan secara ekonomi, karena pekerjaan ini tidak membutuhkan keterampilan maupun modal besar.
Monetisasi
Peneliti media digital Queensland University of technology Associate Professor Timothy Graham menilai, fenomena seperti ini bisa muncul karena model monetisasi Meta yang menciptakan insentif atau pembayaran kepada kreator berdasarkan performa konten, termasuk jumlah orang yang melihat dan berinteraksi di unggahan.
The Guardian melaporkan pada 2025, Meta telah membayar hampir 3 miliar dolar AS kepada kreator yang mengunggah konten berupa reels, foto, maupun postingan teks.
Graham menilai fenomena ini tidak lepas dari kreator saja, tapi juga pada sistem platform yang memberikan keuntungan finansial dari tingginya interaksi.
Jika ingin menghentikan masalah ini, Anda harus menghentikan Meta mengeksploitasi populasi untuk mendapatkan uang,”
ujarnya.
The Guardian juga mengungkap karena monetisasi sistem Meta ini, membuat akun asal India yang sebelumnya mengunggah konten berbahasa Hindi mengenai politik India, kemudian beralih memproduksi konten yang berfokus pada politik Australia.
Profesor studi internet Curtin University Crystal Abidin mengatakan “meme factory” tidak selalu berbentuk perusahaan besar. Karena aktivitas ini bisa dilakukan satu orang menggunakan banyak perangkat atau melibatkan puluhan orang yang bekerja secara terkoordinasi.
Ia juga menilai konten kontroversial dapat menguntungkan karena kemarahan, kebencian, dan kontroversi mampu menghasilkan klik serta interaksi.
Sementara itu, Meta mengatakan kepada The Guardian bahwa tujuh dari 14 grup pendukung Hanson yang sebelumnya diidentifikasi dalam investigasi telah ditangguhkan karena melanggar kebijakan platform.
Kasus seperti ini menunjukkan bagaimana insentif monetisasi media sosial dapat membuat konten politik diproduksi bukan karena kepentingan politik, melainkan demi mengejar jumlah tayangan, komentar, dan pendapatan.




















