Saat berkunjung ke Jepang, wisatawan mungkin akan sering melihat orang membungkukkan badan ketika bertemu, menyapa, berterima kasih, atau meminta maaf.
Gerakan tersebut dikenal sebagai ojigi, salah satu kebiasaan yang lekat dengan kehidupan masyarakat Jepang.
Bagi orang Jepang, ojigi bukan sekadar gerakan membungkuk, tetapi menjadi salah satu cara untuk menunjukkan rasa hormat, kesopanan, dan penghargaan kepada orang lain.
Karena itu, ojigi dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan kerja hingga pelayanan di toko dan restoran.
Asal Usul Ojigi
Melansir dari laman Hataraku Japan (22 Juni 2022), istilah ojigi ditulis dalam bahasa Jepang sebagai お辞儀 yang mana berkaitan dengan kanji jigi (辞儀), yang merujuk pada tindakan membungkukkan badan sebagai bentuk tata krama atau penghormatan.
Tradisi membungkuk sendiri memiliki sejarah panjang dalam budaya Jepang dan berkembang sebagai bagian dari tata krama dalam kehidupan sosial.
Dalam perkembangannya, ojigi digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari menyapa, menunjukkan rasa hormat, berterima kasih, hingga meminta maaf.
Bukan Sekadar Membungkuk
Ojigi dilakukan dengan membungkukkan badan secara teratur sambil menjaga punggung tetap lurus. Pandangan diarahkan ke bawah saat membungkuk, kemudian kembali melihat lawan bicara setelah posisi tubuh tegak.
Gerakannya pun tidak selalu sama. Semakin dalam seseorang membungkukkan badan, biasanya semakin besar rasa hormat, permintaan maaf, atau penghargaan yang ingin disampaikan.
Jenis ojigi yang digunakan disesuaikan dengan hubungan antara orang yang berinteraksi serta situasinya.
Jenis Ojigi
- Eshaku, Salam Sederhana Eshaku merupakan bentuk ojigi yang paling ringan dengan kemiringan sekitar 15 derajat. Gerakan ini biasa digunakan untuk memberikan salam atau menyapa orang yang dikenal, seperti teman maupun rekan kerja.
- Keirei, Bentuk Hormat Formal Berikutnya ada keirei dengan kemiringan sekitar 30 derajat. Jenis ini menunjukkan rasa hormat yang lebih besar dibandingkan eshaku. Keirei umum digunakan ketika seseorang berhadapan dengan atasan, orang yang lebih tua, klien, atau dalam situasi yang bersifat formal.
- Saikeirei, Hormat yang Sangat Dalam Saikeirei dilakukan dengan membungkukkan badan sekitar 45 derajat. Gerakan ini menunjukkan penghormatan atau penyesalan yang lebih mendalam.Karena sifatnya sangat formal, saikeirei tidak digunakan untuk percakapan biasa. Gerakan tersebut dapat muncul dalam situasi yang membutuhkan penghormatan tinggi atau ketika seseorang ingin menyampaikan permintaan maaf secara sungguh-sungguh.
Kehidupan Sehari-hari
Penggunaan ojigi cukup luas dalam kehidupan masyarakat Jepang. Selain menjadi cara untuk menyapa ketika bertemu atau berpisah, gerakan ini juga digunakan saat memperkenalkan diri, berterima kasih, meminta maaf, menyambut tamu, hingga menunjukkan penghargaan.
Kebiasaan tersebut membuat ojigi menjadi salah satu simbol kesopanan yang mudah dikenali dari budaya Jepang.
Gerakan sederhana ini menunjukkan bagaimana bahasa tubuh dapat memiliki makna penting dalam membangun hubungan sosial.




















