Kemarau yang melanda sejumlah wilayah Indonesia membuat risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat akibat asap dan kualitas udara yang menurun.
Di tengah kondisi tersebut, umat Islam mengenal salat istisqa sebagai salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.
Lantas, apa itu salat istisqa dan bagaimana tata cara serta doa yang dibaca, melansir dari laman Kementrian Agama RI, berikut penjelasannya.
Salat Istisqa
Salat istisqa merupakan salat sunnah yang dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT. agar menurunkan hujan ketika terjadi kekeringan atau hujan tidak kunjung turun. Secara bahasa, istisqa berarti meminta curahan air atau hujan.
Pelaksanaan salat istisqa telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW. pernah keluar untuk memohon hujan, kemudian melaksanakan salat dua rakaat tanpa azan dan iqamah. Setelah itu, beliau menyampaikan khutbah dan berdoa kepada Allah SWT.
Waktu Pelaksanaan
Salat istisqa dapat dilaksanakan ketika masyarakat mengalami kekeringan dan hujan tidak kunjung turun. Pelaksanaannya dilakukan pada siang hari, dengan waktu yang dianjurkan serupa dengan pelaksanaan salat Id, yakni setelah matahari terbit.
Sejumlah ulama juga membolehkan pelaksanaannya pada sore hari. Namun, salat ini tidak dilakukan pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan salat, seperti ketika matahari tepat berada di atas kepala dan ketika matahari menjelang terbenam.
Tata Cara Salat Istisqa
Pelaksanaan salat istisqa pada dasarnya menyerupai salat Id. Sebelum melaksanakannya, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar, bertobat, dan memohon ampun kepada Allah SWT. Berikut tata cara salat istisqa:
1. Berpuasa selama tiga hari. Pemerintah atau pemimpin masyarakat dapat mengimbau umat Islam untuk melaksanakan puasa sebagai bagian dari persiapan.
2. Berkumpul di lapangan pada pagi hari. Pada hari keempat, jamaah berkumpul untuk melaksanakan salat istisqa secara berjamaah.
3. Membaca niat salat istisqa. Niat yang dapat dibaca adalah:
أُصَلِّي سُنَّةَ الْاسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal istisqaa’i rak’ataini mustaqbilal qiblati imaaman/makmuuman lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku berniat shalat sunnah istisqa dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Ta’ala.”
4. Melaksanakan dua rakaat salat. Tata caranya menyerupai salat Id. Setelah takbiratul ihram, imam bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, kemudian dilanjutkan dengan rukuk, sujud, tahiyat, dan salam.
5. Mendengarkan khutbah. Setelah shalat selesai, khatib menyampaikan dua khutbah yang di antara keduanya diselingi duduk.
Dalam khutbah tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, bertobat, dan memohon kepada Allah SWT. agar hujan segera diturunkan serta kesulitan akibat kekeringan diangkat.
Pada bagian doa, khatib disunnahkan menghadap kiblat, membalikkan posisi selendang atau sorban, dan mengangkat kedua tangan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT.
Doa Memohon Hujan
Ketika kekeringan berlangsung, umat Islam juga dapat memanjatkan doa agar kesulitan yang dialami manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan segera diangkat oleh Allah SWT.
اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ وَالْبَهَائِمِ وَالْخَلْقِ مِنَ الْبَلَاءِ وَالْجُهْدِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ
Allahumma inna bil-‘ibaadi wal-bilaadi wal-bahaa’imi wal-khalqi minal-balaa’i wal-juhdi wadh-dhanki maa laa nasykuu illaa ilaika.
Artinya: “Ya Allah, sungguh banyak hamba, negeri, hewan, dan segenap makhluk lainnya mengalami bencana, paceklik, dan kesempitan yang tidak kami adukan selain kepada-Mu.”





















