Di tengah modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia, ada satu kapal perang TNI Angkatan Laut (TNI AL) yang memiliki sejarah berbeda dibanding kapal tempur lainnya.
Kapal itu adalah KRI Ki Hajar Dewantara-364. Kapal perang yang pernah jadi bagian penting dari armada TNI AL ini bukan sekadar dipakai untuk menjalankan misi operasi.
Kapal perang itu juga punya fungsi khusus sebagai kapal latih bagi Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL).
Kini, kapal tersebut sudah tidak lagi menjadi bagian dari armada aktif. KRI Ki Hajar Dewantara tercatat sudah pensiun pada 2019. Sebagian besar riwayatnya justru dikenang karena peran gandanya sebagai kapal perang sekaligus sarana pendidikan bagi calon perwira TNI AL.
Menariknya, KRI Ki Hajar Dewantara kembali jadi perhatian di tengah pembahasan mengenai pengelolaan aset pertahanan yang sudah tidak aktif.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengusulkan ke DPR RI agar kapal perang latih milik TNI AL itu dijual. Prabowo menyampaikan itu melalui Surat Presiden (Surpres) ke DPR RI.
Surpres dari Prabowo itu disampaikan langsung oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dalam forum rapat paripurna DPR, Selasa, 18 Agustus 2026.
KRI dengan Misi Pendidikan
KRI Ki Hajar Dewantara memiliki keunikan yang sulit ditemukan pada kapal perang lainnya. Kapal ini tidak hanya dirancang untuk menjalankan fungsi tempur.
Namun, kapal itu juga jadi tempat para taruna AAL mendapatkan pengalaman langsung mengenai kehidupan di atas kapal perang.
Mengutip dari laman Musium Seosela Soedarman, Rabu, 19 Agustus 2026, nama kapal itu diambil dari Ki Hajar Dewantara, tokoh nasional yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Sejalan dengan namanya, kapal ini memiliki fungsi pendidikan yang kuat di balik perannya sebagai kapal perang.
KRI Ki Hajar Dewantara-364 dibangun di Galangan Uljanic Ship Yard, Yugoslavia, sebelum dibeli Indonesia pada awal 1980-an. Kapal itu memiliki bobot sekitar 1.850 ton, panjang 96,7 meter, lebar 11,2 meter, serta mampu melaju hingga 26 knot.
Kapal ini juga punya karakteristik unik karena menjadi satu-satunya kapal di armada Indonesia yang tak mempunyai kapal kembar.
Kapal yang disebut memiliki saudara kembar, yakni Ibn Khaldoum yang kemudian berganti nama menjadi Ibn Marjid, sebelumnya digunakan Angkatan Laut Irak. Kapal tersebut kemudian hancur akibat serangan udara Amerika Serikat pada 2003.
Meski memiliki fungsi pendidikan, KRI Ki Hajar Dewantara tetap merupakan kapal perang dengan kemampuan tempur.
Kapal itu dilengkapi meriam Bofors 57 mm, dua kanon Rheinmetall 20 mm, rudal antikapal MM-38 Exocet, rudal permukaan-ke-udara Mistral, torpedo, hingga bom laut untuk peperangan antikapal selam.
Di bagian buritan juga ada helipad yang bisa digunakan untuk helikopter seperti NBO-105 atau Westland Wasp. Namun, fasilitas itu tak dilengkapi hanggar sehingga helikopter tak dapat disimpan di dalam kapal.
Dengan kombinasi persenjataan tersebut, kapal ini pada masanya bukan sekadar kapal untuk mendukung latihan taruna. Tapi, melainkan juga memiliki kemampuan untuk menjalankan misi operasi militer.
Terlibat Operasi Aru Jaya
Salah satu catatan penting dalam perjalanan KRI Ki Hajar Dewantara adalah keterlibatannya dalam Operasi Aru Jaya pada 1992.
Saat itu, kapal tersebut dapat tugas untuk menghadang kapal feri Lusitania Expresso dari Portugal yang hendak memasuki wilayah perairan Timor Timur.
Kapal tersebut diduga akan melakukan aktivitas yang dinilai provokatif sehingga KRI Ki Hajar Dewantara menjalankan misi pencegatan.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian dari sejarah panjang kapal perang yang kemudian lebih dikenal luas karena perannya dalam pendidikan militer.
Fungsi pendidikan menjadi pembeda utama KRI Ki Hajar Dewantara dibanding banyak kapal perang lainnya.
Jika KRI Dewaruci dikenal sebagai kapal layar yang digunakan untuk pendidikan dasar calon perwira TNI AL, KRI Ki Hajar Dewantara memberikan pengalaman lanjutan kepada para taruna tentang bagaimana menjalankan kehidupan dan tugas di kapal perang.
Kapal tersebut bahkan memiliki anjungan khusus untuk latihan. Fasilitas itu memungkinkan para taruna mempelajari navigasi secara langsung tanpa mengganggu aktivitas di anjungan utama.
KRI Ki Hajar Dewantara juga memiliki ruang kelas serta kapasitas akomodasi yang relatif besar untuk mendukung fungsi pendidikannya. Kapal ini dapat menampung sekitar 100 taruna di luar awak kapal dan instruktur.
Karena itulah, KRI Ki Hajar Dewantara pernah menjadi semacam ‘kelas terapung’ bagi calon perwira TNI AL. Para taruna tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga merasakan langsung bagaimana navigasi, kehidupan di laut, hingga operasional kapal tempur dijalankan.
Setelah puluhan tahun mengabdi, KRI Ki Hajar Dewantara akhirnya dipensiunkan pada 2019. Dengan status tersebut, kapal ini kini lebih tepat dilihat sebagai bagian dari sejarah perjalanan TNI AL ketimbang sebagai kapal tempur aktif.
Riwayatnya tetap penting karena KRI Ki Hajar Dewantara pernah menjalankan dua fungsi sekaligus: menjaga kepentingan pertahanan Indonesia dan menjadi sarana pendidikan bagi generasi calon perwira TNI AL.
Di tengah upaya pemerintah memperkuat industri dan alutsista nasional, keberadaan kapal-kapal lama seperti KRI Ki Hajar Dewantara juga menjadi pengingat bahwa aset pertahanan tidak hanya memiliki nilai material, tetapi juga menyimpan sejarah panjang pengabdian.
Adapun mengenai narasi bahwa Presiden Prabowo secara langsung akan menjual KRI Ki Hajar Dewantara, informasi tersebut perlu dibedakan dari pernyataan Prabowo mengenai sejumlah industri pertahanan nasional yang pernah hendak dijual. Sampai saat ini, belum ditemukan sumber tepercaya yang mengonfirmasi Prabowo secara spesifik memerintahkan penjualan KRI Ki Hajar Dewantara.
























