Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan bahaya paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terhadap anak-anak.
Kelompok tersebut dinilai paling rentan karena paru-paru dan sistem kognitif mereka masih dalam tahap perkembangan.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, mengatakan paparan asap Karhutla mengandung berbagai polutan berbahaya, termasuk partikel halus termasuk partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun.
Polutan tersebut dapat masuk ke sistem pernapasan hingga peredaran darah.
Anak-anak adalah kelompok yang paling berisiko karena paru-paru dan sistem kognitif mereka masih dalam tahap perkembangan,”
tegas Then dalam keterangannya dikutip Senin, 31 Agustus 2026.
Penyakit Bawaan
Menurut Then, risiko kesehatan akibat paparan asap juga mengancam kelompok rentan lainnya, yakni lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit bawaan atau komorbid.
Pada lansia, paparan polutan ekstrem dapat memperberat penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Selain itu, polusi udara dapat memicu gangguan kardiovaskular, peningkatan tekanan darah, gangguan gastrointestinal, hingga iritasi mata dan kulit.
Ancaman kesehatan tersebut terjadi ketika Karhutla masih melanda sejumlah wilayah Indonesia. Kemenkes mencatat dampak Karhutla terjadi di tujuh provinsi, sementara puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Juli hingga September 2026 meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.
Dampak penurunan kualitas udara juga terlihat dari tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
321 Tenaga Kesehatan
Mengantisipasi peningkatan gangguan kesehatan, Kemenkes telah memobilisasi 321 tenaga kesehatan tambahan untuk memperkuat pelayanan di puskesmas dan rumah sakit rujukan di wilayah terdampak.
Kemenkes juga mendistribusikan berbagai logistik kesehatan, termasuk 262.000 masker medis dan N95, 119 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang sarung tangan medis, serta 4.900 set alat pelindung diri (APD).
Selain itu, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) diberikan kepada kelompok rentan, termasuk ibu hamil, balita, dan lansia untuk membantu menjaga kondisi tubuh selama kualitas udara memburuk.





















