Kelainan bawaan pada bayi kini dapat ditangani bahkan sebelum persalinan. Tim dokter Indonesia berhasil melakukan open fetal surgery atau operasi janin terbuka untuk memperbaiki myelomeningocele, salah satu bentuk paling berat dari spina bifida yang dapat menyebabkan kerusakan saraf hingga kelumpuhan.
Tindakan tersebut dilakukan saat janin masih berada di dalam kandungan ibu. Operasi berlangsung di RSAB Harapan Kita, Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2026, melalui kolaborasi tim multidisiplin RSAB Harapan Kita dengan Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia.
Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono mengatakan keberhasilan tersebut menjadi tonggak baru dalam penanganan kelainan bawaan karena terapi dapat dilakukan sebelum bayi dilahirkan.
“Ini adalah operasi pertama di Indonesia, fetal open surgery, artinya operasi janin secara terbuka ketika masih berada di dalam kandungan. Ini merupakan terobosan yang luar biasa dan semua dilakukan oleh dokter-dokter Indonesia,”
ujar Dante dalam keterangan resmi, dikutip pada Senin, 31 Agustus 2026.
Myelomeningocele merupakan kelainan bawaan ketika tulang belakang dan jaringan saraf janin tidak menutup secara sempurna selama perkembangan di dalam kandungan.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan fungsi saraf, kelumpuhan, gangguan fungsi kandung kemih dan usus, serta meningkatkan risiko terjadinya hidrosefalus setelah bayi lahir.
Kelainan ini dapat diketahui sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG) fetomaternal. Setelah diagnosis ditegakkan, calon pasien harus menjalani serangkaian pemeriksaan dan skrining, termasuk pemeriksaan terhadap kemungkinan kelainan genetik, sebelum diputuskan apakah memenuhi indikasi untuk menjalani bedah janin.
Batas Waktu
Ketua Tim Obstetri dan Ginekologi RSAB Harapan Kita, dr. Gatot Abdurrazak, mengatakan pasien yang menjalani operasi tersebut dirujuk setelah kelainan spina bifida ditemukan ketika usia kehamilan mencapai 18 minggu.
Kondisi tersebut harus segera ditindaklanjuti karena terdapat batas usia kehamilan untuk melakukan tindakan.
“Untuk pasien ini, datang dikirim oleh sejawat dengan kelainan spina bifida pada usia kehamilan 18 minggu. Ini menjadi kesempatan untuk melakukan repair karena waktunya hanya sampai 26 minggu. Kami bergerak cepat dan mendapat dukungan penuh dari manajemen serta seluruh tim,”
ujar Gatot.
Pada open fetal surgery, ibu terlebih dahulu mendapatkan anestesi. Dokter kemudian membuka rahim secara terkontrol untuk mengakses janin.
Setelah bagian yang mengalami myelomeningocele diakses, dokter melakukan perbaikan terhadap kelainan tersebut. Setelah tindakan selesai, janin dikembalikan ke dalam rahim, kemudian rahim ditutup kembali dan ditempatkan kembali ke dalam tubuh ibu.
Tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan ibu dan janin. Karena janin masih berada dalam kandungan, stabilitas janin selama operasi menjadi salah satu faktor paling krusial.
Ketua Tim Bedah Saraf RSAB Harapan Kita, dr. Alfi Aulia Rahmah, berujar keberhasilan operasi tidak dapat dilepaskan dari kerja banyak disiplin ilmu. Tim yang terlibat mencakup dokter bedah saraf, dokter fetomaternal, dokter obstetri dan ginekologi, dokter anestesi, perawat, serta tenaga penunjang lain.
“Pekerjaan ini bukan hanya pekerjaan bedah saraf. Semua memiliki peran yang sangat penting. Pada tindakan intrauterin, yang krusial adalah menjaga janin tetap stabil. Apabila janin tidak stabil, operasi harus dihentikan,”
jelas Alfi.
Bedah janin untuk myelomeningocele dilakukan bukan semata-mata untuk menghilangkan kelainan sebelum bayi lahir. Tindakan tersebut ditujukan untuk mencegah kerusakan saraf berkembang lebih jauh selama janin masih berada di dalam rahim.
Alfi menjelaskan myelomeningocele merupakan bentuk spina bifida yang paling berat. Dengan memperbaiki lebih awal, dokter berharap risiko kerusakan saraf dan komplikasi jangka panjang dapat ditekan.
