Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 3 Sep 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • DPR
  • Sepak Bola
  • KPK
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Prabowo Subianto
  • Purbaya
  • Piala Dunia 2026
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Ekonomi Bisnis / Angka Kemiskinan Bank Dunia dan BPS Beda Jauh, Ternyata Ini Sebabnya
Ekonomi Bisnis

Angka Kemiskinan Bank Dunia dan BPS Beda Jauh, Ternyata Ini Sebabnya

Nisa-OWRITEdusep-malik
Last updated: September 3, 2026 1:40 pm
By
Anisa Aulia
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi bisnis, dengan fokus isu ekonomi makro...
Follow:
Dusep Malik
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Follow:
3 jam lalu
Share
Seorang warga berdiri di depan rumahnya usai menjemur pakaian di Kampung Pemulung Cikiwul, Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Sumber: Antara Foto/Darryl Ramadhan/tom)
Seorang warga berdiri di depan rumahnya usai menjemur pakaian di Kampung Pemulung Cikiwul, Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Sumber: Antara Foto/Darryl Ramadhan/tom)
SHARE

Badan Pusat Statistik (BPS) buka suara, terkait perbedaan angka garis kemiskinan Indonesia yang dirilis oleh Bank Dunia dengan yang dihitung oleh BPS. Perbedaan itu terjadi karena kedua lembaga menggunakan garis kemiskinan serta metode pengukuran yang berbeda.

Daftar isi Konten
  • Kemiskinan BPS Vs Bank Dunia
  • Cara Penghitungan BPS

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, M. Nashrul Wajdi mengatakan bahwa angka yang disampaikan oleh Bank Dunia dihitung bukan berdasarkan garis kemiskinan nasional Indonesia.

Garis kemiskinan tersebut dihitung berdasarkan standar yang ditetapkan World Bank, bukan garis kemiskinan nasional yang digunakan di Indonesia. Nilainya ditetapkan berdasarkan standar kemiskinan yang umum digunakan di negara-negara dalam kelompok pendapatan menengah atas, dan digunakan terutama untuk membandingkan kondisi antarnegara,”

ujar Nashrul dalam keterangannya Kamis, 3 September 2026.
Baca juga:
DPR Desak BPS Tuntaskan Sanggah Desil Maksimal Dua Minggu Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani mendesak Badan Pusat…
DPR Sebut Anggaran BPS Rp6,4 Triliun Masih 'Kurus': Banyak Program… Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani berkata anggaran Badan…
Wisman ke RI Tembus 1,52 Juta pada Juli 2026, BPS:… Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang melancong ke Indonesia mencapai 1,52 juta kunjungan…
  • DPR Desak BPS Tuntaskan Sanggah Desil Maksimal Dua Minggu
  • DPR Sebut Anggaran BPS Rp6,4 Triliun Masih 'Kurus': Banyak Program Belum Masuk…
  • Wisman ke RI Tembus 1,52 Juta pada Juli 2026, BPS: Tertinggi Sejak…

Kemiskinan BPS Vs Bank Dunia

Bank Dunia dalam rilis terakhirnya menyebut 64,2 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Angka tersebut berasal dari Macro Poverty Outlook edisi April 2026 dan merupakan proyeksi untuk tahun 2026 dengan menggunakan garis kemiskinan sebesar US$8,30 per kapita per hari berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) 2021.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang.

Nashrul menekankan bahwa perbedaan tersebut perlu disikapi dengan bijak dan hati-hati. Sebab, kedua angka itu disusun menggunakan standar kemiskinan yang berbeda dan ditujukan untuk kebutuhan yang berbeda, sehingga keduanya tidak dapat dibandingkan secara langsung sebagai satu ukuran kemiskinan yang sama.

Ia menilai, Bank Dunia menggunakan beberapa garis kemiskinan internasional untuk membandingkan kondisi kesejahteraan penduduk antarnegara.

Dalam pembaruan terbaru, Bank Dunia menggunakan garis US$3,00 per kapita per hari untuk mengukur kemiskinan ekstrem, US$4,20 untuk kelompok negara berpendapatan menengah bawah, dan US$8,30 untuk kelompok negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income countries/UMIC).

Selain itu, perlu diingat pula bahwa angka US$8,30 juga bukan dikonversikan menggunakan kurs rupiah terhadap dolar yang berlaku di pasar. Bank Dunia menggunakan Purchasing Power Parity (PPP), yaitu metode yang memperhitungkan perbedaan daya beli antarnegara,”

tekannya.
Warga melintas di salah satu permukiaman padat penduduk Kwitang, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Salma Talita/YU)
Warga melintas di salah satu permukiaman padat penduduk Kwitang, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Salma Talita/YU)

Nashrul menjelaskan, angka kemiskinan Indonesia sebesar 64,2 persen diperoleh dari estimasi tingkat kemiskinan dengan menggunakan standar sebesar US$8,30 (PPP 2021) yang disusun berdasarkan median garis kemiskinan negara-negara berpendapatan menengah atas. Bukan berdasarkan kebutuhan dasar penduduk Indonesia secara spesifik.

Maka dari itu, bila menerapkan standar global Bank Dunia ke dalam penghitungan kemiskinan Indonesia akan menghasilkan jumlah penduduk miskin yang cukup tinggi.

Bank Dunia sendiri menyatakan bahwa untuk pengambilan keputusan dan kebijakan dalam negeri di Indonesia, garis kemiskinan nasional dan statistik kemiskinan yang dihasilkan oleh BPS lebih tepat digunakan,”

tegasnya.

Ia melanjutkan, meski Indonesia saat ini berada pada klasifikasi negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income country/UMIC) dengan Gross National Income (GNI) per kapita sebesar US$5.120 pada tahun 2025.

