DPR RI menaruh perhatian khusus pada penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menelan korban jiwa.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan DPR telah mengirimkan perwakilan untuk berkoordinasi dengan pemerintah perihalk penanganan dampak gempa.
“DPR RI telah mengirimkan perwakilan pada 16 Agustus ke NTT dan telah mengadakan rapat koordinasi dengan pemerintah dalam menjalankan fungsi pengawasan, serta mendorong pemerintah mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk segera menangani dampak dari bencana,”
kata Dasco dalam pembukaan Rapat Paripurna DPR RI ke-2 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027, di Kompleks Parlemen, Selasa, 18 Agustus 2026.
Penyesuaian Kas
Tak hanya mengandalkan fungsi pengawasan, DPR akan kembali mengirimkan pimpinan dan anggota dewan bersama Menteri Keuangan serta sejumlah menteri terkait ke wilayah terdampak. Tujuan kunjungan demi memastikan bantuan dapat segera disalurkan, sekaligus mendorong penyesuaian anggaran.
“Esok hari, DPR juga telah menugaskan beberapa pimpinan dan anggota, beserta Menteri Keuangan dan menteri terkait lainnya untuk berangkat ke NTT (guna) memberikan bantuan-bantuan, serta mendorong relokasi anggaran yang dianggap perlu,”
ujar dia.
Atas nama pimpinan dan seluruh anggota DPR, Dasco menyampaikan duka cita kepada para korban gempa NTT. Ia mendoakan para korban dan berharap keluarga yang ditinggalkan segera mendapat penanganan,
“Semoga para korban yang meninggal dunia mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala dan keluarga yang ditinggalkan dapat ditangani segera,”
ucap Dasco.
Permulaan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi tektonik M7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Pergerakan sesar naik (thrust fault) menyebabkan guncangan kuat dan potensi tsunami.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan gempa bumi dangkal berkedalaman 15 km ini bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Hasil analisis pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa bumi berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT atau 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT.
Masyarakat merasakan dampak guncangan gempa tersebut dalam beberapa tingkat skala intensitas Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala V MMI (membangunkan banyak orang tidur dan terasa oleh hampir semua penduduk): berdampak pada masyarakat di Kota Ende, Kota Borong, serta Kota Ruteng dan Skala VI MMI (mengejutkan semua penduduk hingga berlari keluar): berdampak pada masyarakat di Wolowae (Kabupaten Nagekeo) dan Kota Bajawa.



