Salah satu komplikasi yang menjadi perhatian adalah hidrosefalus, selain gangguan fungsi anggota gerak, kandung kemih, dan usus.
Keberhasilan tindakan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang RSAB Harapan Kita dalam mengembangkan terapi janin.
Ketua Tim Obstetri dan Ginekologi RSAB Harapan Kita, dr. Gatot Abdurrazak, mengatakan rumah sakit tersebut telah mengembangkan kemampuan terapi janin sejak bertahun-tahun lalu.
RSAB Harapan Kita mulai melakukan transfusi intrauterin sejak 2005 dan mengembangkan tindakan fetoskopik sejak 2011. Berbagai tindakan fetal treatment juga telah dilakukan, termasuk vesicoamniotic shunting, thoracoamniotic shunting, dan fetoskopik laser untuk menangani twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS). Hingga kini, sekitar 200 kasus fetoskopik laser telah ditangani di RSAB Harapan Kita.
Tak Harus di Luar Negeri
Wamenkes Dante mengatakan keberhasilan open fetal surgery menunjukkan kemampuan dokter dan teknologi kesehatan Indonesia telah berkembang hingga mampu menangani kasus yang sebelumnya banyak dirujuk ke luar negeri.
“Teknologi sudah luar biasa, dokter-dokter di Indonesia juga sudah mampu. Ini menjadi kado 17 Agustus bagi dunia kedokteran Indonesia bahwa (bangsa ini) sudah bisa melakukan fetal open surgery pada bayi pertama Indonesia,”
ujar Dante.
Operasi tersebut juga melibatkan tim dari Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia. Maternal Fetal Medicine Dr. Glenn Radford mengatakan kolaborasi dilakukan untuk meningkatkan luaran kesehatan anak dengan spina bifida.
“Kemarin, dalam sebuah peristiwa bersejarah di Indonesia, kami bekerja sama dengan rekan-rekan dari Harapan Kita untuk melakukan operasi pertama, dan hasilnya sangat baik. Kami tidak mengalami komplikasi apa pun,”
tutur Glenn.
Kolaborasi dengan tim Australia diharapkan tidak berhenti pada operasi pertama. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas dokter Indonesia agar layanan bedah janin dapat dilakukan secara mandiri.
Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, mengatakan setelah tim dari Australia kembali ke negaranya, RSAB Harapan Kita ditargetkan dapat melanjutkan layanan tersebut dengan kemampuan sendiri.
“Multidisiplin kami sudah siap. Setelah ini RSAB akan melanjutkan dengan pasien-pasien berikutnya dan juga menularkan kemampuan ini ke rumah sakit-rumah sakit lain yang memiliki keunggulan di bidang fetomaternal,”
ujarnya.
Deteksi Dini Jadi Kunci
Pengembangan layanan operasi janin sekaligus mempertegas pentingnya deteksi kelainan bawaan sejak masa kehamilan.
Dengan pemeriksaan kehamilan dan USG fetomaternal, kelainan seperti myelomeningocele dapat diketahui sebelum bayi lahir. Diagnosis lebih awal memberikan kesempatan bagi dokter untuk mengevaluasi dan menentukan pilihan terapi sesuai kondisi ibu dan janin.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, dr. Azhar Jaya, mengatakan pengembangan layanan kedokteran berteknologi tinggi perlu dibarengi penguatan kompetensi dan jejaring antar-rumah sakit.
Dia berpendapat pengembangan layanan advanced juga didukung melalui transformasi manajemen rumah sakit pemerintah, termasuk pengembangan kompetensi, pelatihan, dan program pengampuan.
“Uang kelebihan daripada RSAB ini akan dikembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan dan pengampuan,”
kata Azhar.
Melalui program pengampuan, kemampuan pelayanan kedokteran berteknologi tinggi diharapkan tidak hanya terpusat di satu rumah sakit. Kompetensi tersebut secara bertahap dapat ditularkan kepada rumah sakit lain yang memiliki kemampuan di bidang fetomaternal.
Keberhasilan open fetal surgery untuk myelomeningocele dengan demikian bukan hanya menjadi catatan pertama dalam sejarah kedokteran Indonesia. Tindakan tersebut berpeluang menangani kelainan bawaan dilakukan sedini mungkin, bahkan ketika bayi masih berada di dalam kandungan, dengan tetap mengutamakan keselamatan ibu dan janin.
