Namun, posisi Indonesia baru naik kelas ke kategori UMIC dan hanya sedikit di atas batas bawah kategori UMIC, yang range nilainya cukup lebar, yaitu antara US$4.636-US$14.375 (tahun 2025, dirilis pada 1 Juli 2026).

Sehingga, bila standar kemiskinan global Bank Dunia diterapkan, akan menghasilkan jumlah penduduk miskin yang cukup tinggi,”

jelasnya.

Cara Penghitungan BPS

Petugas mendata warga saat pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Palembang, Sumatera Selatan. (Sumber: Antara Foto/Nova Wahyudi/nz)
Petugas mendata warga saat pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Palembang, Sumatera Selatan. (Sumber: Antara Foto/Nova Wahyudi/nz)

Nashrul menjelaskan, BPS mengukur kemiskinan di Indonesia dengan pendekatan kebutuhan dasar atau Cost of Basic Needs (CBN). Jumlah rupiah minimum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar ini dinyatakan dalam garis kemiskinan. Garis kemiskinan dihitung berdasarkan pengeluaran minimum untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non-makanan.

Komponen makanan didasarkan pada standar konsumsi minimal 2.100 kilokalori per orang per hari, disusun dari komoditas umum seperti beras, telur, tahu, tempe, minyak goreng, dan sayur, sesuai pola konsumsi rumah tangga Indonesia. Komponen non-makanan mencakup kebutuhan minimum untuk tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, pakaian, dan transportasi.

Garis kemiskinan juga dihitung berdasarkan hasil pendataan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang memotret atau mengumpulkan data tentang pengeluaran serta pola konsumsi masyarakat. Susenas dilaksanakan 2 kali dalam setahun.

Oleh karenanya, garis kemiskinan yang dihitung oleh BPS dapat mencerminkan kebutuhan riil masyarakat Indonesia,”

ujarnya.

Ia menerangkan, penghitungan serta rilis angka garis kemiskinan BPS dilakukan secara rinci berdasarkan wilayah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, dengan membedakan antara perkotaan dan perdesaan.

Adapun per Maret 2026, BPS mencatat persentase penduduk miskin Indonesia sebesar 8,07 persen atau 22,93 juta orang. Secara rata-rata nasional, garis kemiskinan rumah tangga adalah Rp3.091.866 per bulan.

Baca juga:
Usai Dua Bulan Defisit, BPS Lapor Neraca Perdagangan RI Juli… Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$0,12…
BPS Umumkan Inflasi RI Naik Jadi 3,19 Persen di Agustus… Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia pada Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar…
Setelah 2 Bulan Defisit, Neraca Dagang RI Diramal Balik Surplus… Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia akan mencatatkan…
  • Usai Dua Bulan Defisit, BPS Lapor Neraca Perdagangan RI Juli 2026 Surplus…
  • BPS Umumkan Inflasi RI Naik Jadi 3,19 Persen di Agustus 2026, Gegara…
  • Setelah 2 Bulan Defisit, Neraca Dagang RI Diramal Balik Surplus US$0,96 Miliar
Tag:Bank DuniaBPSDaya BeliKemiskinanKemiskinan Ekstremnegara berkembang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Follow:
Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi bisnis, dengan fokus isu ekonomi makro serta berbagai kebijakan ekonomi yang memengaruhi dunia usaha dan perekonomian Indonesia.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Julukan Prabowo ‘Asbun’ hingga Gibran ‘Kosong’ Muncul, Ada Pesan Serius di Balik Satire Netizen
By Rika Pangesti
Ilustrasi kamus ala warga Threads.
1
Jangan Sampai Terbalik, Ini Urutan Pakai Skincare yang Tepat
By Ossid Duha Jussas Salma
Ilustrasi memakai skincare
2
40.759 Orang Diduga Keracunan MBG, JPPI: Ganti Kepala BGN Tak Selesaikan Masalah
By Natania Longdong
Seorang siswa menjalani perawatan karena diduga keracunan makanan di salah satu Rumah Sakit
3
Seluruh Gugatan Praperadilan Ditolak, Kubu Febrie : Makin Cepat Disidangkan Makin Bagus
By Rahmat Baihaqi
Tersangka yang merupakan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah (kanan) berjalan menuju mobil tahanan di Rutan Cabang KPK, Jakarta, Jumat (7/8/2026).
4
Benarkah Vaksin HPV Sebabkan Kerusakan Saraf hingga Kemandulan? Ini Penjelasan Epidemiolog
By Syifa Fauziah
Petugas kesehatan menunjukkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) di SLB/E Prayuwana, Kraton, Yogyakarta
5

BERITA LAINNYA

Bahan Bakar Avtur
Ekonomi Bisnis

Harga Avtur Naik, Fuel Surcharge Tiket Pesawat Kini Bisa Tembus 40 Persen

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan melakukan evaluasi terhadap kebijakan Fuel Surcharge…

iren natania longdongdusep-malik
By
Natania Longdong
Dusep Malik
8 menit lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kemenkeu (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Ekonomi Bisnis

Purbaya Ogah Jalankan Tax Amnesty: Selama Saya Jadi Menkeu Nggak Ada!

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah tidak memiliki rencana untuk kembali…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
19 menit lalu
Seorang pria berjalan di atas layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Ekonomi Bisnis

Kompak Hijau, IHSG Ditutup Menguat 1,09 Persen dan Rupiah Perkasa Rp17.679 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak menguat pada…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
29 menit lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (sumber: owrite/Anisa Aulia)
Ekonomi Bisnis

Purbaya Beri Sinyal Pangkas Lagi Anggaran MBG di Bawah Rp200 Triliun, Ini Cara yang Dipakai

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi sinyal akan kembali memangkas anggaran program…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
1 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up