Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendorong pemerintah memperkuat pemetaan risiko di wilayah terdampak.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada perbaikan rumah dan fasilitas publik yang rusak, tetapi juga mempertimbangkan tingkat kerawanan wilayah terhadap potensi guncangan berikutnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerjunkan tim teknis ke sejumlah lokasi terdampak untuk melakukan pemetaan dan pengkajian kondisi wilayah secara lebih mendalam.
Kami bergerak cepat berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, BNPB, Kemendagri, serta unsur Forkopimda demi memastikan keselamatan warga dan menyajikan data faktual yang komprehensif,”
kata Faisal, dalam keterangannya, Selasa, 25 Agustus 2026.
BMKG melakukan survei lapangan yang tak hanya diarahkan untuk melihat dampak gempa terhadap bangunan. Tim juga mempelajari karakteristik tanah serta kondisi bawah permukaan yang bisa memengaruhi respons suatu wilayah ketika terjadi guncangan.
Data itu jadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan dan pemulihan di wilayah terdampak. Informasi mengenai kondisi tanah dan bawah permukaan juga bisa jadi bahan pertimbangan dalam memperkuat upaya mitigasi bencana ke depan.
Dalam survei itu, BMKG melakukan pengukuran makroseismik untuk memverifikasi tingkat guncangan sekaligus mendokumentasikan dampak kerusakan bangunan. Sementara itu, survei mikroseismik dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik tanah dan struktur bawah permukaan.
Tim BMKG juga menggunakan metode mikrotremor dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW). Pengukuran ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi tanah yang bisa memengaruhi respons wilayah ketika terjadi guncangan gempa.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensi, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu mengatakan survei dilakukan di sejumlah wilayah terdampak. Salah satunya Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Nagekeo, serta wilayah lain di sekitar Flores.
Dari pemetaan awal, BMKG menemukan kerusakan pada sejumlah rumah masyarakat, fasilitas publik, dan bangunan lainnya. Namun, hasil tersebut masih bersifat sementara karena tim masih melakukan verifikasi di lapangan.
Tim BMKG terus memverifikasi dan mengumpulkan data untuk memperoleh gambaran mengenai distribusi tingkat guncangan, karakteristik kondisi tanah, serta pola kerusakan yang terjadi,”
ujar Teguh.
Menurutnya, data hasil survei tersebut penting untuk memberikan gambaran mengenai bagaimana suatu wilayah merespons guncangan gempa. Meski demikian, pemeriksaan keamanan struktur bangunan tetap menjadi kewenangan tenaga teknis terkait.
Instansi atau tenaga teknis yang memiliki kewenangan di bidang struktur bangunan tetap harus memeriksa keamanan struktur bangunan secara lebih detail,”
jelasnya.
Selain memetakan kondisi tanah dan kerusakan bangunan, BMKG juga melakukan survei tsunami untuk memperoleh informasi lapangan mengenai kondisi pesisir serta memverifikasi perubahan muka air laut setelah gempa.
Sementara, Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan survei teknis tersebut tak berdiri sendiri. BMKG juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kondisi kegempaan terkini.
BMKG juga mendampingi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, dan BPBD setempat dalam peninjauan lapangan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kondisi kegempaan terkini, sekaligus memperkuat upaya terpadu dalam penanganan pascabencana,”
ujar Nelly.
Saat ini, tim survei masih melakukan pengukuran di sejumlah lokasi. Seluruh hasil pengukuran nantinya akan dianalisis secara komprehensif dan disusun menjadi kajian teknis pascagempa bumi.
Kajian tersebut diharapkan bisa jadi salah satu bahan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menentukan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak. Dengan demikian, proses pemulihan tidak hanya berorientasi pada membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi juga memperkuat mitigasi dan mengurangi risiko bencana di masa depan.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada. Warga juga diminta menjauhi bangunan yang rusak atau mengalami retak signifikan sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.

























