Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara terkait pengelompokan desil yang disorot masyarakat, karena dinilai tidak sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat yang sebenarnya.
Airlangga mengatakan, pengelompokan desil masyarakat itu sudah mengacu pada basis data dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Desil itu basisnya sensus ekonomi, sudah ada DTSEN,”
ujar Airlangga di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ketika ditanya, apakah penentuan desil tersebut sudah sesuai dengan tingkat pengeluaran, aset yang dimiliki, atau indikator ekonomi lainnya, Airlangga hanya mengatakan bahwa data tersebut sudah berdasarkan survei.
Ya itu berdasarkan survei,”
tuturnya.
Diprotes Masyarakat


Adapun sejumlah masyarakat di media sosial menyoroti ketidaksesuaian kategori desil dan kondisi sebenarnya. Misalnya saja di X, @keluhkesahkonoh mengaku heran atas kategori desil orang tuanya.
Mamaku single parent dengan gaji Rp1,4 juta per bulan, tapi herannya kami malah dapet desil 9 aneh banget. KIP kuliahku terancam gagal karena desilnya terlalu tinggi padahal seharusnya kami masuk desil 3,”
tulisnya.
Gue desil 10 gaji Rp3 juta per bulan kenapa bisa, cara ubahnya gimana ya?,”
tulis @adriahass.
Berikut ini pembagian kategori desil:
- Desil 1: kelompok masyarakat miskin ekstrem atau 10 persen penduduk dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
- Desil 2: kelompok masyarakat miskin.
- Desil 3: kelompok masyarakat yang tergolong hampir miskin.
- Desil 4: kelompok masyarakat rentan miskin.
- Desil 5: kelompok ekonomi menengah ke bawah.
- Desil 6: kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan menengah.
- Desil 7: kelompok masyarakat menengah.
- Desil 8: kelompok masyarakat menengah ke atas.
- Desil 9: kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan relatif tinggi.
- Desil 10: kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.























