Data korban gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diperbarui. Hingga hari keempat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 70 orang yang dilaporkan meninggal dunia, sementara data Kementerian Kesehatan mencatat 1.182 orang mengalami luka-luka.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, memang terdapat perbedaan jumlah korban luka yang dicatat oleh Basarnas dan Kementerian Kesehatan. Basarnas sebelumnya mencatat ada 132 orang yang mengalami luka-luka, terdiri dari 40 luka berat dan 92 luka ringan.
Sementara itu, data Kementerian Kesehatan mencatat jumlah korban luka hingga 18 Agustus 2026 mencapai 1.182 orang. BNPB menegaskan, perbedaan tersebut terjadi karena dasar pencatatannya berbeda.
Basarnas mencatat orang-orang luka dari apa yang ditemukan, sedangkan angka yang kami sampaikan ini dari Kementerian Kesehatan adalah di fasilitas kesehatan yang sekarang ini melayani,”
kata Berton.
Berdasarkan data Kemenkes, korban luka tersebar di sejumlah kabupaten terdampak. Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak, disusul sejumlah daerah lainnya seperti Manggarai, Nagekeo, Sikka, Ende, Ngada, dan Manggarai Barat.
Selain korban jiwa, jumlah warga yang mengungsi juga mencapai puluhan ribu. BNPB mencatat sementara ada 40.040 jiwa yang mengungsi akibat gempa.
Berton mengingatkan angka tersebut tidak boleh diterjemahkan sebagai jumlah rumah yang rusak. Sebab, sebagian warga mengungsi secara mandiri karena dampak psikologis dan kekhawatiran terhadap kondisi pascagempa.
Data pengungsi itu sebesar 40 ribu 40 jiwa. Ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, jadi perlu kita hati-hati untuk menerjemahkannya,”
ujarnya.
Adapun jumlah rumah yang tercatat mengalami kerusakan mencapai 11.925 unit, terdiri dari 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan dengan Kabupaten Nagekeo, Manggarai Barat, dan Ngada menjadi wilayah dengan jumlah kerusakan rumah yang cukup tinggi.
Penyisiran
Sementara itu, operasi pencarian dan pertolongan memasuki tahap penyisiran. Direktur Operasi Basarnas Laksamana TNI Bramantio mengatakan hingga hari ketiga tidak ada lagi laporan warga yang masih dalam pencarian.
Berdasarkan laporan atau masukan dan data dari para korban, tidak ada lagi saudara-saudara mereka, tetangga, rekan yang tercatat masih dalam pencarian,”
kata Bramantio.
Karena itu, tim SAR yang berada di lapangan kini difokuskan untuk melakukan penyisiran di wilayah terdampak serta membantu perkuatan layanan kesehatan.
Di hari keempat ke depan mungkin kami tinggal melakukan penyisiran dan membantu perkuatan, khususnya di bagian kesehatan,”
ujarnya.






















