Pendidikan Indonesia didorong untuk memiliki standar yang semakin tinggi agar anak-anak mendapat akses terhadap pembelajaran berkualitas dan mampu bersaing di tingkat global.
Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat 14 Agustus 2026.
Prabowo menyoroti sejumlah upaya pemerintah di bidang pendidikan, mulai dari penyediaan layar pintar interaktif (IFP), akses pembelajaran jarak jauh, penguasaan bahasa asing sejak SD, hingga pengembangan Sekolah Rakyat.
Perbanyak Distribusi IFP
Salah satu upaya mendukung kemajuan teknologi di bidang pendidikan adalah pemerintah terus memperluas penggunaan layar pintar interaktif atau Interactive Flat Panel (IFP).
Sebelumnya, satu layar telah dibagikan ke setiap sekolah, kemudian akan ditambah tiga layar di akhir tahun ini, sehingga nantinya terdapat empat ruang kelas yang dilengkapi IFP.
Teknologi tersebut diharapkan memberikan akses lebih luas kepada guru dan siswa terhadap kurikulum serta berbagai konten pembelajaran. Siswa juga dapat mengulang materi apabila belum memahami pelajaran.
Pemerintah juga akan membangun studio pembelajaran terpusat yang melibatkan guru-guru terbaik. Melalui siaran jarak jauh, materi pembelajaran dari guru tersebut dapat diakses oleh ribuan sekolah. Upaya ini dilakukan agar pendidikan berkualitas tidak hanya terpusat di wilayah tertentu.
Bahasa Asing Sejak Dini
Selain teknologi, Prabowo menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing sejak usia dini. Ia menyebut pembelajaran bahasa asing perlu dimulai sejak kelas 1 SD karena anak-anak di bawah 12 tahun lebih cepat mempelajari bahasa.
Kita akan mulai bahasa asing untuk anak-anak kita mulai dari SD, SD kelas 1 mereka harus mulai bahasa asing,”
kata Prabowo dalam pidatonya.
Sejumlah bahasa yang disebut penting untuk dikuasai antara lain bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, dan Prancis. Prabowo juga menyinggung bahasa Rusia karena negara tersebut dinilai memiliki kekuatan dalam bidang sains dan teknologi.
Persiapkan Tenaga Kerja
Penguasaan bahasa asing, menurut Prabowo, juga berkaitan dengan peluang anak Indonesia untuk bekerja di berbagai negara.
Ia menyebut sejumlah negara saat ini membutuhkan tenaga kerja, termasuk untuk sektor pariwisata, rumah sakit, keperawatan, dan caregiver.
Kemampuan bahasa dinilai menjadi salah satu bekal penting agar tenaga kerja Indonesia dapat bekerja dengan pihak dari berbagai negara.
Ditambah ia menilai masyarakat Indonesia memiliki sejumlah keunggulan, seperti dikenal ramah, ulet, dan sopan. Dengan pendidikan serta kemampuan bahasa yang lebih baik, tenaga kerja Indonesia diharapkan semakin kompetitif di tingkat global.
Sekolah Rakyat Solusi
Selain memperluas akses pendidikan melalui teknologi, pemerintah juga menjalankan program Sekolah Rakyat bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Program ini ditujukan untuk membantu anak-anak dari keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi agar tetap mendapatkan pendidikan yang layak.
Saat ini, 31 Sekolah Rakyat telah dibuka, sementara sekolah rakyat rintisan disebut telah mencapai 182. Ke depan, pemerintah menargetkan keberadaan Sekolah Rakyat di setiap kabupaten.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menghadirkan sejumlah siswa Sekolah Rakyat yang dinilai berhasil mendapatkan kembali kesempatan untuk belajar.
Dan menyampaikan bahwa tujuh siswa Sekolah Rakyat di Makassar berhasil meraih prestasi dalam Olimpiade Nasional Indonesia ke-15. Mereka berprestasi di sejumlah bidang, termasuk matematika, biologi, bahasa Indonesia, sejarah, dan sosiologi.
Investasi Berharga
Menurut Prabowo, capaian program Sekolah Rakyat menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu juga dapat mencapai prestasi tinggi ketika mendapatkan fasilitas dan pendampingan yang memadai. Ia menegaskan pemerintah ingin memastikan setiap anak Indonesia memiliki masa depan dan kesempatan yang baik.
Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak,”
ujar Prabowo.
Prabowo menegaskan bahwa tidak boleh ada anak Indonesia yang ditinggalkan dalam mendapatkan kesempatan pendidikan.

















