Dalam lima tahun ke depan, Indonesia akan mengejar investasi jumbo hingga Rp13.000 triliun untuk ekosistem industri otomotif, khususnya kendaraan listrik.
Dengan adanya perubahan rantai pasok industri otomotif global, target ini jadi peluang bagi Indonesia untuk tidak sekadar menjadi pasar kendaraan, tetapi juga basis produksi mobil listrik dan hibrida.
Anggota Komisi XII DPR RI Moreno Soeprapto menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk menarik investasi manufaktur otomotif global, karena punya pasar domestik yang besar, hingga sumber daya mineral yang jadi komponen penting dalam pembangunan ekosistem kendaraan listrik.
Namun, Moreno menilai keunggulan ini jangan sampai hanya membuat Indonesia menjadi negara tujuan penjualan mobil listrik.
Kita tidak boleh sekadar jadi pasar penjualan, tapi harus mampu menarik mereka membangun pabrik dan ekosistem otomotif berkelas dunia di sini, baik roda dua maupun roda empat,”
kata Moreno dikutip dari laman DPR pada 2 September 2026.
Target Investasi
Sementara itu Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rosan Roeslani mengatakan pemerintah menaikkan target investasi untuk lima tahun mendatang menjadi Rp13.000 triliun untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Ia mengungkapkan pemerintah terus berupaya menjaga iklim investasi dan kepastian hukum, agar investor global tetap tertarik untuk menanamkan modal di Indonesia.
Moreno melihat perubahan rantai pasok global sebagai momentum yang tidak boleh dilewatkan. Pergeseran basis produksi akibat dinamika geopolitik dinilai dapat membuka peluang Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat manufaktur otomotif di kawasan.
Bagi industri otomotif, investasi yang masuk idealnya tidak berhenti pada pembangunan jaringan penjualan atau menjadikan Indonesia sebagai pasar konsumen.
Fasilitas Produksi
Pemerintah mendorong agar investor membangun fasilitas produksi dan ekosistem industri di dalam negeri.
Dengan begitu, Indonesia tidak hanya mendapatkan keuntungan dari penjualan kendaraan, tetapi juga dari aktivitas manufaktur, rantai pasok komponen, hingga penciptaan lapangan kerja.
Moreno juga meminta pemerintah mempercepat kesiapan kawasan industri, infrastruktur logistik, serta regulasi yang memberikan kepastian bagi investor.
Salah satu kawasan yang disebut adalah Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang yang dinilai dapat dipersiapkan untuk menampung ekspansi manufaktur, termasuk industri otomotif.
Saat ini negara-negara di kawasan Asia Tenggara sedang berlomba menarik investasi manufaktur otomotif global. Karena itu, Indonesia dituntut bergerak cepat dengan menawarkan lebih dari sekadar pasar yang besar.
Ketersediaan bahan baku, kawasan industri, infrastruktur logistik, kepastian regulasi, serta ekosistem pemasok komponen merupakan faktor penting jika Indonesia ingin naik kelas dari pasar kendaraan listrik menjadi basis produksi EV.
Moreno pun mengingatkan agar Indonesia tidak kalah cepat dari negara tetangga yang terus memperbaiki kebijakan untuk menarik investor.





















